Motto

Hidup adalah pembelajaran tak kenal henti....

Friday, January 13, 2012

SISTEM PEMIKIRAN FILSAFAT TENTANG MANUSIA DAN MASYARAKAT

A. Definisi Pragmatisme
Menurut Kamus Ilmiah Populer, Pragmatisme adalah aliran filsafat yang menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan), serta kebenaran yang mempunyai akibat – akibat yang memuaskan. Sedangkan, definisi Pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara berguna.

B. Pengertian Pragmatisme

Istilah Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani “ Pragma” yang berarti perbuatan ( action) atau tindakan (practice). Isme sendiri berarti ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikran itu menuruti tindakan.

C. Latar Belakang Pragmatisme
Pragmatisme telah membawa perubahan yang besar tehadap budaya Amerika dari lewat abad ke 19 hingga kini. Fasafah ini telah dipengaruhi oleh Charles Darwin dengan teori evolusinya dan Albert Estein dengan teori relativitasnya. Falsafah ini cenderung kepada falsafah Epistemologi (cabang dari filsafat yang menyelidiki sumber-sumber serta kebenaran pengetahuan) dan aksiologi (penyelidikan terhadap nilai atau martabat dan tindakan manusia) dan sedikit perhatian terhadap metafisik.
Pada awal perkembangannya, Pragmatisme lebih merupakan suatu usaha-usaha untuk menyatukan ilmu pengatahuan dan filsafat agar filsafat menjadi ilmiah dan berguna bagi kehidupan praktis manusia.
Sehubungan dengan masalah tersebut, Pragmatisme akhirnya berkembang menjadi suatu metode yang memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang hampir mewarnai seluruh perkembangan dan perjalanan filsafat sejak zaman yunani kuno (Guy W.Stroth :1968). Dalam usahanya (filsuf) untuk memecahkan masalah – masalah metafisik yang selalu menjadi bahasan berbagai filosofi itulah pragmatisme menemukan suatu metode yang spesifik (metode khusus) yaitu dengan mencari konsekuensi praktis dari setiap konsep atau gagasan dan pendirian yang di anut masing-masing pihak. Metode tersebut di terapkan dalam setiap bidang kehidupan manusia. Karena pragmatisme adalah suatu filsafat tentang tindakan manusia maka setiap bidang kehidupan manusia menjadi bidang penerapan dari filsafat pragmatisme.
Pada akhirnya filsafat ini lebih terkenal sebagai suatu metode dalam mengambil keputusan melakukan tindakan tertentu atau yang menyangkut kebijaksanaan tertentu.

D. Tokoh – tokoh Pragmatisme
Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1893-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

• Charles Sanders Peirce
Charles mempunyai gagasan bahwa suatu hipotesis (dugaan sementara/ pegangan dasar) itu benar bila bisa diterapkan dan dilaksanakan menurut tujuan kita. Horton dan Edwards di dalam sebuah buku yang berjudul Background of American literary thought(1974) menjelaskan bahwa peirce memformulasikan (merumuskan) tiga prinsip-prinsip lain yang menjadi dasar bagi pragmatisme sebagai berikut :

a. Bahwa kebenaran ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lebih daripada kemurnian opini manusia.
b. Bahwa apa yang kita namakan “universal “ adalah yang pada akhirnya setuju dan mnerima keyakinan dari “community of knowers “
c. Bahwa filsafat dan matematika harus di buat lebih praktis dengan membuktikan bahwa problem-problem dan kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam filsafat dan matematika merupakan hal yang nyata bagi masyarakat(komunitas)

• William James
William selain menamakan filsafatnya dengan “pragmatisme”, ia juga menamainya “empirisme radikal”.
Menurut James, pragatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa yag benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan perantaraan yang akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu asal saja membawa akibat praktis, misalnya pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistik, semuanya bisa diterima sebagai kebenaran, dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat.
Sedangkan empirisme radikal adalah suatu aliran yang harus tidak menerima suatu unsur alam bentuk apa pun yang tidak dialami secara langsung.
Dalam bukunya The Meaning of The Truth, James mengemukakan tidak ada kebenaran mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal, melainkan yang ada hanya kebenaran-kebenaran ‘plural’. Yang dimaksud kebenaran-kebenaran plural adalah apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.
Menurut James, ada dua hal kebenaran yang pokok dalam filsafat yaitu Tough Minded dan Tender Minded. Tough Minded dalam mencari kebenaran hanya lewat pendekatan empirirs dan tergantung pada fakta-fakta yang dapat ditangkap indera.Sementara, Tender Minded hanya mengakui kebenaran yang sifatnya berada dalam ide dan yang bersifat rasional.
Menurut James, terdapat hubungan yang erat antara konsep pragmatisme mengenai kebenaran dan sumber kebaikan. Selama ide itu bekerja dan menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan maka ide itu bersifat benar. Suatu ide dianggap benar apabila dapat memberikan keuntungan kepada manusia dan yang dapat dipercayai tersebut membawa kearah kebaikan.
Disamping itu pula, William James mengajukan prinsip-prinsip dasar terhadap pragmatisme, sebagai berikut:
a. Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak dapat di prediksi tetapi dunia benar adanya.
b. Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide tetapi sesuatu yang terjadi pada ide-ide daam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata.
c. Bahwa manusia bebas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya pada dunia, sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisny maupun penguasaan ilmu pengetahuannya.
d. Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketentuan yang absolut, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang dunia tempat kita tinggal didalamnya (Horton dan Edwards, 1974:172).


• John Dewey
Dewey adalah seorang pragmatis, namun ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah Instrumentalis. Menurutnya, tujuan filsafat adalah untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk didunia dan sekarang. Tegasnya, tugas fiilsafat yang utama ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (experience) , dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif kritis. Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun suatu system norma-norma dan nilai.
Instrumentalisme dalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran berfungsi dalam penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman-penglaman yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
Sehubungan hal diatas, menurut Dewey, penyelidikan adalah transformasi yang terawasi atau terpimpin dari suatu keadaan yang tak menentu menjadi suatu keadaan yang tertentu. Oleh karena itu, penyelidakan dengan penilannya adalah alat( instrumental) . jadi yang di maksud dengan instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yag bermacam-macam.

Menurut Dewey, kita hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaanya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meniliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme.
• Pertama, kata temporalisme yang berarti ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
• Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin.
• Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita. Pandangan ini juga dianut oleh wiliam James.

a). Konsep Dewey tentang Pengalaman dan Pikiran
Pengalaman (experience) adalah salah satu kata kunci dalam filsafat instrumentalisme. Filsafat Dewey adalah “mengenai” (about) dan “untuk” (for) pengalaman sehari-hari. Pengalaman adalah keseluruhan drama manusia dan mencakup segala proses “saling mempengaruhi” ( take and give) antara organisme yang hidup dalam lingkugan social dan fisik. Dewey menolak orang yang mencoba menganggap rendah pengalaman manusia atau menolak untuk percaya bahwa seseorang telah b erbuat demikian. Dewey mengatakan bahwa pengalaman bukannya suaatu tabir yang menutupi mansia sehingga tidak melihat alam; pengalaman adalah satu-satunya jalan bagan bagi manusia untuk memasuki rahasia-rahasia alam.

Dunia yang ada sekarang ini, yakni dunia pria dan wanita dunia sawah dan pabrik, dunia tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, dunia kita yang hiruk pikuk dan bangsa-bangsa yang berjuang adalah dunia pengalaman kita. Kita harus berusaha memakinya dan kemudian berusaha membeentuk sustu masyarakat dimana setiap orang dapat hidup dalam kemerdekaan dan kecedasan.
Dalam perjalanan pengalaman seseorng, pikiran selalu muncul untuk memmberikan arti dari sejumlah situasi-situasi yang terganggu oleh pekerjaan diluar hipotesis atau membimbing kepada perbuatan yang akan dilakukan. Kegunaan kerja pikiran, kataa Dewey, tidak lain hanya merupakan cara untuk jalan untuk melayani kehidupan. Makanya, ia denggan kerasnya menuntut untuk menggunakan metode ilmu alam (scientific method) bag semua lapangan pikiran, terutama dalam menilai persolan akhlak (etika), estetika, politik dan lain-lain. Dengan demikian, cara penilaian bisa berubah bisa disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan hidup.
Menurut Dewey, yang dimaksud dengan scientific method ialah cara yang dipakai oleh seseorang sehingga bisa melampaui segi pemikiran semata-mata pada segi amalan. Dengan demikian, suatu pikiran bisa di ajukan sebagaii pemecahan suatu kesulitan (to solve problematic situation), dan kalau berhasil maka pikiran itu benar.

b). Dewey dan Pendidikan progresif
Dewey memandang bahwa tipe Pragmatismenya di asumsikan sebagai sesuatu yang mempunyai jangkauan aplikasi dalam masyarakat. Contoh hal tersebut adalah bahwa Dewey menawarkan dua metode pendekatan dalm pengajaran yaitu:
• Problem solving method
Dengan metode ini, anak di hadapkan pada berbagai situasi dan masalah-masalah yang menantang, dan anak didik di beri kebebasan sepenuhnya untuk memecahkan masalah-masalah tersebut sesuai dengan perkembanganya. Dengan metode semacam ini, tidak hanya mengandalkan guru sebagai pusat informasi(metode pedagogy) di ambil alihlah oleh methode andragogy(studi tentang aturan ) yang lebih menghargai perbedaan individu anak didik.
• Learning by Doing
Konsep yang sangat di perlukan bagi anak didik, supaya anak didik tetap bisa eksis dalam masyarakat bila telah menyelesaikan pendidikannya maka mereka dibekali keterampilan-keterampilanpraktis sesuai dengan kebutuhan masyarakat sosial.

E. Analisis Kritis atas Kekuatan dan Kelemahan Pragmatisme

1) kekuatan Pragmatisme
a. kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan kontemporer, khususnya di Amerika Serikat, telah membawa kemajuan-kemnjuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan maupun teknologi.Pragmatisme telah berhasil membumikan filsafat dari corak sifat yang Tender Minded yang cenderung berfikir metafisis, idealis, abstrak, intelektualis, dan cenderung berfikir hal-hal yang memikirkan atas kenyataan, materialis, dan atas kebutuhan-kebutuhan dunia, bukan nnati di akhirat. Dengan demikan, filsafat pragmatisme mengarahkan aktivitas manusia untuk hanya sekedar mempercayai (belief) pada hal yang sifatnya riil, indriawi, dan yang memanfaatnya bisa di nikmati secara praktis-pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.

b. Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada. Barangkali dari sikap skeptis tersebut, pragmatisme telah mampu mendorong dan memberi semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-eksperimen sehingga munculllah temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan yang mampu mendorong secara dahsyat terhadap kemajuan di badang sosial dan ekonomi.

c. Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah percaya pada “kepercayaan yang mapan”. Suatu kepercyaan yang diterim apabila terbukti kebenarannya lewat pembuktian yang praktis sehingga pragmatisme tidak mengakui adanya sesuatu yang sakral dan mitos, Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompo pragmatisme merupakan pendukung terciptanyademokratisasi, kebebasan manusia dan gerakan-gerakan progresif dalam masyarakat modern.

2) Kelemahan Pragmatisme
a. Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat metafisika dan kebenaran absolute(kebenaran tunggal), hanya mengakui kebenaran apabilaa terbukti secara alamiah, dan percaya bahwa duna ini mampu diciptakan oleh manusia sendiri, secara tidak langsung pragmatisme sudah mengingkari sesuatu yang transendental(bahwa Tuhan jauh di luar alam semesta). Kemudian pada perkembangan lanjut, pragmatisme sangat mendewakan kemepuan akal dalam mencapai kebutuhan kehidupan, maka sikap-sikap semacam ini menjurus kepada ateisme.

b. Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptkan pola pikir masyarakat yang matrealis. Manusia berusaha secara keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat ruhaniah. Maka dalam otak masyarakat pragmatisme telah di hinggapi oleh penyakit matrealisme.

c. Untuk mencapai matrealismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa memperdulikan lagi dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya. Ia bekerja tanpa mengenal batas waktu sekedar memenuhi kebutuhan materinya, maka dalam struktur masyarakatnya manusipa hidup semakin egois individualis. Dari sini, masyarakat pragmatisme menderita penyakit humanisme.

KESIMPULAN
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan), serta kebenaran yang mempunyai akibat – akibat yang memuaskan. Sedangkan, definisi Pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara berguna. Sedangkan menurut Istilah Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani “ Pragma” yang berarti perbuatan ( action) atau tindakan (practice). Isme sendiri berarti ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikran itu menuruti tindakan.
Tokoh – tokoh Pragmatisme diantaranya:
Charles S. Peirce (1893-1942) dari Amerika ,  yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

DAFTAR PUSTAKA

  • Hadiwijoyo, Harun, Dr. 2002. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Jakarta: Kanisius
  • Maksum, Ali.2009. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmoderenisme. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
  • Ridwan, Kurniawan, Budi,M.Drs.Dkk.Kamus Ilmiah Populer. Surabaya:Jawara, Citra Pelajar Group.
  • Tafsir Ahmad. Dr. Prof. 2001.Filsafat Umum:Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
  • www.library.usu.ac.id/download/s/sejarah-mohammad .pdf
  • http://www.radicalacademy.com/amphilosophy7.htm

SISTEM-SISTEM PEMIKIRAN FILSAFAT TENTANG TUHAN

(Ateisme, Teisme, Agnostisisme, Monoteisme, Panteisme, Deisme)

A. Ateisme
Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.
Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani ἄθεος (atheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18. Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah.
Seorang ateisme menyangsikan akan adanya Tuhan dan banyak lagi orang yang menyangsikan akan adanya kebangkitan sesudah mati. Mereka percaya, bahwa kesadaran dan kepribadian akan selesai sesudah orang mati. Akan tetapi seorang yang tidak percaya kepada Tuhan mungkin juga seorang yang baik. Seringkali kebaikan seseorang itulah yang menjadikannya orang lain tidak percaya.Ia adalah seorang yang terlalu jujur, sehingga tak mau menerima suatu hal kecuali dengan bukti yang jelas.
B. Teisme
Teisme berpendapat bahwa alam diciptakan oleh Tuhan yang tidak terbatas, antara Tuhan dan makhluk sangat berbeda. Menurut teisme, Tuhan disamping berada di alam (Imanen), tetapi dia juga jauh dari alam (Transenden). Ciri lain dari teisme menegaskan bahwa Tuhan setelah menciptakan alam, tetap aktif dan memelihara alam. karena itu, dalam teisme mukjizat yang menyalai hukum alam diyakini kebenarannya, begitu juga do’a seorang akan digelar.
Lebih lanjut konsep teisme dalam Islam dijelaskan oleh al-Ghozali. Menurutnya Allah adalah zat yang Esa dan pencipta alam serta berperan aktif dalam mengendalaikan alam. Allah menciptakan alam dari tidak ada.
Manusia, menurut Agustinus sama dengan alam, tidak abadi. Manusia terdiri atas jasad yang fana dan jiwa yang tidak mati. Setelah kematian jiwa menunggu penyatuan, baik dengan jasad lain maupun dengan keadaan yang lebih tinggi yaitu syurga atau neraka. Ketika dibangkitkan jiwa manusia akan mencapai kesempurnaan. Karena itu, hakikat yang sebenarnya dari manusia adalah jiwa, bukan jasadnya. Jiwa yang bersih akan kembali ke penciptanya yaitu Tuhan.
Ibn maimun seorang filosof Yahudi yang berpaham teisme menyatakan, Tuhan meliputi semua posisi yang penting, tidak berjasad dan tidak berpotensi dan tidak menyerupai makhluk. Dalam hal ini Tuhan sama sekali jauh dari pengetahuan dan pemahaman manusia.
C. Agnostisisme
Agnostisisme adalah pandangan bahwa keberadaan Allah tidak mungkin diketahui atau dibuktikan. Kata “agnostik” pada dasarnya berarti “tanpa pengetahuan.” Agnostisisme adalah bentuk atheisme yang secara intelektual lebih jujur. Atheisme mengklaim bahwa tidak ada Allah – suatu posisi yang tidak dapat dibuktikan. Agnostisisme berargumentasi bahwa keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan atau disangkali – adalah tidak mungkin untuk mengetahui apakah Allah itu ada. Dalam konsep ini agnostisisme benar. Keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan atau disangkali secara empiris.
Agnostisisme pada hakekatnya adalah penolakan untuk mengambil keputusan apakah Allah ada atau tidak. Ini adalah bentuk paling utama dari ketidakmampuan untuk mengambil keputusan. Agnostik percaya bahwa kita tidak boleh percaya atau tidak percaya akan keberadaan Allah karena tidak mungkin untuk mengetahui atau menyangkalinya.
D. Monoteisme
Monoteisme (berasal dari kata Yunani monon yang berarti tunggal dan Theos yang berarti Tuhan) adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu.
E. Panteisme
Panteisme terdiri dari tiga kata, yaitu Pan, berarti seluruh, Theo, berarti Tuhan, dan Ism (Isme), berarti paham. Jadi, Pantheism atau Panteisme adalah Paham bahwa seluruhnya Tuhan.
Panteisme berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam. Tuhan dalam panteisme adalah satu dan sangat dekat dengan alam (imanen), hanya Tuhan mempunyai penampakan-penampakan atau cara berada tuhan di alam. Tuhan dalam panteisme, disamping Esa juga Maha Besar, dan tidak berubah. Alam indrawi adalah ilusi atau khayal belaka karena selalu berubah. Adapun, yang wujud hakiki hanya satu, yakni Tuhan.
Dalam Panteisme segala sesuatu adalah Tuhan, tidak satu pun yang tidak tercakup didalam-Nya dan tidak satu pun yang bisa berada tanpa Tuhan.
Kelebihan panteisme adalah:
Pertama, Panteisme diakui menyumbangkan suatu pemikiran yang menyeluruh (holistic) tentang sesuatu, tidak hanya bagian tertentu saja.
Kedua, Panteisme menekankan imanensi Tuhan, sehingga seseorang selalu sadar bahwa Tuhan selalu dekat dengan dirinya. Dengan demikian, dia mampu mengontrol diri dan berusaha berbuat sesuai dengan ketentuan Tuhan.
Ketiga, Panteisme menegaskan bahwa seseorang tidak mampu memberi batasan terhadap Tuhan dengan bahasa manusia yang terbatas. Jika Tuhan tidak terbatas dan trasenden, semua pembatasan / pengertian harus ditiadakan karena yang tidak terbatas tidak bisa ditangkap oleh sesuatu yang terbatas. Oleh karena, keberadaan Tuhan dalam alam adalah sekaligus untuk memudahkan pemahaman tentang Tuhan.
Kelemahan dari konsep Panteisme ini adalah:
Pertama, Menurut panteisme yang radikal, manusia adalah Tuhan, sedangkan Tuhan dalam pandangan ini tidak berubah dan abadi. Kenyataan manusia berubah dan tidak abadi. Karena itu, bagaimana manusia menjadi Tuhan, ketika manusia berubah, sedangkan Tuhan tidak.
Kedua, Panteisme mengatakan bahwa alam ini adalah maya bukan hakiki. Kalau ini dijadikan pegangan, maka bagaimana halnya dengan lampu lalu lintas, apakah lampu itu maya atau benar-benar real. Kalau berpegang pada Panteisme lampu itu adalah fantasi dan maya, begitu juga mobil-mobil.
Ketiga, Jika Tuhan adalah alam dan alam adalah Tuhan sebagaimana ditegaskan oleh panteisme, maka tidak ada konsep kejahatan atau tidak ada kemutlakan kejahatan dan kebaikan.
Ada empat kemungkinan mengenai kejahatan dan kebaikan:
1. Jika Tuhan sama sekali baik, tentu kejahatan berada diluar Tuhan, tetapi hal ini mustahil karena tidak ada yang diluar Tuhan dan Tuhan adalah semuanya.
2. Jika Tuhan jahat, tentu kebaikan berada diluar Tuhan. Ini juga mustahil karena tidak ada yang diluar Tuhan dan Tuhan adalah semuanya.
3. Tuhan adalah baik dan sekaligus jahat. Ini adalah kerancuan berpikir karena ada dua hal yang bertentangan dalam waktu yang sama.
4. Kebaikan dan kejahatan adalah ilusi. Kalau itu hanya ilusi, bagaimana seseorang membedakan antara kesedihan dan kegembiraan, antara memuji dan mencaci. Karena itu, moralitas dalam panteime tidak bermakna dan pondasi moral dalam panteisme tidak ada.
F. Deisme

Deisme merupakan suatu aliran yang mengakui adanya pencipta alam semesta, tetapi setelah alam semesta selesai diciptakan, Tuham menyerahkan dunia pada nasibnya sendiri. Sebab, sang Pencipta sudah memasukkan hukum dunia kedalamnya sehingga manusia dapat menunaikan tugasnya dengan berbakti kepada Tuhan dengan hidup yang sesuai dengan hukum akalnya.
Alam berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan. Peraturan-peraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna. Dalam paham deisme, Tuhan diibaratkan dengan tukang jam yang sangat ahli, sehingga setelah jam itu selesai tidak membutuhkan si pembuatnya lagi. Jam itu berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah tersusun dengan rapi.
Para penganut deisme sepakat bahwa Tuhan Esa dan jauh dari alam, serta maha sempurna. Mereka juga sepakat bahwa Tuhan tidak melakukan interbensi pada alam lewat kekuatan supernatural. Bagaimanapun, tidak semua penganut deisme setuju tentang keterlibatan Tuhan dalam alam dan kehidupan sesudah mati. Karena itu, atas dasar perbedaan tersebut deisme dapat dibagi atas empat tipe yaitu :
Pertama, Tuhan tidak terlibat dengan pengaturan alam. Dia menciptakan alam dan memprogramkan perjalanannya, tetapi dia tidak menghiraukan apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi.
Kedua, Tuhan terlibat dengan kejadian-kejadian yang sedang terlangsung dialam, tetapi bukan mengenai perbuatan moral manusia. Manusia memiliki kebebasan utnuk berbuat baik atau buruk, bermoral atau tidak bermoral, dan jujur atau bohong, semuanya itu bukan urusan Tuhan.
Ketiga, Tuhan mengatur alam dan sekaligus memperhatikan perbuatan moral manusia. Sesungguhnya Tuhan ingin menegaskan bahwa manusia harus tunduk pada hukum moral yang telah dia tetapkan dijagad raya. Bagaimanapun, manusia tidak akan hidup sesudah mati. Ketika seseorang mati, maka babak terakhir kehidupannya ditutup.
Keempat, Tuhan mengatur alam dan mengharapkan manusia mematuhi hokum moral yang berasal dari alam. Pandanganaini berpendapat bahwa ada kehidupan setelah mati. Seseorang yang berbuat baik akan dapat pahala dan yang berbuat jahat akan dapat hukuman. Pandangan tersebut berkembang dan banya dianut di Amerika dan Inggris.

KESIMPULAN

Dari Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
  1. Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.
  2. Teisme berpendapat bahwa alam diciptakan oleh Tuhan yang tidak terbatas, antara Tuhan dan makhluk sangat berbeda. Menurut teisme, Tuhan disamping berada di alam (Imanen), tetapi dia juga jauh dari alam (Transenden).
  3. Agnostisisme adalah pandangan bahwa keberadaan Allah tidak mungkin diketahui atau dibuktikan. Kata “agnostik” pada dasarnya berarti “tanpa pengetahuan.” Agnostisisme adalah bentuk atheisme yang secara intelektual lebih jujur.
  4. Monoteisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu.
  5. Pantheism atau Panteisme adalah Paham bahwa seluruhnya Tuhan.
  6. Deisme merupakan suatu aliran yang mengakui adanya pencipta alam semesta, tetapi setelah alam semesta selesai diciptakan, Tuham menyerahkan dunia pada nasibnya sendiri. Sebab, sang Pencipta sudah memasukkan hukum dunia kedalamnya sehingga manusia dapat menunaikan tugasnya dengan berbakti kepada Tuhan dengan hidup yang sesuai dengan hukum akalnya.
DAFTAR PUSTAKA

David Trueblood, PHILOSOPHY OF RELIGION:FILSAFAT AGAMA.( Jakarta : Bulan Bintang,1965 ) Penterjemah: PROF.Dr.H.M.Rasjidi.
Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, MA, dance of God (Tarian Tuhan), Apeiron: Yogyakarta, 2003.
http://jumhurul-umami.blogspot.com/2009/02/aliran-aliran-dalam-konsep-ketuhanan.html
http://www.gotquestions.org/indonesia/agnostisisme.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Monoteisme
http://jumhurul-umami.blogspot.com/2009/02/aliran-aliran-dalam-konsep-ketuhanan.html

SISTEM PEMIKIRAN FILSAFAT TENTANG KENYATAAN

A. Realisme
Pengertian 
Realisme muncul, khususnya di Inggris dan Amerika Utara. Real bearti yang aktual atau yang ada ; kata tersebut menunjukkan kepada benda-benda atau kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh, artinya yang sekedar khayalan atau apa yang ada dalam fikiran kita. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah keadaan atau sifat benda yang real atau yang ada; yakni bertentangan dengan yang hanya Nampak. Dalam arti umum, realisme bearti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
    Dalam arti flsafat yang sempit, realism bearti anggapan bahwa obyek indra kita adalah real; benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita presepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita.
2.    Jenis-jenis Realisme
    Realisme adalah suatu istilah yang meliputi bermacam-macam aliran filsafat yang mempunyai dasar-dasar yang sama. Ada tiga aliran dalam realisme modern yaitu :
•    Kecendrungan kepada materialisme dalam bentuknya modern, contahnya materialisme mekanik adalah realisme tetapi juga materialisme.
•    Kecendrungan  terhadap idealisme
•    Terdapat kelompok realis yang mengangap bahwa realitas itu prulalistik dan terdiri atas berbagai macam jenis; jiwa dan materi hanya merupakan dua dari beberapa jenis lainnya.
B.    Idealisme
1.    Pengertian
Kata idealis dalam filsafat mempunyai arti yang sangat berbeda dari artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum, kata itu bearti : (1) seorang yang menerima ukuran moral yang tiggi, estitika dan agama serta menghayatinya. (2) orang yang dapat  melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada. Kata idealis dapat dipakai sebagai pujian atau olok-olok. Seorang yang memperjuangkan tujuan-tujuan mungkin dicapai, atau seorang yang menganggap sepi fakta-fakta dan kondisi-kondisi sesuatu situasi, serig dinamakan : mere idealist (idealis semata-mata).
Arti filsafat dari kata idelisme ditentukan lebih banyak oleh arti biasa dari kata ide daripada ideal. W.E. Hocking, seorang idealis mengatakan bahwa kata-kata “idea-ism” adalah lebih tepat daripada “idealism”. Denga ringkas, idealism mengatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide,  fikiran-fikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda material atau kekuatan. Idealism menekankan mind sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi. Jika materialism mengatakan bahwa materi adalah riil dan akal (mind) adalah fenomena yang menyertainya, maka idealisme mengatakan bahwa akal itulah yang riil dan materi adalah produk sampingan. Maka idealisme mengandung pengingkaran bahwa dunia ini pada dasarnya adalah sebuah mesin besar dan harus ditafsirkan sebagai materi, mekanisme atau kekuatan saja.
Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, fikiran atau jiwa.
2.    Jenis-jenis Idealisme
Sejarah idealisme adalah berbelit-belit karena istilah idealisme itu cukup luas untuk mencakup bermacam-macam teori yang berlainan meskipun berkaitan. Ada ahli filsafat yang mengunakan istilah tersebut dalam arti yang luas sehingga mencakup semua filsafat yang mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan spiritual ( non material)menentukan proses alam.

3.    Idealisme Obyektif
Banyak filosof ideali, dari Plato melalui Hegel sampai filsafat masa kini menolak subyektivisme yang ekstrim atau mentalisme, dan menolak juga pandangan bahwa dunia luar itu adalah buatan manusia. Mereka berpendapat bahwa peraturan dan bentuk dunia, begitu juga pengetahuan, adalah ditentukan oleh watak dunia itu sendiri. Akal menemukan peraturan alam. Mereka itu idealis dalam member interprestasi kepada alam sebagai suatu bidang yang dapat dipahami, yang bentuk sistematikanya menunjukkan susunan yang rasional dan nilai.
C.    Monisme
1.    Pengertian
Monisme adalah teori yang menolak anggapan bahwa badan dan jiwa merupakan dua hal yang berbeda atau dua hal terpisah yang harus dihubungkan satu dengan yang lainnya. Diantaranya monisme mempunyai bermacam-macam bentuk, sebagai berikut :
a.    Materialisme Ekstrem
Teori tertua mengenai badan-jiwa adalah suatu bentuk ekstrem dari materialisme. Materialisme mempunyai macam-macam varian, tetapi semuanya memegang bahwa materia merupakan dasar dari sesuatu yang ada dan semua hal lain tergantung dari materia ini. Materialisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa apapun yang ada  tentulah bersifat fisik atau materiil. Jadi dapat disimpulkan bahwa semua ungkapan mengenai peristiwa mental adalah pernyataan yang tanpa makna atau kalau bermakna pastilah sinonim dengan ungkapan mengenai benda-benda fisik. Aliran ini didukung oleh anggota-anggota lingkungan Wina yaitu aliran positivisme logis (logical positivism), yang dipengaruhi oleh suksesnya sains. Tetapi pandangan ini tidak dipegang oleh pendiri Wina sendiri, yaitu Moritz Schlick. Aliran ini tidak banyak memiliki pengikut lagi, karena para pendukungnya tidak bisa mewujudkan cita-cita mereka untuk menerjemahkan pengalaman mental. Seperti contoh mereka tidak bisa menerjemahkan ungkapan yang paling sederhana sekalipun, seperti “saya sakit” yang berbentuk ungkapan fisikalistis.
b.    Teori identitas
Teori identitas adalah suatu bentuk materiaisme yang cukup banyak dibicarakan dewasa ini. Teori ini dipertahankan oleh J.J. Smart dan H. Feigh. Mereka membedakan secara filosofis antara arti dan referensi, mereka menyatakan bahwa pernyataan mental dan fisik berbeda hanya didalam arti, tetapi secara empiris menunjukkan kepada gejala atau objek yang sama. Misalnya, ‘bintang pagi’ dan ‘bintang sore’.  Pengertian atau arti istilah-istilah itu tidak sama, tetapi benda yang ditunjuk, yaitu bintangnya sendiri,sama. Demikian juga halnya dengan ‘air’ dan ‘H2O’ maka menuut mereka perbedaan antara jiwa dan badan hanyalah perbedaan didalam arti, tetapi didalam hal referensi kedua hal tersebut adalah sama.
c.    Teori Idealisme
Dikemukakan oleh Descartes yang menemukan satu kenyataan yang tidak dapat diragukan atau pasti kebenarannya, yaitu bahwa dirinya sendiri ada (“cogito, ergo sum”). Cogito dimengerti sebagai diri berpikir. Discartes membedakan 2 macam benda, yaitu benda yang berpikir (“res cogitans”) dan benda berkeluasan (“res extensa”). Dari pengertian itu menjadi jelas bahwa Descartes merangkul dualisme. Tetapi akibat dari dualisme Descartes tersebut tidak selalu sesuai dengan pendirian Descartes. Sebagaimana dirumuskan oleh Uskup Berkeley. Dia menyatakan bahwa pernytaan mengenai objek fisik hanya dapat dimengerti dan dipahami artinya sejauh pernyataan itu dapat ditafsirkan sebagai pernyataan mengenai persepsi orang yang menangkapnya.
d.    Teori Double-Aspect
Beberapa filsuf  berpendapat bahwa yang mental dan yang fisik merupakan dua aspek yang berbeda tapi dari kenyataan yang sama. Spinoza merupakan contoh pendukung setia pendapat ini. Ia berpendapat bahwa manusia dapat dimengerti sebagai benda yang mempunyai leluasan, jadi bersifat jasmani, tetapi juga dapat dimengerti sebagai benda yang dapat berpikir jadi bersifat rohani. Tetapi pernyataan-pernyataan ini masing-masing atau bersama-sama tidak dapat menggambarkan secara jelas dan lengkap apa dan siapakah manusia itu.
e.    Monisme Netral
Menurut pandangan ini jiwa maupun badan merupakan kumpulan yang terdiri dari unsur-unsur sejenis. Perbedaan antara badan dan jiwatidak terletak pada perbedaan kodrat dari unsur-unsur atomiknya, melainkan pada susunan unsur-unsurnya berbeda, sedangkan unsure-unsur pembentuknya sendiri sama.
Bermacam-macam teori dualistik umumnya mempertahankan bahwa pernyataan-pernyataan menta dan fisik sungguh-sungguh berbeda.
D.    Dualisme
      Mereka tidak hanya berbeda dalam pengertian tetapi juga dalam hal objek yang dimaksudkan. Jadi perbedaan antara kedua pernyataan bukan hanya terletak pada arti tetapi juga berbeda dalam referensi.

1.    Interaksionalisme
Bahwa peristiwa-peristiwa mental kadang-kadang menyebabkan peristiwa-peristiwa badani. Dan juga bahwa peristiwa-peristiwa badani dapat menyebabkan peristiwa-peristiwa mental. Misalnya, ketakutan menyebabkan badan gemetar dan sebaliknya
2.    Occasionalisme
Banyak filsuf menerima pembagian dunia alami sebagai mana dijalankan oleh Descartes, menjadi yang bersifat mental (“res cogitans”) dan yang bersifat fisik (“res extensa”). Tetapi berbeda dengan Descartes, mereka menolak adanya interaksi berdasar sebab-akibat (hubungan kausal) antara keduanya. Sejumlah filsuf, misalnya Arnold Guelincx dan Nicolas de Malebrenche, mengusulkan sebuah teori bahwa Allah merupakan satu-satunya penguhubung antara yang mental dan yang fisik. Allah selalu menemukan kesempatan untuk menyesuaikan antara yang mental dan yang fisik. Misalnya, saya takut. Rasa takut saya ini merupakan kesempatan bagi Allah untuk membuat badan saya gemetar. Atau, ada objek dalam jangkauan jarak pandang saya.
3.    Paralisme
Teori ini menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa mental dan fisik dihubungkan dalam hal biasa, tetapi tanpa ada hubungan sebab-akibat. Menurut Leibniz, peristiwa fisik telah disetel oleh tuhan sedemikian rupa, sehingga, bagaikan dua jam yang disetel bersamaan waktunya, terjadi mekanisme yang sempurna antara perisriwa mental dan peristiwa fisik itu sehingga keduanya terjadi secara serentak, meskipun tidak ada hubungan penyebab antara yang satu dengan yang lain. Misalnya,rasa manis dan menempenya gula pada lidah saya.Terjadi rasa manis pada lidah itu bukan dikarnakan oleh gula yang menempel pada nya,tetapi dua peristiwa itu sudah disetel dari awalnya untuk tejadi bersamaan.
4.    Epiphenomenalisme
Menurut teori ini, hubungan kausal yang berlaku dari yang fisik ke yang mental, dan tidak berlaku sebaliknya. Menurut Cabanis, sudah merupakan kodaratnya bahwa otak mengeluarkan ide dan gagasan, sebagaimana badan mengeluarkan keringat, atau seperti asap yang keluar dari mesin uap, atau film yang tampak pada layar.

TES STANDAR DAN TIDAK STANDAR SERTA CARA MENGANALISISNYA

1.    Pengertian Tes Standar
Tes kemampuan pada dasarnya terbagi menjadi 2 macam, yaitu:
1.    Aptitude test (tes bakat)
2.    Achievement test (tes prestasi)
Perbedaan antara kedua tes ini sebenarnya tidak tegas, soal-soal mengenai kedua tes tersebut seringkali saling melengkupi (overlap). Untuk kedua macam tes ini biasanya menggunakan hitungan-hitungan dan perbendaharaan kata-kata dan sekelompok tes dari kedua macam tes ini biasanya juga menguji tentang keterampilan membaca. Kesamaan yang lain adalah bahwa keduanya telah digunakan untuk meramalkan hasil untuk masa yang akan datang, walaupun pada umumnya jika kita menggunakan tes prestasi penilai melihat apa yang telah diperoleh setelah siswa (tercoba) itu di beri suatu pelajaran.
Prosedur yang digunakan untuk menentukan isi dari tes prestasi juga sedikit berbeda dengan yang digunakan pada waktu penyusunan tes bakat. Di dalam penyusunan tes prestasi belajar usaha-usaha digunakan untuk menentukan pengetahuan dan keterampilan yang sudah di ajarkan di berbagai tingkat pendidikan dan butir-butir tes di peruntukkan bagi penilaian materi-materi ini.
2.    Tes Prestasi Standar
Di antara tes prestasi yang digunakan di sekolah ada yang dinamakan tes prestasi standar. Dalam salah satu kamus, arti kata “standar” adalah:

A degree of level of requirement, excellence, or attainment
(Scarvia B. Anderson)
Standar untuk siswa dapat dimaksudkan sebagai suatu tingkat kemampuan yang harus dimiliki bagi suatu program tertentu. Mungkin standar bagi suatu kursus A berbeda dengan kursus B. Jadi standar ini dapat dibuat “keras” maupun “lunak” tergantung dari yang mempunyai kebijaksanaan.
Suatu tes standar dengan demikian berbeda dengan tes prestasi biasa.
Prosedur yang digunakan untuk menyusun tes standar untuk tes prestasi melalui cara langsung yang ditumbuhkan dari tes yang digunakan di kelas. Sedangkan spesifikasi yang digunakan untuk menentukan isi dalam tes bakat biasanya didasarkan atas analisis job (jabatan) atau analisis tugas yang merupakan tuntutan calon pekerjaannya. Disamping itu juga mempertimbangkan sifat-sifat yang ada pada manusia. Analisis jabatan analisis tugas yang dilakukan biasanya tidak didasarkan atas salah satu kurikulum, tetapi di ambil dari masyarakat.
Istilah “standar” dalam tes di maksudkan bahwa semua siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dari sejumlah besar pertanyaan dikerjakan dengan mengikuti petunjuk yang sama dan dalam batasan waktu yang sama pula. Dengan demikian maka seolah-olah ada suatu standar atau ukuran sehingga diperoleh satu standar penampilan (performance) dan penampilan kelompok lain dapat dibandingkan dengan penampilan kelompok standar tersebut.
Istilah “standar” tidak mengandung arti bahwa tes itu mengukur apa yang harus dan dapat di ajarkan pada suatu tingkat tertentu atau bahwa tes itu menyiapkan suatu tingkat tertentu. Sekali lagi, tes standar dipolakan untuk penampilan prestasi sekarang (yang ada) yang dilaksanakan secara seragam, di usahakan dalam kondisi yang seragam, baik itu di berikan kepada siswa dalam pelaksanaan perseorangan maupun siswa sebagai anggota dari suatu kelompok.
Penyusun tes standar selalu mengusahakan agar sistem skoringnya sangat objektif sehingga dapat diperoleh reliabilitas yang tinggi. Apabila mungkin, dilakukan dengan mesin, hal ini tidak berarti bahwa bentuk tes standar harus selalu pilihan berganda. Tetapi untuk skoringnya di usahakan agar tidak kena bias faktor-faktor lain. Usaha lain adalah penggunaan skala skor dan norma yang relevan. Skala skor di gunakan untuk menyesuaikan antara bentuk paralel dan bentuk aslinya. Di samping itu juga diperlukan penjelasan terinci tentang tes itu. Tentang keterangan ini akan dibicarakan pada bagian kelengkapan tes standar.
3.    Perbandingan antara Tes Standar dengan Tes Buatan Guru
Setelah mempelajari uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa tes standar sebenarnya bukanlah suatu yang istimewa dalam tes prestasi belajar. Tes ini disusun dalam tipe-tipe soal yang sama dan meliputi bahan atau pengetahuan yang sama banyak dengan bahan atau pengetahuan yang dicakup oleh tes buatan guru.
Tes Standar    Tes Buatan Guru
1)    Di dasarkan atas bahan dan tujuan umum dari sekolah-sekolah diseluruh negara.

2)    Mencakup aspek yang luas dan pengetahuan atau keterampilan dengan hanya sedikit butir tes untuk setiap keterampilan atau topik.
3)    Disusun dengan kelengkapan staf profesor, pembahas, editor, butir tes.
4)    Menggunakan butir-butir tes yang sudah di ujicobakan (try out), di analisis dan di revisi sebelum menjadi sebuah tes.
5)    Mempunyai reliabilitas yang tinggi.
6)    Dimungkinkan menggunakan norma untuk seluruh negara.    1)    Di dasarkan atas bahan dan tujuan khusus yang dirumuskan oleh guru untuk kelasnya sendiri.

2)    Dapat terjadi hanya mencakup pengetahuan atau keterampilan yang sempit.


3)    Biasanya disusun sendiri oleh guru dengan sedikit atau tanpa bantuan orang lain/tenaga ahli.
4)    Jarang-jarang menggunakan butir-butir tes yang sudah di ujicobakan, dianalisis, dan di revisi.

5)    Mempunyai reliabilitas sedang dan rendah.
6)    Norma kelompok terbatas kelas tertentu.

Untuk menyusun tes standar, di butuhkan waktu yang lama. Seperti disebutkan bahwa untuk memperoleh sebuah tes standar melalui prosedur:
-    Penyusunan;
-    Uji coba;
-    Analisis;
-    Revisi;
-    Edit.
4.    Kegunaan Tes Standar
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kegunaan tes standar adalah:
a.    Jika ingin membuat perbandingan,
b.    Jika banyak orang yang akan memasuki suatu sekolah tetapi tidak tersedia data tentang calon ini.
Walaupun sangat luas, namun secara garis besar, kegunaan tes standar adalah:
1)    Membandingkan prestasi belajar dengan pembawaan individu atau kelompok.
2)    Membandingkan tingkat prestasi siswa dalam keterampilan di berbagai bidang studi untuk individu atau kelompok.
3)    Membandingkan prestasi siswa antara berbagai sekolah atau kelas.
4)    Mempelajari perkembangan siswa dalam suatu periode waktu tertentu.
5.    Kegunaan Tes Buatan Guru
a.    Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang di berikan dalam waktu tertentu.
b.    Untuk menentukan apakah sesuatu tujuan telah tercapai.
c.    Untuk memperoleh suatu nilai.
Selanjutnya baik tes standar dan tes buatan guru di anjurkan dipakai jika hasilnya akan digunakan untuk:
1)    Mengadakan diagnosis terhadap ketidakmampuan siswa.
2)    Menentukan tempat siswa dalam suatu kelas atau kelompok.
3)    Memberikan bimbingan kepada siswa dalam pendidikan dan pemilihan jurusan.
4)    Memilih siswa untuk program-program khusus.
6.    Kelengkapan Tes Standar
Sebuah tes yang sudah distandardisasikan dan sudah dapat disebut sebagai tes standar, biasanya dilengkapi dengan sebuah manual. Manual ini memuat keterangan-keterangan atau petunjuk-petunjuk yang perlu terutama yang menjelaskan tentang pelaksanaan, menskor, dan mengadakan interpretasi.
Secara garis besar manual tes standar ini memuat:
1)    Ciri-ciri mengenai tes
2)    Tujuan serta keuntungan-keuntungan dari tes
3)    Proses standardisasi tes
4)    Petunjuk-petunjuk tentang cara pelaksanaan test.
5)    Petunjuk-petunjuk bagaimana cara menskor
6)    Petunjuk-petunjuk untuk menginterpretasikan hasil
7)    Saran-saran lain
7.    Menganalisis Hasil Tes

Tes sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar
1.    Tes Uraian
Tes uraian , yang dalam literature disebut juga essay examination, merupakan alat penilaian hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini merupakan alat penilaian hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan,menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alas an, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam hal mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan. Berikut ini kelebihaan atau keunggulan tes uraian antara lain adalah:
a)    Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi;
b)    Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa.
c)    Dapat melatih kemampuan berfikir teratur atau penalaran, yakni berfikir logis, analitis, dan sistematis;
d)    Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving)
e)    Adanya keuntungan teknis seperti mudahnya membuat soal sehingga tanpa memakan waktu yang lama, guru dapat secara langsung melihat proses berfikir siswa.
Dilain pihak kelemahan atau kekurangan yang terdapat dalam tes ini antara lain adalah :
a)    Sampel tes sangat terbatas sebab dengan tes ini tidak mungkin dapat menguji semua bahan yang telah diberikan, tidak seperti pada tes objektif yang dapat menanyakan banyak hal melalui sejumlah pertanyaan;
b)    Sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam membuat pertanyaan, maupun dalam cara memeriksanya. Guru bias bertanya tentang hal-hal yang menarik baginya, dan jawabannya berdasarkan apa yang dikehendakinya;
c)    Tes ini juga biasanya kurang realibel, mengungkap aspek yang terbatas , pemeriksaanya memerlukan waktu lama sehingga tidak praktis bagi kelas yang jumlah siswanya relative besar.
a.    Jenis-jenis tes uraian
(a)    Uraian bebas (free essay)
(b)    Uraian terbatas dan uraian terstruktur
Melihat karakteristiknya, pertanyaan bentuk uraian bebas ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk :
1)    Mengungkapkan para pandangan siswa terhadap suatu masalah sehingga dapat diketahui luas dan intensitasnya.
2)    Mengupas suatu persoalan yang kemungkinan jawabannya beraneka ragam sehingga tidak ada satu pun jawaban yang pasti.
3)    Mengembangkan daya analisis siswa dalam melihat suatu persoalan dari berbagai segi dan dimensinya.
Kelemahan tes ini adalah sukar menilainya karena jawaban siswa bias bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena bergantung pada guru sebagai penilainya.
Bentuk kedua dari tes uraian adalah uraian terbatas. Dalam bentuk pertanyaan  telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bias dari segi : (a) ruang lingkupnya, (b) sudut pandang menjawabnya (c) indikator-indikatornya.
b.    Menyusun soal bentuk uraian
1)    Dari segi isi yang diukur
Segi yang hendak diukur hendaknya ditentukan secara jelas abiliasnya, misalnya pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisis suatu permasalahan, dan aspek kognitif lainnya. Dengan kejelasan apa yang akan diungkapkan maka soal atau pertanyaan yang dibuat hendaknya mengungkapkan kemampuan siswa dalam abilitas tersebut.
2)    Dari segi bahasa
Gunakan bahasa yang baik dan benar sehingga mudah diketahui makna yang terkandung dalam rumusan pertanyaan.
3)    Dari segi teknis penyajian  soal.
Hendaknya jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi yang sama sekalipun untuk abilitas yang berbeda sehingga soal atau pertanyaan yang diajukan lebih komperhensif daripada segi lingkup materinya.
4)    Dari segi jawaban
Setiap pertanyaan yang hendak diajukan sebaikmya telah ditentukan jawaban yang diharapkan, minimal pokok-pokoknya. Tentukan pula besarnya skor maksimal untuk setiap soal yang dijawab benar dan skor minimal bila jawaban diaangap salah atau kurang memadai.

c.    Pemeriksaan, skoring, dan penilaian tes uraian.
Ada dua cara pemeriksaan jawaban soal uraian. Cara pertama ialah diperiksa seorang demi seseorang untuk semua soal, kemudian diberi skor. Cara kedua adalah diperiksa nomor demi nomor untuk semua siswa. Artinya diperiksa terlebih dahulu omor satu untuk semua siswa. Kemudian diberi skor , dan setelah selesai baru soal nomor dua.

2.    Tes Objektif
Soal-soal bentuk objektif banyak digunakan dalam menilai hasil belajar. Hal ini disebabkan antara lain oleh luasnya bahan pelajaran yang dapat dicakup dalam tes dan mudahnya menilai jawaban yang diberikan. 
a.    Bentuk soal jawaban singkat
Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat, atau symbol dan jawaban hanya dapat bernilai benar atau salah. Ada dua bentuk soal jawaban singkat, yaitu bentuk pertanyaan langsung dan bentuk pertanyaan tidak lengkap.
Contoh :
-    Berapakah luas daerah segitiga yang panjang alasnya 8 cm dan tingginya 6 cm.
b.    Bentuk soal benar-salah
Bentuk soal benar adalah bentuk tes yang soal-soalnya berupa pertanyaan. Sebagian dari pertanyaan itu merupakan pernyataan yang benar dan sebagian lagi meupakan pernyataan salah. Pada umumnya bentuk soal benar-benar dapat dipakai untuk mengukur pengetahuan siswa tentang fakta, definisi, dan prinsip.
Contoh :
(B)-S    1. Danau Toba di sumatera Utara dari segi pembentukannya merupakan danau tektonik.
B-(S)     2. Berat satu liter air adalah 100 gram.
c.    Bentuk soal menjodohkan
Bentuk soal menjodohkan terdiri atas dua kelompok pernyataan yang parallel. Kedua kelompok pernyataan ini berada dalam satu kesatuan. Kelompok sebelah kiri merupakan bagian yang berisi soal-soal yang harus dicari jawabannya.
Contoh :
Kelompok A    Kelompok B
b
f
e
a
d    1.    Kekurangan vitamin C
2.    Kekurangan vitamin B kompleks
3.    Kekurangan vitamin B1
4.    Kekurangan vitamin A
5.    Kekurangan vitamin D    a.    Penyakit rabun ayam
b.    seriawan
c.    Penyakit gondok
d.    Penyakit rakhitis
e.    Penyakit beri-beri
f.     Pertumbuhan badan lambat
d.    Bentuk soal pilihan ganda
Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling cepat. Dilihat dari strukturnya, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas :
- steam     - pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan yang akan dinyatakan
- option    - sejumlah pilihan atau alternative jawaban
- kunci    - jawaban yang benar atau paling tepat
- distractor    - jawaban-jawaban lain selain kunci jawaban

Contoh :
Mahkamah International Perserikatan Bangsa-bangsa berkedudukan di kota …….                            Steam
a.    Jenewa                Kunci
b.    Den Haag
c.    London       Distarctor (pengecoh)        Option
d.    New York

DAFTAR PUSTAKA
•    Mudjijo. 1995. Tes Hasil Belajar. Jakarta. PT Bumi Aksara
•    Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung. Penerbit : PT Remaja Rosdakarya.
•    Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Rajagrafindo Persada
•    Arikunto, Suharsimi. 1986. “Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan”. Jakarta. PT Bina Aksara.

Peranan Guru Dalam Pembelajaran

Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai paling maju, guru memegang peranan penting. Hampir tanpa kecuali, guru merupakan satu di antara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat.
Guru memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia, serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa.
Salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh guru di sekolah adalah memberikan pelayanan kepada para siswa agar mereka menjadi siswa atau anak didik yang selaras dengan tujuan sekolah. Melalui bidang pendidikan, guru mempengaruhi aspek kehidupan, baik sosial, budaya maupun ekonomi. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama yang bertugas sebagai pendidik.
Guru memegang berbagai jenis peranan yang mau tidak mau harus dilaksanakannya sebagai guru. Yang dimaksud sebagai peran adalah pola tingkah laku tertentu yang merupakan ciri khas semua petugas dari pekerjaan atau jabatan tertentu. Guru harus bertanggungjawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar, dan karenanya guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar disamping menguasai materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain guru harus mampu menciptakan situasi kondisi belajar yang sebaik-baiknya
Semua orang yakin bahwa guru memiliki peran yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru .
Adams dan Decey mengemukakan peranan guru dalam proses belajar-mengajar meliputi banyak hal antara lain guru sebagai: pengajar, pendidik, pembimbing, motivator, dll. Sedangkan WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga.

1.    Peran Guru sebagai Pendidik
Pendidik adalah setiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi. Sehingga sebagai pendidik, seorang guru harus memiliki kesadaran atau merasa mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendidik. Tugas mendidik adalah tugas yang sangat mulia atas dasar “panggilan” yang teramat suci. Sebagai komponen sentral dalam sistem pendidikan, pendidik mempunyai peran utama dalam membangun fondamen-fondamen hari depan corak kemanusiaan. Corak kemanusiaan yang dibangun dalam rangka pembangunan nasional kita adalah “manusia Indonesia seutuhnya” yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya diri disipilin, bermoral dan bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal itu, keteladanan dari seorang guru sebagai pendidik sangat dibutuhkan.
Guru dikatakan sebagai seorang pendidik sebab dalam pekerjaannya ia tidak hanya “mengajar” seseorang agar tahu beberapa hal, tetapi guru juga melatihkan beberapa keterampilan dan terutama sikap mental anak didik. “Mendidik” sikap mental seseorang tidak cukup hanya “mengajarkan” sesuatu pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu harus di didikkan dengan guru sebagai idolanya .
Tugas dan peranan guru sebagai seorang pendidik sebenarnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di kelas, yang lazim disebut proses belajar mengajar.
Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan tugas-tugas pengawasan dan pembinaan serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggung jawab kemayarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-ana agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Sebagai seorang pendidik, seorang guru memiliki peran antara lain:
a.    Guru adalah teman terbaik
b.    Sosok terhormat memberikan jalan untuk kita melangkah menjadi orang yang lebih baik
c.    Penuntun dikala lengah
d.    Pembimbing dikala salah
e.    Guru bak cahaya didalam kegelapan menuntun kita untuk melangkah meraih masa depan
Menurut James B. Brow mengemukakan bahwa tugas dan peranan seorang guru antara lain; menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa .
Seorang guru menjadi pendidik berarti sekaligus menjadi pembimbing, sebagai contoh guru yang berfungsi sebagai “pendidik” dan “pengajar” seringkali akan melakukan pekerjaan bimbingan.
Jadi yang jelas dalam proses pendidikan kegiatan “mendidik”, “pengajar” dan bimbingan sebagai yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pembimbing, minimal ada 2 fungsi, yakni fungsi moral dan fungsi kedinasan .

2.    Peran Guru sebagai Pengajar
Sejak adanya kehidupan, sejak itu pula guru telah melaksanakan pembelajaran, dan memang hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang pertama dan utama. Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari.
Guru sebagai pengajar ialah orang yang memiliki kemampuan pedagogi sehingga mampu mengutarakan apa yang ia ketahui kepada peserta didik tentang materi yang ia ajarkan kepada peseta didik. Seorang pengajar akan lebih mudah mentransfer materi yang ia ajarkan kepada peserta didik, jika guru tersebut benar menguasai materi dan memiliki ilmu mengajar yang baik dan sesuai dengan karakteristik pengajar yang professional .
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain diluar fungsi sekolah, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan dimasyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku sosial anak mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
Sebagai seorang pengajar di kelas seorang guru hendaknya:
a.    Memiliki informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran
b.    Mampu menyampaikan informasi dengan tepat
c.    Mampu mengarahkan kegiatan pembelajaran
d.    Mampu menilai keberhasilan pembelajaran
e.    Mampu membantu siswa mengatasi masalah
f.    Mampu mengatur dan memonitor pelaksanaan pembelajaran
Seorang guru juga dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
Saat ini menjadi seorang guru disekolah bukan lagi profesi memalukan sebagaimana dahulu, pandangan masyarakat terhadap guru sudah jauh lebih baik, guru sudah lebih dihargai. Meningkatnya penghargaan terhadap profesi guru ini sepantasnya membuat kita sebagai calon guru berusaha meningkatkan kemampuan profesionalnya, meningkatkan perannya sebagai seorang pengajar dan pendidik nantinya.
Berdasarkan uraian di atas maka jelaslah bahwa peran guru baik sebagai pengajar maupun sebagai pendidik pada hakekatnya saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain, kedua peran tersebut harus dilaksanakan secara berkesinambungan dan sekaligus merupakan keterpaduan.

Thursday, January 12, 2012

Kode Etik Guru

1.    Pengertian Kode Etik
Salah satu syarat menjadi profesi, guru harus memiliki kode etik yang akan menjadi pedoman dalam pelaksakan tugas profesinya. Kode etik tersebut disusun oleh organisasi profesi di Indonesia adalah Persatuan Guru Seluruh Indonesia ( PGRI ). Keikutsertaan guru dalam berbagai macam organisasi profesi tersebut diharapkan dapat meningkatkan mutu profesionalisme guru.
Kalau Istilah “ kode etik “ itu dikaji, maka terdiri dari dua kata yaitu “ kode “  dan “ etik “ berasal dari bahasa Yunani, “ ethos “ yang berarti watak, adab atau cara hidup. Dapat diartikan bahwa etik itu menunjukkan “ cara berbuat yang menjadi adat, karena persetujuan bagi kelompok manusia “. Dan etik biasanya dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang disebut “ kode “, sehingga terjelmalah yang disebut dengan “ kode etik “. Atau secara harfiah “ kode etik “ berarti sumber etik. Etika artinya tata susila ( etika ) atau hal-hal yang berhubungn dengan kesusilaan dalam suatu pekerjaan. Jadi, “ kode etik guru “ diartikan sebagai “ aturan tata susila keguruan” menurut Westby Gibson, kode etik guru dikatakan sebagai suatu statemen formal yang merupakan norma ( aturan tata susila ) dalam mengatur tingkah laku guru.
Jadi, Kode Etik Guru Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru-guru Indonesia. Sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik, anggota maasyarakat dan warga negara.
Karena itu guru sebagai tenaga profesional perlu memiliki “ kode etik guru “ dan menjadikannya sebagai pedoman yang mengatur pekerjaan selama dalam pengabdian. Kode etik guru ini merupakan ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru. Bila guru telah melakukan perbuatan asusila dan amoral berarti guru telah melanggar “ kode etik guru “. Sebab kode etik ini sebagai salah satu ciri yang harus ada pada profesi guru itu sendiri.   

2.    Kode Etik Guru Indonesia
Berbicara mengenai “ Kode Etik Guru Indonesia “ berarti kita membicarakan guru di negara kita, kode Etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal 21-25 November 1973 di Jakarta, kode etik guru tersebut yaitu:
a.    Guru berbakti membimbing peserta didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila, yaitu dengan cara:
•    Guru menghormati hak individu dan kepribadian peserta didiknya masing-masing.
•    Guru brerusaha mensukseskan pendidikan yang serasi ( jasmaniah dan rohaniah ) bagi peserta didiknya.
•    Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila, Pendidikaan moral Pancasila bagi peserta didiknya.
•    Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila.
•    Guru melatih dan memecahkan masalah dan membina daya kreasi peserta didik.
•    Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada peserta didik.
b.    Guru memiliki kejujuran profesionl dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing, yaitu dengan cara:
•    Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan peserta didiknya masing-masing.
•    Guru hendaknya luwes di dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya masing-masing.
•    Guru memberi pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum tanpa membedakan jenis dan posisi sosial orang tua peserta didiknya.
c.    Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang peserta didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan, yaitu dengan cara:
•    Komunikasi guru dan peserta didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang.
•    Untuk berhasilnya pendidikan, maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya masing-masing.
•    Komunikasi guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan peserta didik.
d.    Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua peserta didik dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan peserta didik, yaitu dengan cara:
•    Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga peserta didik betah berada dan belajar di sekolah.
•    Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua peserta didik sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal-balik untuk kepentingan peserta didik.
•    Guru senantiasa menerima dengan lapang dada setiap kritik membangun yang disampaikan orang tua peserta didik / masyarakat terhadap kehidupan sekolahnya.
•    Pertemuan dengan orang tua peserta didik harus diadakan secara teratur.
e.    Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan, yaitu dengan cara:
•    Guru memperluas pengetahuan mengenai profesi keguruan.
•    Guru turut menyebarkan program-program pendidikan dan kebudayaan kepada masyarakat sekitarnya.
•    Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaruan bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya.
•    Guru turut bersama-sama masyarakat sekitar di dalam berbagai aktivitas.
•    Guru mengusahakan terciptanya kerja sama dengan sebaik-baiknya antar sekolah, orang tua pendidik dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan.
f.    Guru secara sendiri-sendiri / atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalnya, yaitu dengan cara:
•    Guru melanjutkan studinya dengan cara membaca buku-buku, mengikuti seminar, gerakangerakan koperasional, pertemuan-pertemuan pendidikan, mengikuti penataran, dan mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian.
•    Guru bicara, bersikap dan bertindak sesuai martabat profesinya.
g.    Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja, maupun di dalam hubungan keseluruhan, yaitu dengan cara:
•    Guru senantiasa saling bertukar informasi, pendapat, saling menasehati, dan bantu membantu sesama lainnya, baik dalam hubungan kepentinga pribadi maupun dalam menunaikan tugas profesinya.
•    Guru tidak melakukan tindakan-tindakan tang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru.
h.    Guru secara bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya, dengan cara:
•    Guru menjadi anggota dan membantu organisai guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya,
•    Guru senantiasa berusaha bagi peningkatan persatuan antara sesama pengabdi pendidik.
•    Guru senantiasa bersama agar menghindarkan diri dari sikap, ucapan-ucapan, dan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi.
i.    Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijakasanaan pemerintah dalam bidang pendidikan, dengan cara:
•    Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan.
•    Guru melakukan tugas profesional dengan rasa pengabdian.
•    Guru berusaha menyebarkan kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kepada orang tua peerta didik dan masyarakat sekitarnya.
•    Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerahnya dengan sebaik-baiknya.
Dengan adanya kode etik guru ini diharapkan guru-guru di Indonesia mempunyai pegangan untuk melaksanakan tugas profesionalnya. Adapun  Kode Etik Guru Indonesia bersumber dari :
1.  Nilai-nilai agama dan Pancasila
2.  Nilai-nilai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
3. Nilai-nilai jati diri, harkat dan martabat manusia yang meliputi perkembangan kesehatan jasmaniah, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.

3.    Tujuan Kode Etik
Tujuan kode etik adalah sebagai berikut:
1.    Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2.    Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3.    Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4.    Untuk meningkatkan mutu profesi.
5.    Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6.    Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7.    Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8.    Menentukan baku standarnya sendiri.

4.    Fungsi Kode Etik
Sutan Zahri dan Syahmiar Syahrun (1992) mengemukakan empat fungsi kode etik guru bagi guru itu sendiri, antara lain :
1.    Agar guru terhindar dari penyimpangan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
2.    Untuk mengatur hubungan guru dengan murid, teman sekerja, masyarakat dan pemerintah.
3.    Sebagai pegangan dan pedoman tingkah laku guru agar lebih bertanggung jawab pada profesinya.
4.    Pemberi arah dan petunjuk yang benar kepada mereka yang menggunakan profesinya dalam melaksanakan tugas.
 Kode etik merupakan pedoman yang mengatur hubungan guru dengan teman kerja, murid dan wali murid, pimpinan dan masyarakat serta dengan misi tugasnya. Kode etik guru dengan teman kerjanya difungsikan sebagai penghubung serta saling mendukung dalam bidang mensukseskan misi dalam mendidik peserta didik.

Logika Matematika

Ingkaran, Disjungsi, Konjungsi, Implikasi, Biimplikasi
WWW.BELAJAR-MATEMATIKA.COM

Tabel Kebenaran :
p q ~ p ~ q p ∨ q p ∧ q p →q p⇔ q
B B S S B B B B
B S S B B S S S
S B B S B S B S
S S B B S S B B
Keterangan :
1. ~ p = ingkaran/negasi dari p
~ q = ingkaran/negasi dari q
2. p ∨ q = Disjungsi
Bernilai Benar jika ada yang benar (jika salah satu dari p dan q benar atau kedua-duanya benar)
3. p ∧ q = Konjungsi
Bernilai salah jika ada yang salah (jika salah satu dari p dan q salah atau kedua-duanya salah)
4. p → q = Implikasi
Bernilai salah jika p benar dan q salah (jika tidak memenuhi kriteria ini nilainya benar)
5 . p ⇔ q = Biimplikasi
Bernilai benar jika p dan q kedua-duanya bernilai benar atau kedua-duanya bernilai salah
(kedua-duanya mempunyai nilai yang sama)
Ingkaran/negasi
Pernyataan Ingkaran/Negasinya
p ∨ q ~p ∧ ~q
p ∧ q ~p ∨ ~q
p →q p ∧ ~q
p ⇔ q (p ∧ ~q) ∨ (q ∧ ~p)
SMA - 2
WWW.BELAJAR-MATEMATIKA.COM
Diperbolehkan memperbanyak dengan mencantumkan sumbernya
• Konvers, Invers, Kontraposisi
p q ~ p
Negasi
~ q
Negasi
p →q
Implikasi
q →p
Konvers
~p →~q
Invers
~q →~p
Kontraposisi
B B S S B B B B
B S S B S B B S
S B B S B S S B
S S B B B B B B
Ekuivalen (sama)
Ekuivalensi : p → q = ~q → ~p = ~p ∨ q
Ingkaran/negasi
Pernyataan Ingkaran/Negasinya
p →q p ∧ ~q
q →p q ∧ ~p
~p →~q ~p ∧ ~q
~q →~p ~p ∧ q
Negasi kalimat berkuantor :
~(semua p) = ada/beberapa ~p
~(ada/beberapa p) = semua ~p
Penarikan Kesimpulan :
1. Modus Ponens 2 Modus Tollens 3. Modus Sillogisme
p → q (Benar) p → q (Benar) p → q (Benar)
p (Benar) ~q (Benar) q → r (Benar)
∴ q (Benar) ∴ ~p (Benar) ∴p → r (Benar)
SMA - 3
WWW.BELAJAR-MATEMATIKA.COM
Diperbolehkan memperbanyak dengan mencantumkan sumbernya
Contoh Soal :
1. Ingkaran dari (p ∧ q) → r adalah :
Jawab :
Dari table di atas didapatkan p → q ingkarannya p ∧ ~q
Anggap (p ∧ q) = p 􀃆 tidak berubah
r = q 􀃆 ~q = ~r
sehingga ingkaran dari (p ∧ q) → r adalah p ∧q ∧ ~ r
2. Negasi dari pernyataan “ Jika Budi belajar, maka ia lulus” adalah :
A. Jika Budi lulus, maka ia belajar
B. Jika Budi tidak lulus, maka ia tidak belajar
C. Jika Budi tidak belajar, maka ia tidak lulus
D. Budi belajar dan ia tidak lulus
E. Budi tidak belajar tetapi ia lulus
Jawab:
Pernyataannya sama dengan no 1 di atas
p → q ingkarannya p ∧ ~q
→ = ⇒ = identik dengan kata “ maka “
∧ = identik dengan kata “dan” , “tetapi”, “walaupun”, “meskipun”, ”hanya saja”
p = Budi belajar
q = lulus 􀃆 ~q = tidak lulus
p ∧ ~q = Budi belajar dan ia tidak lulus 􀃆 D
3. Diberikan premis-premis berikut :
1. Jika saya belajar matematika maka saya lulus ujian
2. saya tidak lulus ujian
Kesimpulan dari pernyataan tersebut :
A. Saya belajar matematika
B. Saya tidak belajar matematika
C. Saya tidak belajar matematika tetapi tetap tidak bisa
D. Saya tidak belajar tetapi lulus ujian
E. Saya tidak belajar matematika dan lulus ujian
SMA - 4
WWW.BELAJAR-MATEMATIKA.COM
Diperbolehkan memperbanyak dengan mencantumkan sumbernya
Jawab :
p = saya belajar matematika
~p = saya tidak belajar mateamtika
q = saya lulus ujian
~q = saya tidak lulus ujian
premis 1 : Jika saya belajar matematika maka saya lulus ujian : p ⇒ q
premis 2 : Saya tidak lulus ujian ~q 􀃆 Modus Tollens
Kesimpulan ∴ ~p
Maka kesimpulannya = ~p = saya tidak belajar matematika 􀃆 B
4. Negasi dari pernyataan “Beberapa siswa tidak mengikuti upacara” adalah:
A. Ada siswa yang mengikuti upacara
B. Ada siswa yang tidak mengikuti upacara
C. Semua siswa mengikuti upacara
D. Semua siswa tidak mengikuti upacara
E. Beberapa siswa mengikuti upacara
Jawab:
Lihat teori sebelumnya:
Negasi kalimat berkuantor :
1. ~(semua p) = ada/beberapa ~p
2. ~(ada/beberapa p) = semua ~p
Soal no. 4 memenuhi teori 2 􀃆 jawabannya adalah semua ~p
Step 1 : misal : p = tidak mengikuti upacara maka ~p = mengikuti upacara
Step 2 : ada/beberapa ingkarannya adalah semua
Sehingga jawabannya adalah = semua ~p = semua siswa mengikuti upacara 􀃆 C

Tauhid Uluhiyah

A.    Makna beriman kepada Uluhiyah Allah SWT

Beriman kepada Uluhiyah Allah SWT yaitu kepercayaan secara pasti bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak atas segala bentuk ibadah, baik yang lahir maupun yang batin. Seperti doa, khauf(takut), tawakkal(berserah diri), isti’anah( memohon pertolongan), salat, zakat, puasa, dan lain-lain. Jadi, hamba tersebut yakin bahwa Allah SWT adalah al ma’bud( dzat yang disembah), yang tidak ada sekutu baginya. Karena itu, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah SWT, sebagaimana firmannya:
          
163.  Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang( Al Baqarah:163)

Dalam ayat di atas Allah SWT mengahabarkan bahwa sesembahan yang hak hanya satu, karena itu dilarang  menjadikan sembahan lain selain diri-Nya.
Seorang muslim yang di dalam hatinya tertanam tauhid uluhiyah dengan kokoh maka dalam jiwanya terpatri tekad yang kuat bahwa segala pujian, harapan, doa, dan amal perbuatannya hanya semata-mata untuk pengabdian dan bakti kepada Allah SWT. Hanya Allah SWT sajalah yang di tuju oleh makhluk-nya untuk disembah.
Tauhid uluhiyah dalam pengertiannya sering diidentikan dengan tauhid ubudiyah, karena sesungguhnya adanya pengabdian yang hanya ditunjukan kepada Allah SWT merupakan konsekuensi dari keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT. Kata uluhiyah dinisbatkan kepada kata Al-llah, sedangkan ubudiyah dinisbatkan kepada kata abada.
Tauhid ini disebut ibadah karena dua pertimbangan: Pertama karena penisbatannya kepada Allah SWT, yang disebut tauhid uluhiyah. Kedua karena penisbatannya kepada makhluk,  yang disebut tauhid ibadah. Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah SWT dalam ibadah. Yang  berhak diibadahi hanya Allah SWT. Firmannya:
 •    •      
30.  Demikianlah, Karena Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak[1185] dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah Itulah yang batil
 [1185]  Maksudnya: Allah-lah Tuhan yang Sebenarnya, yang wajib disembah, yang berkuasa dan sebagainya.
1.    التعبد yang berarti ketundukan kepada Allah Azza wa jalla, dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, karena dorongan cinta dan pengagungan.
2.    المتعبدبه artinya seperti dikatakan Syaikhul-Islam ibnu Taimiyah rahimahullah,”nama yang mencakup apapun yang dicintai Allah SWT dan diridhainya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang jahir maupun batin.”
Sebagai misal adalah shalat. Pelaksanannya merupakan ibadah, yang berarti juga merupakan ketundukan. Shalat itu sendiri merupakan ibadah yang sekaligus merupakan المتعبد به  .
Pengesaan Allah SWT dengan tauhid ini, hendaklah engkau menjadi hamba bagi Allah SWT semata, meesakan-Nya dalam ketundukan, kecintaan, pengagungan dan beridah kepada-Nya dengan sesuatu yang disyariatkannya. Firman Allah SWT dalam surah Al Isra, ayat 22:
    •     
22.  Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).

Manusia bersujud kepada Allah SWT dan menjadikan Allah SWT sebagai tempat meminta, tempat mengadu, dan tempat menyandarkan segala pujian dan harapan. Semua yang berupa pengabdian, langsung ditunjukan kepada Allah SWT dengan tanpa perantara (wasilah) dalam bentuk apapun seperti manusia, berhala dan makhluk-makhluk lainnya.
      
Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri".
(QS Al Ankabut)


          •   
98.  Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu".(Al Baqarah:163)

Allah SWT adalah satu-satunya tempat disembah, bukan berarti bahwa Allah SWT berhajat disembah oleh hamba-Nya karena Allah SWT tidak membutuhkan bakti dari makhluk-Nya. Penyembahan di sini merupakan wujud ketaatan dan kepatuhan hamba dengan Tuhan, antara makhluk dengan Khaliknya.
Dengan demikian baik yang beribadah langsung ke hadirat Allah SWT seperti shalat, puasa, zakat, dan haji maupun beribadah yang tidak langsung seperti membangun mesjid, sarana pendidikan dan sebagainya hendaknya dilakukan karena Allah SWT. Tauhid atau keyakinan semacam ini terlukis dalam ucapan seorang muslim ketika membaca doa iftitah pada waktu melaksanakan shalat.
ان صلاتى و نسكى و محياي و مماتي لله رب العالمين
“ sesungguhnya shalatku, ibadahku,hidupku, dan matiku hanya untuk Allah rabul
alamin.”
B.     Beriman kepada uluhiyah Allah SWT
Yaitu mengakui bahwa hanya Allah SWT-lah Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu-Nya. Dan illah artinya adalah ma’luh maksudnya, yang disembah dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Yakni dengan mengesakan Allah SWT dengan segala bentuk ibadah sehingga kita tidak berdoa kecuali kepada Allah SWT, tidak takut kecuali kepada Allah SWT, tidak sujud kecuali kepada Allah SWT, tidak bertawakkal kecuali kepada Allah SWT, dan tidak tunduk kecuali kepada Allah SWT. Dan memang tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Allah SWT berfirman:
    
5.  Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].
(Al Fatihah:5)
[6]  Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, Karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[7]  Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba. Allah SWT berfirman Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dgn sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapak {An-Nisa’ 36}. Dan beberapa ayat-ayat lainnya yg isinya tentang hal ini.

C.    Pentingnya  beriman kepada uluhiyah Allah SWT
Pentingnya beriman kepada uluhiyah Allah SWT tampak pada hal-hal berikut ini:
a.    Bahwasanya tujuan penciptaan manusia dan jin adalah beribadah kepada Allah SWT semata,tidak ada sekutu bagi-Nya.  Allah SWT berfirman:
      
56.  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(Adz Zariyat:56)
            
84.  Dan dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.


b.    Bahwasanya maksud diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab samawi adalah  untuk menetapkan dan mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berhak disembah,sebagaimana firman Allah SWT:
    •      
36.  Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu (An Nahl:36)
[826]  Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.
[826]  Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.
c.    Sesungguhnya kewajiban pertama setiap manusia adalah beriman kepada uluhiyah Allah SWT.sebagaimana diwasiatkan Nabi kepada Mu’ad bin Jabal saat ia diutus ke Yaman. Ketika itu Nabi bersabda:
انك تاتي قومامن اهل اللكتاب فليكن اول ما تدعوهم اليه شها دة ان لا اله الا الله
“ sesungguhnya engkau akan datang kepada kaum dari kalangan ahli kitab, karena itu pertama kali yang hendaknya kamu serukan kepada mereka adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah .”( HR. Bukhari dan Muslim)
Maksudnya, hendaknya kamu mengajak mereka untuk mengesakan Allah SWT dalam berbagai bentuk ibadah.

D.    Makna ‘Laa Ilaaha Illallaah’
Kalimat yang agung ini adalah sesuatu yang pertama kali diwajibkan atas manusia, sebagaimana ia adalah kewajiban terakhir bagi seseorang. Maka barangsiapa meninggal diatas kalimat tersebut berarti ia termasuk penghuni syurga,sebagimana disabdakan nabi saw:
من مات وهويعلم ان لا اله الاالله دخل الجنة
“Barangsiapa meninggal dunia dan ia mengerti bahwa tidak ada sesmbahan yang hak kecuali Allah, niscaya ia akan masuk syurga”(HR Muslim)

Maka makna ‘al-ilah’ adalah ‘al- ma’bud’ ( yang disembah). Sehingga barangsiapa menyembah sesuatu yang lain berarti ia telah menjadikan sembahan selain Allah SWT. Padahal semua itu batil kecuali hanya satu sembahan,yakni Allah SWT semata.

E.    Rukun-rukun ‘ Laa Ilaha Illallah’
kalimat yang agung ini memiliki dua rukun,yaitu: an-nafsu (peniadaan) dan al-itsbat (penetapan).
Rukun yang pertama yaitu’ laa ilaaha’ yang berarti penapian atau peniadaan ibadah kepada selain Allah SWT dan pembatalan kemusrikan serta kewajiban mengingkari segala apa yang disembah selain Allah SWT.
Rukun yang kedua,yaitu’ illallah’ yang berarti penetapan bahwa ibadah itu hanya ditunjukan kepada Allah SWT semata,serta mengesakan-Nya dalam segala bentuk dan macam ibadah. Dalilnya adalah firman Allah SWT:
         
256.  ...Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat ..( Al-Baqarah:256)

[162]  Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

F.    Syarat-syarat ‘ Laa Ilaha Illallah’
Syahadat laa ilaaha illallah harus memenuhi tujuh syarat:
1.    mengetahui makna ‘laa ilaaha illallah’
2.    meyakini yang diucapkannya,jika ia ragu-ragu maka itu tiada bermanfaat baginya. Allah SWT berfirman:
         
15.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu ( Al Hujarat:15)
3.    menerima apa yang ditunjukan oleh makna kalimat itu yakni beribadah hanya kepada Allah SWT semata.
4.    Inqiyad (patuh) terhadap makna yang ditunjukannya. Allah SWT berfirman:
            
22.  Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. ( Luqman;22)

makna ‘yuslim wajhahu’(menyerahkan diri) adalah ‘yanqadu wa yakhda’u (tuduk dan patuh),sedangkan buhul tali yang kokoh adalah‘laa ilaha illallah”
5.    Shidq(jujur),yaitu hendaknya orang yang mengucapkan kalimat ini benar-benar jujur dari dalam hatinya. Nabi bersabda:
ما من احد يشهد ان لا اله الاالله وان محمداعبده ورسوله صدقا من قلبه الاحرمة الله على النار
" Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang hak melainkan Allah SWT dan bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya secara jujur dari dalam hatinya,kecuali Allah SWT mengharamkan dirinya dari neraka.” ( HR. Bukhari dan Muslim)
6.    Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala debu syirik,yaitu dengan cara tidak mengucapkan kalimat tersebut dengan tujuan selain dari pada Allah SWT.
ان الله حرم على النارمن قال لااله الاالله يبتغي بذلك وجه الله
“ sesungguhnya Allah SWT mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’(dengan ikhlas di hatinya) karena mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah SWT”( HR Bukhari dan Muslim)
7.    Mahabbah atau cinta kepada kalimat ini,serta isinya,juga mencintai orang yang mengamalkan konsekuensinya.
 ••                 
165.  Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.
.
G.    Makna ibadah
Ibadah merupakan bentuk amalan manusia dalam menghadapi Tuha. Ibadah mempunyai esensi yang tetap dan tergambar dalam motivasi ibadah sendiri.  Jadi aspek praktik ini mempunyai bentuk dan cara yang dapat berubah-rubah sesuai dengan tuntutan yang diterima dalam kondisi tertentu,tetapi motivasinya tetap. Di sini dimensi affektif  manusia menduduki fungsi yang terpenting, sebab ibadah merupakan pembinaan keyakinan dan pemupukan iman seseorang.

H.    Tauhid adalah sebab diterimanya ibadah
Sebagai kunsekuensi dari keyakinan kita, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT. (Tauhid Uluhiyah) dan bahwa tidak ada yang mencipta, mengurus dan mengatur alam semesta ini selain Allah SWT.
Maka dengan demikian, baik beribadah yang langsung kehadirat Allah SWT. Seperti sembahyang dan puasa, maupun ibadah sosial melalui amal kebaikan untuk kesejahteraan masyarakat tempat kita hidup seperti zakat, sedekah, penyantunan fakir miskin dan lain-lain, semua itu untuk keselamatan dan kebahagiaan kita sendiri.
Sebaliknya Allah SWT tidak perlu kepada ibadah kita, sebab sebagaimana yang telah difirmankan, bahwa Allah SWT. Tidak butuh kepada alam semesta ini, sehingga walaupun kita bersikap kufur, sama sekali tidak akan mengurangi keagungan Allah SWT.
Dalam praktek, ibadah itu dilakukan karena mengingat Allah SWT. Sebagai Penguasa Tunggal dan Maha Pencipta, dan juga karena didorong oleh keinginan menyatakan syukur atas segala nikmat dan karunia-Nya. Pernyataan syukur itu bukan hanya dengan ucapan syukur, terima kasih atau yang lazim dengan ucapan alhamdulillah saja, tetapi yang terutama dengan cara mentaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya atau dengan kata lain harus taqwa dan sekaligus menyatakan syukur atas nikmat  dan karunia-Nya.
Ibadah yang semata-mata mengingat perintah Allah SWT. Seperti dalam firman-Nya:
       
23.  Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
Syekh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,” Ketahuilah kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun tidak memiliki bandingan yang dapat dikiaskan tetapi dari sebagian segi mirip dengan kebutuhan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya ini terdapat perbedaan mendasar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan rohnya ia tidak bisa baik kecuali dengan Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Ia tidak bisa tenang di dunia kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah maka hal itu tidak akan berlangsung lama tetapi akan berpindah-pindah dari satu macam ke macam yg lain dari satu orang kepada orang lain. Adapun Tuhannya maka Dia dibutuhkan tiap saat dan tiap waktu; di mana pun ia berada maka Dia selalu bersamanya”. {Majmu Fatawa I/24}.
Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud munculah lawannya yaitu syirik. Sedangkan Allah SWT berfirman Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.

TAUHID RUBUBIYAH

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah Ta’ala dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepada-Nya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dengan demikian, tauhid itu mencakup dalam tiga macam: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah serta tauhid asma’ wa sifat. Setiap macam dari ketiga tauhid tersebut sebagai seorang muslim haruslah mengerti dan ini harus pula dijelaskan agar menjadi terang perbedaan antara ketiganya. Islam merupakan agama yang telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala seperti ternukil di dalam firman-Nya, “…Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Ku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai bagimu islam sebagai agamamu…”.(Al-Maidah:3).
Dalam ayat ini mengandung pengertian bahwa islam itu telah sempurna dan tidak lagi membutuhkan tambahan sedikitpun. Karena itu di dalam kita mempelajari segala sesuatu tentang islam ini maka kita harus merujuk kepada para sahabat Radhiyallahu ‘Anhu yang mana mereka mendapat pelajaran langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Secara etimologis kata “Rabb” sebenarnya mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan, mendidik, memelihara, memperbaiki, menanggung, mengumpulkan, mempersiapkan, memimpin, mengepalai, menyelesaikan suatu perkara, memiliki dan lain-lain, namun untuk lebih sederhana dalam hubungannya dengan Rububiyatullah (Tauhid Rububiyah) kita mengambil beberapa arti saja yaitu mencipta, member rezeki, memelihara, mengelola, dan memiliki (kata-kata mencipta, member rezeki dan mengelola disimpulkan dari beberapa pengertian etimologis diatas),dan sebagian arti Rabb kita masukkan secara khusus ke dalam pengertian Mulkiyatullah (tauhid mulkiyah) seperti memimpin, mengepalai dan menyelasaikan suatu perkara.  Dengan pengertian di atas ayat Allah SWT: “Alhamdu lillahi rabbil’alamin” bisa kita fahami bahwa segala puja dan puji hanyalah untuk Allah Yang Mencipta, Memberi rezki, memelihara, Mengelola dan memiliki alam semesta. Begitu juga ayat :”Qull a’uzubirabbinnas”, bisa kita fahami : katakanlah (Hai Muhammad), aku berlindung dengan yang Maha Pencipta, Memberi Rezki, Memelihara, Mengelola (kehidupan) dan memiliki manusia. Pengertian bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Zat Yang mencipta, Memberi rezki, Memelihara, Mengelola dan memiliki, banyak kita dapati, di dalam kitab suci Al-Qur’an, antara lain dalam ayat-ayat berikut ini.

 ••            

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (Al-Baqarah 2; 21)
              •            
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah Padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah 2; 22)

Tauhid rububiyah ialah suatu kepercayaan, bahwa yang menciptakan alam dunia beserta seisinya ini, hanya Allah sendiri tanpa bantuan siapa pun. Dunia ini ada, tidak berada dengan sendirinya tetapi ada yang menciptakan dan ada pula yang menjadikan yaitu Allah SWT. Allah Maha Kuat, tiada kekuatan yang menyamai af’al Allah SWT. Maka timbullah kesabaran bagi makhluk, untuk meng-agungkan Allah, makhluk harus bertuhan hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Maka keyakinan inilah yang disebut Tauhid rububiyah. Jadi tauhid rububiyah ialah tauhid yang berhubungan dengan soal-soal ketuhanan.
Allah adalah pencipta alam semesta beserta seisinya, seperti firman-Nya Al-Qur’an :

             
“(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia”

                                                   
Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka Patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, Padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (Ar-Rad 13;16)
Dan bahwasanya Dia adalah penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatunya. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Yang Allah telah jelaskan dalam firman-Nya:
                      •           •  •                    

”Katakanlah: ‘WahaiRabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Kau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab(batas).”(Ali Imran: 26-27).
Allah Ta’ala telah menafikan (menghilangkan) sekutu baginya dalam kekuasaan-Nya, sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Allah berfirman:
                 
”Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah…”(Luqman:11)

Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam RububiyahNya atas segala Nya,
                •                    
”Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.”(Al-A’raf:54).
Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya.
    Bentuk tauhid semacam ini tidak ada yang mengingkari selain penganut faham materialis-atheis yang mengingkari wujud Allah SWT, seperti kaum Dahriyyun pada masa lalu dan komunisme pada masa sekarang. Termasuk pengikut faham materialis adalah penganut ajaran Dualisme, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa alam memmiliki dua tuhan, tuhan cahaya dan tuhan kegelapan.


    Adapun umumnya orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrikin), seperti bangsa Arab, mereka mengikuti tauhid ini dan tidak mengingkarinya, sebagaimana diceritakan dalam al-qur’an :
  •              
“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (al-Ankabut : 61)

                                                                 
84. Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?"
85. mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak ingat?"
86. Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya 'Arsy yang besar?"
87. mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak bertakwa?"
88. Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
89. mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (Al-mu’minun 23;84-89)

    Beriman kepada Rububiyah Allah tidaklah cukup bagi seorang hamba untuk menjadikannya sebagai seorang muslim, tetapi untuk itu ia harus beriman kepada Uluhiyyah Allah. Sebab Nabi SAW tetap memerangi orang musyrik arab, padahal mereka mengakui Rububiyah Allah.

Seluruh makhluk, baik yang berbicara maupun yang tidak, yang hidup maupun yang mati, semuanya tunduk kepada perintah kauniyah Allah. Semuanya menyucikan Allah dari segala kekurangan dan kelemahan, baik secara keadaan maupun ucapan. Orang yang beakal pasti semakin merenungkan makhluk-makhluk ini, semakin yakin itu semua diciptakan dengan hak dan untuk yang hak. Bahwasannya ia diatur dan tidak ada pengaturan yang keluar dari aturan Pengaturnya. Semua meyakini Sang Pencipta dengan fitrahnya.
Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Mereka tunduk menyerah, pasrah dan terpaksa dari berbagai segi, diantaranya:
1. Keyakinan bahwa mereka sangat membutuhkanNya.
2. Kepatuhan mereka kepada Qadha’, qadar dan kehendak Allah yang ditulis atas mereka.
3. Permohonan mereka kepadaNya ketika dalam keadaan daruran dan terjepit.
    Seorang mukmin tunduk kepada perintah Allah secara ridha dan ikhlas. Begitu pula ketika mendapatkan cobaan, ia sabar menerimanya. Jadi ia tunduk dan patuh dengan ridha dan ikhlas.”(Majmu’ Fatawa,I). Sedangkan orang kafir, maka ia tunduk kepada perintah Allah yang bersifat kauni (sunnatullah).
Adapun maksud dari sujudnya alam dan benda-benda adalah ketundukan mereka kepada Allah. Dan masing-masing benda bersujud menurut kesesuaiannya, yaitu suatu sujud yang sesuai denga kondisinya serta mengandung makna tunduk kepada Ar-Rabb.
Tidak satupun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir dan qadha’Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah. Dia adalah pencipta dan penguasa alam. Semua milik-Nya. Dia bebas berbuat terhadap ciptaanNya sesuai dengan kehendakNya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan dan dikendalikanNya. Dialah Yang Mahasuci, Mahaesa, Mahaperkasa, Pencipta, Pembuat dan Pembentuk.