Motto

Hidup adalah pembelajaran tak kenal henti....

Wednesday, May 23, 2012

NarasiI Perluasan Wilayah Pada Masa Umar Ibn Khattab

4. NARASI PERLUASAN WILAYAH PADA MASANYA
Awal Cerita Penaklukan
Setelah nabi wafat, Islam telah tersebar di seluruh semenanjung Arab. Ketika Umar ibn Khattab berkuasa, Islam menyebar ke luar semenanjung yang gersang dan tandus itu, menuju wilayah-wilayah hijau subur, dan kaya ; ke kota-kota pusaka;  ke negeri-negeri legenda yang memiliki sejarah serta peradaban lebih tinggi.
Sebelum masa penaklukkan Islam, Suriah ditempati oleh bangsa Suriahe-Aramatic (Suryani), sebagian elite Yunani dan romawi berbicara dalam bahasa tersebut. Mesir ditempati bangsa Yunani dan Koptik. Cyrenaica dan Afrika utara dihuni bangsa Romawi dan Barber. Palestina didiami orang-orang berbahasa Suryani, Yunani, dan Ibrani. Irak dan seluruh wilayah Persia ditempati bangsa Arya-Persia dan sebagian kecil Suryani. Meski demikian, terdapat minoritas klan Arab yang tinggal di wilayah kecil perbatasan Suriah dan Irak, seperti Ain Tamar dan Hira. Hanya sekitar sepuluh tahun, umar berhasil menguasai seluruh wilayah itu.
Umar dan Penaklukan Suriah
•    Menaklukkan Damaskus
Setelah terpilih, Umar mengambil alih komando besar atas pasukan muslim. Mula-mula Umar mengganti Khalid ibn Walid dengan Ibnu Ubaidah ibn al-Jarrah. Umar memerintahkan mereka untuk menunda perhatiannya atas pella-tempat sebagian pasukan Bizantium yang kalah perang bersembunyi dan lebih terkonsentrasi untuk bergerak menuju Damaskus.Karena letaknya yang strategis, yaitu dijalur utama dagang dunia, di dekat pesisir Levantina (Medeterania Timur), Damaskus pernah dikuasai berbagai imperium dunia, seperti Akkadia, Ibrani, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, dan Arab Islam.
Pasukan Islam bergerak menuju kota bergerbang tujuh itu. Mendengar kabar itu, kaisar Heraklius mundur ke Emesa. Umar memerintahkan untuk mendahulukan Damaskus daripada Pella sekalipun jarak pella lebih memungkinkan untuk lebih dahulu dijangkau karena Damaskus adalah kunci utama menaklukkan kota-kota Suriah lainnya., bahkan juga kota-kota palestina dan pesisir Levantina sekaligus sebagai pintu gerbang menuju Emesa (Himsh) dan Antiokia dari arah Selatan.
Umar juga menempatkan pasukan disetiap pintu gerbang itu; pasukan Khalid ibn al-Walid di gerbang Timur (bab as-syarq), Amr ibn al-Ash di gerbang Thomas (bab thuma), Abu Ubaidillah di gerbang Jabiyyah, dan Yazid ibn Abi Sufyan digerbang Faradis. Umar juga memerintahkan beberapa pasukan untuk di utara Damaskus yang menjadi jalan terusan menuju Emesa untuk berjaga-jaga jika Heraklius mengerahkan pasukannya secara tiba-tiba dari kota tersebut.
Setelah menjalani pengepungan selama enam bulan, Damaskus akhirnya dapat ditaklukkan, tepat pada Februari 635 M. Mula-mula Khalid yang pertama kali berhasil membuka sisi timur benteng kota itu, kemudian disusul Abu Ubaidillah di sisi gerbang yang lain. Taka da perlawanan berarti dalam usaha penaklukkan kota itu. Kebanyakan masyarakat Damaskus justru lebih memilih berdamai dan menyerahkan sepenuhnya kota tersebut kepada otoritas Islam. Negosiasi antara penduduk kota dan pihak Islam pun berjalan dengan lancer, beberapa perjanjian dan persyaratan dibuat. Pihak Islam pun memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk kota sebagai kompensasi dari jizyah yang ditetapkan.
•    Menaklukkan Pella (Fihl)
Setelah Damaskus dikuasai, Abu Ubaidah, Khalid, Syarhabil, Amr, dan pasukan Islam lainnya bergerak ke selatan menuju Fihl, sebuah kota kecil di Lembah Baisan, beberapa kilometer di selatan Danau Tiberias yang menjadi salah satu wilayah utama Yordania. Fihl dilewati sungai Yordan yang deras, yang menghubungkan Danau Tiberias dengan laut mati. Ketika mengetahui pasukan islam dating dari Damaskus, sisa pasukan Bizantium yang masih bertahan di Fihl menjebol saluran irigasi dan sungai Yordan yang mengalir di sepanjang tepian Fihl. Air sungai itu pun meluap. Tanah lembah itu berubah jadi lautan lumpur.
Garis depan pasukan Islam tak bias bergerak, terjebak luapan lumpur itu. Namun, keadaan Bizantium justru lebih parah. Mereka terendam lumpur karena berada di tepi sungai itu. Maka pasukan muslim segera menghujani mereka dengan anak panah. Sebagian besar tewas. Sisanya berpencar melarikan diri, Fihl akhirnya dapat ditaklukkan. Abu Ubaidah segera mengirim berita kemenangan ini ke Madinah.
•    Menuju Chalcis (Qinnasrin)
Qinnasrin  atau Chalcis adalah provinsi paling utara Suriah, yang membawahi beberapa kota-kota penting, yaitu Qinnasrin sendiri, Lattakia, Aleppo (Halab), dan Antiokia tempat Heraklius saat itu berada setelah pelariannya dari Himsh.
Pasukan Islam berhenti sejenak di Himsh untuk menentukan arah penaklukkan di Qinniasrin. Sebagian berpendapat untuk lebih dahulu bergerak ke kota utama dan terbesar, tetapi pertahanan terkuat Bizantium berada di Aleppo. Seperti halnya Damaskus di wilayah Suriah bagian selatan, Aleppo di Suriah bagian utara adalah kokojo domino. Jika Aleppo dapat lebih dahulu ditaklukkan maka Antiokia dan kota-kota lainnya akan lebih mudah dikuasai.
•    Menaklukkan Aleppo (Halab)
Penaklukkan Islam atas Aleppo terbilang sangat sulit. Selain berada di atas bukit terjal dan dikelilingi benteng, gerbang kota Aleppo hanya satu; dari arah depan. Setelah sekian hari dikepung pada suatu malam yang gelap, beberapa pasukan Islam memanjat tembok benteng. Mereka berhasil menyelinap dan memasuki bagian dalam benteng, mengendap-endap, menyergap beberapa penjaga, hingga berhasil memutus rantai gerbang dan membukanya. Pasukan Islam yang telah berada didepan pintu gerbang secara diam-diam di malam gelap itu segera memasuki gerbang dan bergerak ke dalam. Pecahlah pertempuran antara kedua belah pihak. Pertempuran berlanjut hingga hari beranjak siang, dan akhirnya dimenangkan oleh pihak Islam. Korban pada pihak Bizantium lebih banyak, dan Vartanius, panglima Bizantium yang dipasrahi untuk mempertahankan  Aleppo itu pun tewas.
•    Menguasai Antiokia (Anthakiyyah)
Kota Antiokia diserahkan secara damai oleh uskup agung nya kepada pihak Islam. Kemegahan dan keindahan kota ini pun dapat terjaga dari akibat-akibat pertempuran. Pihak Islam memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk kota dan penduduk kota itu diwajibkan membayar jizyah, pajak keamanan yang terbilang sangat sedikit itu.

Umar Dan Penaklukkan Palestina
•    Menuju Palestina
Pada musim gugur tahun 635 M, atas titah Khalifah Umar di Madinah, Amr ibn al-Ash dan Syarhabil ibn Hasanah beserta pasukannya bergerak menuju palestina. Palestina adalah tanah pusaka bagi sejarah peradaban manusia. Palestina adalah wilayah suci yang diberkahi, tempat sejarah kehidupan nabi-nabi terjadi Iberahim, Ishak, Yakub, Dawud, Sulaiman, Ilyasa dan para pengikut Musa, juga Isa al-Masih, sekaligus Muhammad yang berisra.
•    Menaklukkan Galilea (Jalil)
Pasukan Islam bergerak melalui Golan (jaulan), daerah pegunungan yang subur, hijau, rimbun, dan sejuk di perbatasan Suriah dan Palestina. Keindahan panorama pegunungan Golan tak tertandingi. Di situlah pasukan Islam berhenti untuk beristirahat sejenak.
Dari Golan, Amr dan pasukannya memasuki Galileia, sebuah kawasan hijau dan subur di bagian utara Palestina.
Amr dan pasukannya tak mendapat  banyak kesulitan ketika menaklukkan kota-kota sepanjang Galileia. Mereka hanya mendapat perlawanan kecil dari pihak Bizantium yang masih tersisa. Setelah penaklukkan, Amr dan pasukan Islam memberi jaminan keamanan dan kepemilikan kepada seluuh rakyat galileia, lalu bergerak ke Yerussalem.
•    Menaklukkan Pesisir Levantina (sawahil as-Syam)
Sementara itu, Yazid ibn Abi Sufyan dan adiknya, Mu’awiyah yang ditugaskan untuk menaklukkan sepanjang pesisir pantai levantina , membagi pasukan ke dua arah; arah utara dipimpim Mua’wiyah dan arah selatan dipimpin Yazid. Di utara pasukan Islam berhasil menaklukkan Beirut, Tripoli, Sidon, Byblos, dan Latakia di utara Suriah hingga akhir tahun 635 M 15 H). Pasukan Islam yang bergerak ke arah selatan juga berhasil menaklukkan satu per satu kota Bandar di sepanjang pesisi itu Sidon , Acre, hingga Haiva di bagian provinsi Palestina.
•    Pertempuran Ajnadin
Saat mengetahui pasukan Islam yang dipimpin Amr ibn al-ash bersama syarrhabil inb Hasanah tengah bergerak kea rah palestina Palestina, pangeran Konstantin II segera mempersiapkan pasukan dan memanggi bala bantuan dari Siprus dan  Konstantinopel dan mengangkat Artavon (Arthabon) sebagai panglima.
Sementara itu, pasukan Yazid yang telah menaklukkan Haiva segera bergabung dengan pasukan Amr, untuk kemudian bersama-sama menuju Yerussalem. Saat melintasi Ajnain, pasukan Islam bertemu dengan pasukan Biantium dari Caesarea. Pertempuran pun pecah sedahsyat perang Yarmuk dulu. Dalam pertempuran itu, pihak Bizantium kembali dikalahkan. Artavon, panglima perang dari Caesarea, beserta beberapa yang tersisa lantas melarikan diri menuju Yerussalem
•    Menguasai Yerussalem (Al-Quds)
Musim dingin tahun 636 M telah tiba. Yerussalem Khalifah Umar dan memasuki Yerussalem. Pasukan Islam telah tiba di sisi kota kuno itu dan melangsungkan pengepungan kota sepanjang musim dingin. Khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah, Khalid, dan Mu’awiyah, yang telah berhasil menaklukkan seluruh wilayah suriah dan pesisir Levantina, untuk segera bertolak ke Yerussalem dan bergabung dengan pasukan Amr.
Di balik benteng, di dalam gereja, panglima Artavon dan Patriach Suphronius, uskup agung gereja Yerussalem, tengah berdebat sengit. Artavon bersikeras menginginkan Yerussalem tetap dipertahankan dari penaklukkan pasukan Islam, sekalipun harus mengobarkan peperangan di dalam kota suci itu. Sementara Sophronius menganggap bahwa pendudukan dari orang-orang Islam adalah penjelmaan dari kehendak Tuhan yang dikirimkan untuk mengakhiri kekuasaan orang-orang Bizantium. Sopphoronius lebih memilih bernegosiasi dan menyerahkan Yerussalem kepada pihak Islam dengan jalan damai.
Orang-orang yang berkumpul di gereja dan mengikuti jalannya perdebatan akhirnya lebih mengamini pendapat sang Uskup. Mereka setuju jika yerussalem diserahkan dengan jalan damai. Maka, salah seorang utusan dikirim untuk menemui pihak Islam diluar benteng. Utusan itu dating membawa syarat-syarat penyerahan kota, yaitu tidak aka nada pengangkatan senjata, di izinkan sisa-sisa pasukan Bizantium untuk berangkat ke Mesir, dan penyerahan Yerussalem diterima secara langsung oleh pemimpin tertinggi umat islam, khalifah Umar. Abu Ubaidah menerima syarat-syarat tersebut. Ia pun mengundang Khalifah Umar ke Yerussalem untuk menerima penyerahan kota tersebut.
Saat itu, Umar berada di Jabiyah, di selatan Damaskus untuk sebuah pengaturan administratif. Perutusan Abu Ubaidah dari Yerussalem dating menghadap Umar, menyampaikan undangan dan pesan-pesan, untuk kemudian segera kembali dengan membawa surat dari khalifah.
Umar dan Penaklukkan Persia
•    Pertempuran besar Qadisiah (Qadisiyah)
Pasukan persia, dibawah pimpinan Argabadz Rustam, mulai meninggalkan ibukota Ctesiphon (Mada’in) di sebelah timur, menyeberangi sungai Tigris, melintasi daratan hijau Jazirah yang subur, menyeberangi sungai Eufrat, melewati Hira, lalu terus bergerak menuju arah pertahanan pasukan Islam di lembah Qadisiah.
Kedua pasukan kini telah bertemu dan berhadapan. Pasukan Islam berjumlah 8.000 orang, pasukan Persia 60.000 orang. Bala bantuan pasukan Islam dari Suriah rupanya belum dating. Kedua pasukan kini sama-sama menunggu pekik kumandang takbir, bunyi lengking terompet perang, dan perintah menyerbu dari komandan masing-masing.
Hingga bunyi terompet perang pun terdengar nyaring dari pihak Persia. Pasukan Islam menyambutnya dengan kumandang takbir yang menggelegar. Kedua pasukan sama-sama bergerak dan merengsek maju. Pertempuran pun pecah dan berkecamuk dengan dahsyat, dan berlangsung empat hari lamanya. Ditengah –tengah kondisi yang demikian berkecamuk, bala bantuan Islam dari Suriah dating. Mereka segera menggabungkan diri dengan pasukan Islam.
Pertempuran Qadisiah berakhir dengan kemenangan pasukan Islam. Di Madinah, Khalifah Umar menunggu kabar perang tersebut dan gelisah. Maka, ia memutuskan untuk berangkat hingga sampai di luar kota Madinah dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan Umar bertemu seorang penunggang kuda. Ia adalah utusan panglima Sa’d dari Qadisiah untuk mengabarkan kemenangan pihak Islam di Qadisiah kepada Khalifah Umar di Madinah.
•    Menaklukkan Ibu kota Ctesiphon (Mad’in)
Atas perintah khalifah Umar, sebagian pasukannya Islam di Qadisiah diperintahkan untuk mengejar sisa-sisa pasuka Persia yang melarikan diri kea rah Timur, sebagian mereka bertahan di kota kecil Babil, dan sebagian lainnya pergi hingga ke Ctesipphon (mada’in), ibu kota kekaisaran Persia di seberang sungai Tigris.
Sa’d dan pasukannya segera bergerak ke timur menuju babil untuk kemudian ke Mada’in. babil adalah ibukota di persimpangan sengai Eufrat yang berdiri di dekat reruntuhan kota Babilonia, kota kuno yang menatahkan dongeng tengn Raja Hamurabi, Nebukadnezar, hingga taman gantungnya yang demikian melegenda. Dimota itu, paukan Persia telah mebuat parit-parit pertahanan untuk menghadapi kedatangan pasukan Islam.
Sa’d lalu memerintahkan pasukannya untuk berhenti pada garis yang sekiranya mereka tak terkena serangan panah pasukan Persia. Sa’d juga mulai kembali mengatur siasat perang. Sa’d memerintahkan pasukannya untuk menggali saluran air dari sungai Eufrat yang diarahkan pada parit Persia. Pasukan Islam pun mengalirkan air sungai yang deras itu hingga membanjiri parit-parit pasukan Persia. Pada saat yang sama, pasukan Islam langsung menyerbu pihak Persia yang tengah kacau dan kehilangan pertahanan, babil pun segera jatuh dan dapat dikuasai.
•    Menaklukkan Hulwan dan Masabazan
Atas perintah Khalifah Umar dari Madinah, Qa’ad ibn Amr lantas bergerak menuju Hulwan untuk melakukan pengejaran. Setiba di Hulwan, pasukan Islam tidak mendapati perlawanan. Penduduknya memilih berdamai dan membayar jizyah.
Setelah sepenuhnya menguasai Hulwan, Khalifah Umar dari Madinah menginstruksikan pasukan Islam untuk segera bergerak ke Masabazan dibawah pimpinan Dharar ibn al-Khathab al-Fihri. Mereka beranjak kea rah timur menuju kota Masabazan, wilayah pegunungan yang ditumbuhi banyak pepohonan dan terletak di anatara Hulwan dan kota besar Jundal Saphur.
Sementara itu, panglima Hormuzan rupanya telah mempersiapkan perlawanan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Dharar dan pasukannya pun langsung menggempur pihak Persia. Pertempuran kecil tidak berimbang itu pun segera berakhir dan dimenangkan pasukan Islam. Hormuzan kembali melarikan diri ke-wilayah pegunungan Ahwaz, sementara sisanya melarikan diri ke arah pegunungan. Dharar memerintahkan sebagian pasukan Islam untuk mengejar mereka dan menyerukan titah menyerah. Maka, mereka pun berbondong-bondong kembali turun ke Masabazan dan menyepakati perjanjian damai.
•    Menaklukkan Ahwaz
Ahwaz berbatasan langsung dengan Aljibal di utara, khurasan timur, Persepolis (Fars) di selatan, dan bagian baratnya berbatasan dengan Sungai Tigris dan pesisir Teluk Persia. Di wilayah Ahwaz terdapat kota-kota strategis, seperti Manadzir, Sussa, Tustar, dan Jundai Shapur. Penjelasan tentang Ahwaz pun disampaikan oleh Sa’d kepada khalifah Umar, juga kabar Hormuzan yang berkhianat, Umar memberikan izin kepada pasukannya untuk melakukan serangan ke wilayah Ahwaz dan sisa wilayah Persia lainnya.
Dari Madinah, khalifah Umar memberikan izin kepada Sa’d. Setelah itu, Sa’d dan pasukan Islam bergerak menyisir berbagai penjuru wilayah Ahwaz dengan membagi kelompok pasukan. Sa’d juga meminta bala bantuan kepada Utbah ibn Ghaazwan dari kota Kufah. Beberapa kota berhasil ditaklukkan, seperti Maisan, Damaizan, Manazhir, dan Nahrtiri. Hingga tibalah pasukan Islam dikota Suq al-Ahwaz di tepian sungai Tigris. Di kota inilah panglima Hormuzan menyatakan menyerah dan memilih untuk berdamai. Utbah ibn Ghazwan pun menerima permintaan damai dari Hormuzan lalu menunjuk beberapa wali untuk mengamankan kota-kota sepanjang Ahwaz yang telah ditaklukkan; Sullam ibn Kain at-Tamimi untuk kota Manadzir, dan Harmala ibn Muraiths untuk kota Nahrtiri hingga Suq al-Ahwaz.
Namun, mendadak Hormuzan mengkhianati janji damai yang dahulu ia ikrarkan sendiri. Hormuzan menyulut kerusuhan dan membunuh beberapa rakyat sipil, serta melakukan perlawanan bersama orang-orang kurdi. Suq al-Ahwaz pun kembali bergolak. Utbah segera melaporkan keadaan ini kepada Sa’d, dan langsung mengabari Khalifah Umar. Lalu datanglah perintah dari madinah untuk menumpas pengkhianatan Hormuzan beserta bala bantuan di bawah pimpinan Haqush ibn Zuhair.
Pertempuran kembali pecah di kota Suq al-Ahwaz. Pasukan Islam dapat dengan mudah menekuk pasukan Hormuzan. Dalam peperangan singkat itu, Hurmozan kembali berhasil meloloskan diri menuju Tustar. Suq al-Ahwaz kini dapat sepenuhnya dikuasai. Khalifah Umar memerintahkan untuk mengejar Hurmozan, dan menunjuk Juz ibn Muawiyah untuk mengepalai pasukan pengejar itu.
•    Menaklukkan Tustar
Hitungan tahun Hijriyah sudah memasuki angka ke-18 (639 M). Di Tustar, Hormuzan kembali menyusun kekuatan. Dari pelariannya di Rayy, kIsra Yezgerd memanggil segenap bala bantuan dari beberapa wilayah bagian timur laut, seperti Persipolis,Mer, Nahawand, dan Khurasan. Mengetahui hal ini, Khalifah Umar dari Madinah kembali memerintahkan panglima besar Sa’d untuk mempersiapkan pasukan perang dan bergerak menuju Tustar. Umar juga memanggil pasukan bantuan dari Bashrah, dibawah pimpinan Abu Musa al-Asy’ari di Bashrah, juga dari Kufah, di bawah pimpinan Sahl ibn Adi, juga pasukan Nu’man ibn Muqarrin dari Ahwaz.
Pengepungan kota Tustar yang dikelilingi benteng itu berlangsung beberapa bulan. Selama itu pula terjadi beberapa kali peperangan. Hingga pada suatu hari, pasukan Islam berhasil menemukan jalan rahasia untuk memasuki benteng. Mereka pun memasukinya tanpa diketahui pihak Persia, sehingga berhasil membukakan pintu pintu gerbang utama. Seketika itu pasukan Islam yang menunggu di luar gerbang segera berhamburan. Pasukan Persia yang berada di dalam rupanya tak dapat berkutik oleh serangan dadakan itu, Panglima Hormuzan akhirnya ditawan dan diserahkan kepada khalifah Umar.
•    Menaklukkan Sussa dan Jundai Saphur
Sementara itu, sisa pasukan Persia yang selamat dari pertempuran Tustar pergi melarikan diri ke Sussa dan Jundai Saphur. Pasukan Islam segera mengejar mereka di bawah komando Nu’man, Abu Musa al-Asy’ari, dan Abu Sabrah
Perjalanan dari Tustar ke Sussa tidak membutuhkan waktu lama, karena jarak keduanya tidak jauh. Setiba di Sussa, pasukan Islam tidak mendapat perlawanan dari Persia. Para penduduk kota memilih berdamai. Setelah menunggu instruksi dai Khalifah Umar di Madinah, pasukan Islam segera bergerak kembali menuju Jundai Saphur, kota besar dan pusat ilmu pengetahuan, sekaligus tempat bertemunya tradisi dan peradaban Persia dengan Yunani. Kali ini pasukan Islam dipimpin oleh panglima Zarruh ibn Abdillah dan Aswad ibn Rabi’ah. Seperti halnua Sussa, Jundai Saphur juga ditaklukkan dengan mudah. Para penduduk kota juga lebih memilih berdamai.
•    Pertempuran Besar Nahawand
Pasukan Islam berhasil memeanangkan pertempuran di Nahawad. Kerena kekalahan itu pasukan Persia telahdihinggapi rasa takut yang demikian rupa. Keadaan mereka makin kacau balau dan moral mereka pun berangsur merosot, maka dalam menghadapi keadaan mereka demikian itu taka da jalan lain Umar harus segera mengambil langkah. Ia mengerahkan kekuatannya di wilayah-wilayah itu sampai mereka tunduk semua keapada kekuasaanya dan taka ada lagi sisa-sisa yang akan mengadakan perlawanan, dan jangan pula ada pangeran-pangeran mereka yang akan berangan-angan seperti yang pernah terjadi, oleh karena itu dia sendiri yang menyusun brigade-brigade untuk mereka yang diberi tugass menjelajahi seluruh kawasan Persia: pimpinan brigade  Khurasan diserahkan kepada ahnaf bin Qais, brigade Ardasyir dan Shapur kepada Mujasyi’ bin Mas’ud as-Sulami, brigade Istakhr kepada Usman bin Abil-As-Saqafi, brigade Darabgird kepada Sariah bin kepada Asim bin Amr dan brigade Mukran kepada Hakam bin Amr at-Taglabi dengan perintah mereka harus bersiap-siap berangkat ke kota-kota dan kawasan-kawasan itu.
•    Menaklukkan Isfahan
Setelah kemenangan Nawahand, Khalifah Umar dari Madinah memerintahkan sebagian pasukan Islam utnuk bergerak menuju Isfahan dan Rayy. Umar menunjuk Abdullah ibn Abdullah ibn Utbah untuk mengepalai pasukan menuju Isfahan serta menunjuk Nu’aim ibn Muqarram, adik panglima Nu’man ibn Muqarrin, untuk mengepalai pasukan menuju Rayy.
Ketika mengetahui rencana pergerakan pasukan Islam menuju Rayy, Kisra Yazdgerd yang sedang berada dikota tersebut segera melarikan diri ke kota Isfahan. Ketika itu ia mengetahui bahwa pasukan islam lainnya tengah menuju Isfahan, Yazdgerd pun melanjutkan pelariannya hingga ke Kirman.
Sebelumnya, di balairung kekhalifahan di Madinah, Khalifah Umar terlebih dahulu meminta pendapat para sahabat tetua terkait pengejaran lanjutan ke Isfahan dan Rayy ini. Umar juga meminta pendapat Hormuzan, mantan panglima Persia yang kini memeluk Islam. Pasukan Abdullah telah tiba dan mengepung Isfahan, kota yang dikelilingi julangan benteng. Setelah pengepungan berjalan beberapa lama, penduduk kota akhirnya memilih berdamai dan membayar jizyah.
•    Menaklukkan Hamadan dan Rayy
Khalifah Umar juga memerintahkan Nu’aim ibn Muqarrin dan Qa’qa’ untuk mengejar sisa pasukan Persia yang melarikan diri ke Hamadan dan Rayy. Nu’aim dan pasukannya segera melaju ke Hamadan, dan dapat meanklukkan kota tersebut dengan mudah. Para penduduk kota memilih berdamai. Nu’aim bersama pasukannya lalu melanjutkan perjalanan untuk menaklukkan Rayy. Namun sepeninggal Nu’aim, Hamadan kembali bergejolak. Bahkan, pertahanan Panglima Qa’qa ibn Amr dengan pasukan kecilnya, semakin terdesak. Kondisi tersebut memaksa Nu’aim utnuk kembali ke Hamadan dan memadamkan pergolakan.
Sementara itu, kembalinya Nu’aim ke Hamadan dimanfaatkaan dengan baik oleh pihak Persia. Utusan-utusan rahasia dari Rayy dan Dailam melakukan pertemuan dengan penguasa Azerbaijan, Isfandiar, yang masih saudara Rustam panglima Persia yang wafat di perang Qadisiah. Maka terjadilah pemusatan kekuatan Persia di pegunungan Waj-Ruz anatara pasukan Rayy yang dipmpin Zabandi, pasukan Dailam yang dipimpin Mawta, dan pasukan Azerbaijan yang dipimpin Isfandiar.
Nu’aim dan 12.000 pasukannya segera bergerak ke Waj-Ruz. Di pegunungan itulah meletus pertempuran sengit. Kekuatan Persia akhirnya porak poranda dan nyaris semua prajuritnya binasa. Kekuatan Rayy dan Dailam pun berpindah ke tangan pasukan Islam.
Di lain pihak, pasukan muslim yang dipimpin Panglima Barrak Ibn Azib dan Panglima Hanzhala ibn Zaid, bergerak mengepung abhar. Abhar yang terkepung memeilih opsi berdamai dengan pasukan Islam. Selepas itu, pasukan Islam pun maju ke Kazwin dan Zanjan. Namun, seperti halnya abhar, kedua kota benteng tersebut pun menyatakan tunduk kepada Islam dan memilih untuk berdamai.
•    Menaklukkan Qom, Bistham, Jurjan, dan Tabaristan
Setelah berhasil menaklukkan Hamadan, Rayy, dan sekitarnya, Umar memerintahkan saudara Nu’aim ibn Muqarrin, yaitu Suwaid ibn Muqarrin, untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang belum dikuasai. Suwaid dan pasukannya pun bergerak menuju beberapa kota, seperti Qom, Bistham, dan Jurjan. Ketiga kota tersebut tidak melakukan perlawanan dan menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Islam.
Kondisi tersebut membuat penguasa wilayah Tabaristan, yang berbatasan langsung dengan ketiga kota itu, memilih opsi damai. Ia pun mengirim utusannya utnuk menjumpai Suwaid dan menyatakan menyerah dengan damai.
•    Menaklukkan Azerbaijan dan Armenia
Setelah menaklukkan Hamadan dan Rayy, Nu’aim ibn Muqarrin mengutus Bukair ibn Abdullah untuk segera bergerak ke Azerbaijan. Ia pun ditemani Sammak ibn Kharsyah. Di lain pihak, Isfandiar penguasa Azerbaijan, berusaha mempertahankan wilayah kekuasaanya. Pertempuran kecil pun terjadi, tetapi pada akhirnya Isfandiar berhasil ditangkap bersamaan dengan kekalahan pasukan Azerbaijan.
Setelah penaklukkan Azerbaijan, bantuan pasukan Islam dari Bashrah yang dipimpin Suraqah ibn Amr menyusul dating dan bertemu dengan pasukan Bukair. Atas restu Khalifah Umar di ibu kota, Suraqah dan pasukannya memutuskan untuk bergerak menuju Armenia bagian timur. Setibanya pasukan Islam di perbatasan Armenia, penguasa wilayah itu, Bagratid, memilih berdamai.
Hingga tahun 23 H (644 M), seluruh wilayah kekaisaran Persia dapat dikuasai. Yazdgerd sendiri melarikan diri ke arah timur, menuju Merv, dan hingga akhirnya wafat pada masa pemerintahan Khalifah Usman ibn Affan.

Umar dan Penaklukkan Mesir
Setelah izin penaklukkan Mesir diturunkan khalifah Umar dari Madinah, panglima Amr ibn al-Ash pun bergerak bersama seregu pasukan Islam dari Yerussalem. Khalifah Umar juga menurunkan pasukan bantuan yang dipimpin Zubair ibn al-Awwam, Basyar ibn Artha’ah, Kharijah ibn Hudzaifah, dan Umair ibn Wahab.
Umar menulis untuk Amr : “Sesungguhnya aku mengirimkan bantuan kepadamu empat ribu pasukan. Di anatara mereka terdapat empat lelaki yang derajatnya sama dengan seribu orang lainnya, Zubair ibn al-Awwam, Miqdad ibn al-Aswad, Ubadah ibn as-Shamit, dan Musallamah ibn Mukhlid.
Setiba di gerbang Mesir, di pesisir pantai Palesium, mereka bertemu dengan dua utusan Muqawqis, Sang Partiarc Alexandria. Keduanya lalu menghadap Muqawqis. Di samping Gebernur Mesir itu ada Arthabun, panglima Romawi untuk wilayah Mesir. Muqawqis mempertimbangkan seruan Amr, sementara Arthabun menolaknya.
Arthabun tak menghiraukan segala pertimbangan yang disampaikan. Sementara Amr ibn al-Ash dan pasukan Islam tengah menunggu jawaban dari pihak Mesir, dengan tetap bertahan di pintu masuk Mesir. Hingga beberapa hari kemudian, atharabun telah menyiapkan sejumlah pasukan, dan bahkan menyerang sebagian kecil pasukan Islam di perbatasan itu.
Amr pun memutuskan utnuk membalas serangan Arthabun. Ia dan pasukannya segera bergerak ke arah Memphis, kota besar di Mesir Tengah, tempat Arthabun dan pasukannya berada. Pertempuran pecah dengan sengit di Heliopolis, kota matahari di sisi timur Memphis. Amr dan Zubair dengan gigih berusaha merobohkan pasukan Arthabun di kota berbenteng tiu hingga pasukan Arthabun dikalahkan. Sementara itu, para penduduk setempat yang mayoritas beragama Kristen Koptik lebih memilih berdamai.
Setelah penaklukkandi wilayah, Memphis Amr memerintahkan pasukannya utnuk bergerak menuju Alexandria. Muqawqis sebelumnya menunaikan pajak negerinya kepada penguasa Romawi. Ketika Amr ibn al-Ash tiba dikota itu dan hendak mengepung kota, Muqawqis segera mengumpulkan para pendeta kota dan para pembesarnya. Muqawwis berkata kepada mereka, “Mereka orang-orang Arab itu, telah mengalahkan kekuasaan Kisra Persia dan Kaisar Romawi, serta menghilangkan mereka dari kerajaan mereka. Kita semua tidak memiliki daya di adapan mereka. Pendapatku, kita lebih baik membayar jizyah untk mereka. Muqawqis lalu mengirimkan seseorang utusan kepada Amr, yang menyatakan kesediaan penduduk Alexandria untuk membayar jizyah. Amr pun menerima tawaran mereka dan mengikat perjanjian, untuk kemudian segera mengirim berita penaklukkan damai Alexandria ini kepada Khalifah Umar di Madinah.
Sejarawan Saif berkata, negeri Mesir sepenuhnya dapat ditaklukkan pada bulan Rabiul Awal tahun 16 H, lalu berdirilah di negeri itu kerajaan Islam. Sebagian yang lain berkata : Negeri Mesir ditaklukkan pada tahun 20 H, dan kota Alexandria pada 25 H setelah tiga bulan.

Monday, February 20, 2012

Syi'ah

A.    Pengertian Syi’ah
Syi’ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk kepada keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau orang yang disebut ahl al-bait. Point penting dalam doktrin Syi’ah  adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama bersumber  dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl-al-bait atau para pengikutnya.
Dari segi lughat, kata syi’ah berarti golongan sahabat, pengikut dan penolong. Makna yang demikian ini dapat dijumpai dalam al-qur’an, Allah berfirman:
                                           
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).”
Syi’ah itu sebuah akar kata bermakna: pihak, kelompok.kata kerja daripadanya, yaitu syayya’a ataupun tasyayya’a menunjukkan pengertian: berpihak, memihak, bergabung, mengabungkan diri.
Menurut Thabathbai, istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (Syi’ah Ali). Pemimpin pertama ahl-bait pada masa Nabi Muhammad SAW. Abu Dzar al-Ghiffari, Miqad bin al-aswad dan Ammar bin Yasir.
 Inti mazhab Syi’ah, sebagaimana di uraikan Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya, adalah sebagai berikut:
“Sesungguhnya masalah imamah bukan bagian dari kemaslahatan umum yang dapat diserahkan kepada pendapat untuk menentukan siapa yang akan memegangnya. Imamah merupakan sendi agama dan prinsip Islam. Seorang Nabi tidak boleh melalaikan dan menyerahkannya kepada umat, tetapi wajib menentukan imam untuk mereka, sedangkan imam itu sendiri bersifat ma’shum (terpelihara) dari dosa-dosa besar maupun kecil.”
Adapun dari segi istilah, yang dimaksud dengan syi’ah adalah suatu jemaah atau golongan yang menganut suatu faham atau pendirian bahwa khalifah atau imam itu bukanlah suatu masalah yang boleh dipandang sebagai suatu kemaslahatan umum yang dapat diserahkan kepada umat untuk memilih dan menentukan orang yang berhak menjadi khalifah atau imam sesudah Nabi meninggal dunia.
Syi’ah adalah mazhab politik yang pertama lahir dalam Islam. Seperti telah disinggung, mazhab mereka tampil pada akhir masa pemerintahan ‘Utsman, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa ‘Ali. Setiap kali ‘Ali berhubungan dengan masyarakat, mereka semakin mengagumi bakat-bakat, kekuatan beragama, dan ilmunya. Karena itu, para propagandis Syi’ah mengeksplotasi kekaguman mereka terhadap ‘Ali untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka tentang dirinya. Di antara pemikiran itu ada yang menyimpang, dan ada pula yang lurus. Ketika keturunan ‘Ali, yang sekaligus keturunan Rasulullah mendapat perlakuan zalim yang semakin hebat dan banyak mengalami penyiksaan pada masa Bani Umayyah, rasa cinta mereka terhadap keturunan Ali semakin mendalam. Mereka memandang Ahlul bait ini sebagai syuhada dan korban kezaliman. Dengan demikian, semakin meluaslah daerah mazhab Syi’ah dan pendukungnya semakin banyak.
B.     Sejarah Pertumbuhan Syi’ah
Para ulama Syi’ah mengatakan bahwa Syi’ah itu telah ada dan berperan dalam masyarakat Islam sejak Nabi Muhammad SAW. masih hidup.
Pada saat terjadinya fitnah besar-besaran atas terbunuhnya Usman, kedok kesektean pun tebongkar, sehingga kelompok orang bergabung dibawah kepemimpinan Ali sedangkan sekelompok yang lain mendukung Mu’awiyah. Ali menjadi khalifah bukan atas suara bulat, namun sekelompok orang menuntutnya atas nama darah Usman karena Ali tidak serius membelanya, atau karena Ali tidak menyelidiki kasus pembunuhan itu. Kaum Amawiyyin (Bani Umayah) menghadang Bani Hasyim. Pada pertempuran siffin dan tahkim yang semakin melebar, ada yang keluar dari barisan Ali dan ada juga pihak yang mendukung dan membela Ali, mereka itulah benih-benih pertama dari aliran syi’ah.
Mengenai kemunculah syi’ah dalam sejarah terdapat perbedaan pendapat dari kalangan para ahli. Adapun pendapat dari kalangan pakar di luar syi’ah bahwa golongan ini lahir dalam masyarakat islam setelah Nabi meninggal dunia dan sebagai akibat yang timbul dari perselisihan pendapat dalam kalangan para sahabat tentang siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebaga khalifah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibn Khaldun, Ahmad Amin, dan juga oleh Bernard lewis dari kalangan orientalis. 
Mazhab Syi’ah timbul dimesir untuk pertama kali pada masa pemerintahan ‘Ustman, karena di sana para propagandis menemukan lahan yang subur. Kemudian tersebar luas di Irak yang dalam perkembangan berikutnya menjadi markas dan tempat menetapnya para penganutnya. Kalau Madinah dan Mekkah serta kota-kota lainnya di kawasan Hijaz menjadi tempat tumbuh kembangnya Sunnah dan Hadits, kemudian Syam menjadi buaian orang-orang Umawi, maka Irak menjadi tempat tinggal Syi’ah.
Menurut Abu Zahrah, syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, syiah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dalam perang siffin. Kalangan syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khalifah) Nabi SAW. mereka  menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thalib yang berhak menggantikan Nabi. Kepemimpinan Ali dalam pandangan syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW. pada masa hidupnya. Pada awal kenabian, ketika Muhammad SAW diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama-tama menerima adalah Ali bin Abi Thalib.
Bukti utama sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir, dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah, disuatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm, Nabi memilih Ali sebagai penggantinya dihadapan massa yang penuh sesak yang menyertai beliau. Pada peristiwa itu, Nabi tidak hanya menetapkan ali sebagai pemimpin umum umat (walyat-i ‘ammali), tetapi juga menjadikan Ali sebagai Nabi sendiri, sebagai pelindung (wali) mereka. Namun realitas ternyata berbicara lain.
Perbedaan pendapat dikalangan para ahli mengenai kalangan syi’ah merupakan sesuatu yang wajar. Para ahli berpegang teguh pada fakta sejarah ‘perpecahan’ dalam islam yang memang mulai mencolok pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah perang shiffin. Bagi meraka, pada masa kepemimpinan khulafa urrasyiddin sekalipun, kelompok syi’ah sudah ada. Mereka bergerak dibawah permukaan untuk mengajarkan dan menyebarkan doktrin-doktrin syiah kepada masyarakat. Tampaknya, syi’ah sebagai salah satu faksi politik islam yang bergerak secara terang-terangan, memang baru muncul pada masa kekhalifan Ali bin Abi Thalib, sedangkan syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam-diam oleh ahl al-bait muncul segera setelah wafatnya Nabi. Dalam perkembangannya, selain memperjuangkan hak kekhalifahan ahl-al-bait dihadapan dinasti Amawwiyah dan Abbasiyah, Syi’ah juga mengembangkan doktrin-doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yakni tauhid (kepercayaan kepada keesaan allah): nubuwwahi (kepercayaan kepada kenabian): ma’ad (kepercayaan akan adanya kehidupan diakhirat): imamah (kepercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan ahl al-bait): dan adl (keadilan ilahi). Dalam ensiklopedi Indonesia ditulis bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah terletak pada doktrin imamah. Mekipun mempunyai landasan tentang keimanan yang sama, Syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah. Diantara sekte-sekte Syi’ah adalah Itsna Asy’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghullat.
C.    GOLONGAN SYI’AH
Syi’ah bearti pengikut (pendukung faham). Dipakai kalimat ini untuk satu orang, dua orang atau banyak orang, baik lelaki maupun perempuan. Kemudian perkataan ini dipakai secara khusus buat orang yang mengangkat Ali dan keluarganya untuk menjadi Khalifah dan berpendapat bahwa Ali dan keluarganyalah yang berhakmenjadi Khalifah. Diantara sahabat yang membela faham Ali, ialah: Salaman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Jabir Ibn ‘Abdullah.


    SYI’AH ITSNA ASYARIYAH (SYI’AH DUA BELAS/SYI’AH IMAMIAH)
1.    Asal Usul penyebutan Imamiah dan Syi’ah Itsna Asyariyah
Di namakan Syi,ah Imamiah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya kecakapannya atau kemulian akhlaknya, akan tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah keturunannya untuk menduduki jabatan khalifah telah ada sejak Nabi wafat, yaitu dalam perbincangan politik di Saqifah Bani Sa’idah.
Syi’ah Itsna Asyariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima Wasiat Nabi Muhammad seperti yang ditunjukkan nas. Adapun Al-ausiya (penerima wasiat) setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang disepakati. Setelah Husen adalah Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam kedua belas.
Nama dua belas (Itsna Asyari’ah) ini mengandung pesan penting dalam tinjauan sejarah, yaitu golongan ini terbentuk setelah lahirnya kedua belas imam yakni kira-kira pada tahun 260 H/878 M. Pengikut sekte ini menganggap bahwa imam kedua belas, Muhammad Al-Mahdi, dinyatakan ghaibah (occultation).  
2.    Doktrin-doktrin Syi’ah Itsna Asyariyah
Di dalam sekte Itsna Asyariyah dikenal konsep Usul Ad-Din. Konsep ini menjadi akar atau fondasi  pragmatisme agama. Konsep usuluddin mempunyai lima akar.
a.    Tauhid (The Devine Unity)
Tuhan adalah esa baik esensi maupun eksistensi-Nya. Keesaan Tuhan adalaah mutlak. Ia bereksistensi dengan sendiri-Nya. Tuhan adalah qadim. Maksudnya, Tuhan bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan oleh Tuhan. Tuhan Mahatahu, Maha Mendengar, selalu hidup, mengerti semua bahasa, selalu benar dan bebas berkehendak. Keesaan Tuhan tiak murakkab (tersusun). Tuhan tidak membutuhkan sesuatu. Ia berdiri sendiri, tidak dibatasi oleh ciptaan-Nya. Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata biasa.
b.    Keadilan (Tha Devine Justice)
Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaan-Nya dengan ketidakadilan. Karena ketidak adilan dan kelaliman terhadap yang lain merupakan tanda kebodohan dan ketidakmmpuan daan sifat ini jauh dari keabsolutan dan kehendak Tuhan.
c.    Nubuwwah (Apostleship)
Syi’ah Itsna Asyariyah percaya mutlak tentang ajaran tauhid dengan kerasulan sejak Adam hingga Muhammad dan tidak ada nabi atau rasul setelah Muhammad. Mereka percaya adanya kiamat. Kemurnian dan keaslian Al-Qur’an jauh dari tahrif, perubahan, atau tambahan.
d.    Ma’ad ( The Last Day)
Ma’ad adalah hari akhir (kiamat) untuk menghadap pengadilan Tuhan akhirat. Setiap Muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam pengadilan Tuhan. Mati adalah periode transit dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.
e.    Imamah (The Devine Guidance)
Imamah adalah institusi yang diinagurasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk kepada ketuunan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir.


    SYI’AH SAB’IYAH (SYIAH TUJUH)
1.    Asal Usul Penyebutan Syi’ah Sab’iyah
Aliran Sab’iyyah adalah pengikut ‘Abdullah ibn Saba’, seorang Yahudi dari suku al-Hirah yang menyatakan diri masuk Islam. Ibunya seorang budak kulit hitam. Karena itu, ia dipanggil dengan Ibn al-Sauda’ (anak si waita hitam). Ia termasuk salah seorang yang paling keras menetang utsman dan para pejabatnya. Pemikiran dan kerusakan yang ditimbulkan olehnya berkembang secara bertahap. Temanya adalah mengenai ‘Ali ibn  Abi Thalib. Ia mengembangkan pemikiran di tengah-tengah masyarakat luas bahwa, sebagaimana dimuat dalam Taurat, setiap Nai mempunyai penerima wasiatnya, dan Ali adalah penerima wasiat Muhammad, bahkan penerima wasiat wasiat yang terbaik, sebagaimana halnya Muhammad adalah Nabi terbaik. Ia juga menyebarkan pemikiran bahwa Muhammad akan kembali ke dunia. Ia berkata, “Saya heran terhadap orang yang mengatakan bahwa ‘Isa akan kembali, tetapi tidak mengatakan bahwa Muhammad Muhammad akan kembali ke dunia,” Pada tahap berikutnya ia menegaskan bahwa di dalam diri ‘Ali bermaksud menghukum mati ‘Abdullah ibn Saba’, tetapi dicegah oleh ‘Abdullah ibn Abbas dengan mengatakan., jika engkau membunuhnya, pendukungmu akan menentangmu, padahal engkau telah bertekad untuk kembali guna memerangi penduduk Syam. “Karena itulah, ‘Ali hanya menghukum Abdullah ibn Saba’ dengan membuangnya ke Mada’an.
Istilah Syi’ah Sab’iyah (Syi’ah Tujuh) dianalogikan dengan Syi’ah Itsna Asyariyah. Istilah itu memberikan pengertian bahwa sekte Syi’ah Sab’iyah Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bin Ja’far. Karena dinisbatkan pada imam ketujuh, Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq, Syi’ah Islamiyah.
Berbeda dengan Syi’ah Sab’iyah, Syi’ah Itsna Asyariyah membatalkan Ismail bin Ja’far sebagai imam ketujuh karena disamping mendahuli ayahnya, Ja’far (w. 765). Sebagai penggantinya adalah Musa Al-Kadzim, adik Ismail. Syi’ah Sab’iyah menolak pembatalan tersebut, berdasarkan sistem pengangkatan imam dalam Syi’ah dan menganggap Ismail sebagai imam ketujuh dan sepeninggalannya diganti oleh putranya yang tertua, Muhammad bin Ismail.
2.    Doktrin Imamah dalam Pandangan Syi’ah Sab’iyah
Para pengikut Syi’ah Sab’iyah percaya bahwa Islam dibangun oleh tujuh pilar seperti  dijelaskan Al-Qadhi An-Nu’man dalam Da’aim Al-Islam. Tujuh pilar tersebut adalah iman,taharah, salat, zakat, saum, haji, dan jihad.
Dalam pandangan kelompok Syi’ah Sabi’yah, keimanan hanya dapat diterima bila sesuai dengan keyakinan mereka, yakni melalui walayah (kesetiaan) kepada imam zaman. Imam adalah seseorang yang menuntun seseorang yang menuntun umatnya kepada pengetahuan (ma’rifat). Dengan pengetahuan tersebut seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Syarat-syarat seorang Imam dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah adalah sebagai berikut:
•    Imam harus berasal dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah yang kemudian dikenal dengan ahlul bait.
•    Berbeda dengan aliran Kaisaniyah, pengikut Mukhar Ats-Tsaqafi, mempropagandakan bahwa keimanan harus dari keturunan Ali melalui pernikahannya dengan seorang wanita dari Bani Hanifah dan mempunyai anak yang bernama Muhammad bin Al-Hanafiyah.
•    Imam harus berdasarkan penunjukan atau nas. Syi’ah Sab’iyah meyakini bahwa setelah Nabi wafat, Ali menjadi imam berdasarkan penunjukan khusus yang dilakukan Nabi sebelum beliau wafat.
•    Keimaman jatuh kepada anak tertua. Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam memperoleh keimaman dengan jalan wiratsah (heredity).
•    Imam harus maksum (immunity from sin an error). Sebagaimana sekte Syi’ah lainnya, Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam harus terjaga dari salah satu dosa.
•    Imam harus dijabat oleh seorang yang paling baik (best of man), berbeda dengan Zaidah, Syi’ah Sab’iyah dan Syi’ah Dua Belas tidak membolehka adanya imam mafdul.
•    Seorang Imam harus mempunyai sifat walayah, yaitu kemampuan esoteric untuk menuntun manusia kedalam rahasia-rahasia Tuhan.
3.    Ajaran Syi’ah Sab’iyah Lainnya
Ajaran Sab’iyah lainnya pada dasarnya sama dengan ajran sekte-sekte Syi’ah lainnya. Perbedaannya terletak pada konsep kemaksuman imam, adnya aspek batin pada setiap yang lahir, dan penolakannya terhadap Al-Mahdi Al-Muntadzar.
Menurut Sab’iyah, Al-Qur’an memiliki makna batin selain makna lahir. Dikatakan bahwa segi-segi lahir atau tersurat dari syariat iu diperuntukkan bagi orang awam yang kecerdasannya terbatas dan tidak memiliki kesempurnaan rohani. Dengan prinsip ta’wil, Sab’iyah menakwilkan, misalnya, ayat Al-Qur’an tentang puasa dengan menahan diri dari menyiarkan rahasia-rahasia iamm; dan ayat Al-Qur’an tentang haji ditakwilkan dengan mengunjungi imam.


     SYI’AH ZAIDIYAH
1.    Asal Usul Penamaan Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam kelima, putra imam keempat, Ali Zainal Abidin. Aliran Zaidiyah itu dibangun oleh Zaid ibn ‘Ali. Sepeninggal al-imam ke-V yang dijabat oleh Muhammad Al Baqir, yakni putra sulung ‘Ali Z Abidin ibn Alhussain ibn ‘Ali ibn Abu Thalib, maka aliran imamiyah tepecah dua. Kelompok ini berbeda dengan sekte Syi’ah lain yang mengakui Muhammad Al-Baqir, putra Zainal Abidin yang lain, sebagai imam kelima. Dari nama Zaid bin Ali inilah, nama Zaidiyah diambil. Syi’ah Zaidiyah merupakan sekte Syi’ah yang moderat. Abu Zahra menyatakan bahwa kelompok ini merupakan sekte yang paling dekat dengan sunni.
2.    Doktrin Imamah Menurut Syi’ah Zaidiyah
Imamah sebagaimana telah disebutkan, merupakan doktrin fundamental dalam Syi’ah secara umum. Berbeda dengan doktrin imamah yang dikembangkan Syi’ah lain, Syi’ah Zaidah mengembangkan doktrin imamah tipikal. Kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yag mewarisi kepemimpinan Nabi SAW. Telah ditentukan nama dan orangnya oleh Nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja.
Menurut Zaidiyah seorang imam paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, ia merupakan keturunan ahl al-bait, baik melalui garis Hasan maupun Husein. Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang. Ketiga, memiliki kecendrungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam bidang keagamaan.
3.    Doktrin-doktrin Syi’ah Zaidiyah Lainnya.
Aliran Zaidiyah itu tidak menganut ajaran tentang al-taqiyat, yakni kemestian menyembunyikan kemestian didepan lawan, dan tidak menganut ajaran tentang al-ishmat, yakni bahwa setiap al-imam itu saci dari setiap kesalahan dan dosa apapun, dan tidak menganut ajaran tentang al-istitar, yakni bahwa al-imam itu didalam peri keadilan kekuatan tempur masih lemah mestilah merahasiakan identitas diri. 
Bertolak dari doktri tentang al-imamah-al-mafdul,Syi’ah Zaidiyah berpendapt bahwa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab adalah sah dari sudut pandang Islam. Dalam pandangan mereka, jika ahl al-hall wa al-‘aqd telah memilih seorang imam dari kalangan kaum muslim, meskipun ia tidak memenuhi sifat-sifat keimanan yang ditetapkan oleh Zaidiyah dan telah dibaiat oleh mereka, keimananya menjadi sah dan rakyat wajib berbaiat kepadanya.
Berbeda dengan Syia’ah lain, Zaidiyah menolak nikah mut’ah (temporer). Meskipun demikian, dalam bidang ibadah, Zaidiyah tetap cenderung menunjukkan symbol dan amalan Syi’ah pada umumnya. Dalam azan misalnya, mereka member selingan ungkapan hayya ‘alakhair al-amal, takbir sebanyak lima kali dalam salat jenazah, menolak sahnya mengusap kaus kaki (maskh al-Khuffainii), menolak imam salat yang tidak saleh dan menolak binatang sembelihan bukan muslim.


    SYI’AH GHULAT
1.    Asal Usul Penamaan Syi’ah Ghulat
Istilah Ghulat berasal dari kata ghalada-yaghlu-ghuluw artinya bertanbah dan naik. Ghala bi ad-din artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehingga melampaui batas. Syi’ah ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang memiliki sikap berlebih-lebihan atau ekstim (exaggeration). Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah ekstim (ghulat) adalah kelompok yang menempatkan Ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajat kenabian, bahkan lebih tinggi daripada Muhammad.
Mengenai dengan sekte Syi’ah Ghulat, para mutakalimin berbeda berpendapat. Syahratani membagi sekte Ghulat menjadi 11 sekte; Al-Ghurabi membaginya menjadi 15 sekte. Sekte-sekte yang terkenal antara lain: Sabahiyah, Kamaliyah, Albaiyah, Mughriyah, Mansuriyah, Khattabiyah, Kayaliyah, Hismaniyah, Nu’miyah, Yunusiyah, dan Nasyisiyah wa Ishaqiyah.
Nama-nama sekte tersebut menggunakan nama tokoh yang membawa atau memimpinnya. Sekte-sekte ini pada mulanya hanya satu, yakni faham yang dibawa oleh Abdullah bin Saba’ yang mengajarkan bahwa Ali adalah Tuhan.
2.    Doktrin-doktrin Syi’ah Ghulat
Menurut Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim, yaitu tanashukh, bada’, Raj’ah, dan Tasbih. Moojan Momen menambahkannya denga hulul dan ghayba.
Tanashuk adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain. Faham ini mengambil dari falsafah haimamahnya, sehingga ada yang menyatakan seperti Abdullah bin Muawwiyah bin Abdullah bin Ja’far bahwa roh Allah berpindah kepada Adam seterusnya kepada imam-imamsecara turun-temurun.
Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmua-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan yang sebaliknya.
Raj’ah ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bawa imam Mahdi Al-Muntazhar akan datang ke bumi. Faham Raj’ah dan mahdiyah ini merupakan ajaran seluruh Syi’ah.
Tasbih arti menyerupakan, mempersamakan. Syi’ah Ghulat menyerupaka salah seorang imam mereka dengan Tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan makhluk, Tasbih ini diambil dari faham hululiyah dan tanasukh dengan khalik.
Huul artinya Yuhan berada pada setiap tempat, berbicara   dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia. Hulul bagi Syi’ah Ghulat bearti Tuhan menjelma dalam diri imam sehingga imam harus disembah.
Ghayba (occullation) artinya menghilangnya Imam Mahdi. Ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah bahwa Imam Mahdi itu ada didalam negeri ini dan tidak dapat dilihat mata biasa.


DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosehan dan Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka setia. 2006
As-Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Kalam/Tauhid. Jakarta: Bulan Bintang. 1992
Daudi, Ahmad. Kuliah Ilmu Kalam. Jakarta: Bulan Bintang. 1997
Madkour, Ibrahim. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta: Bumi Perkasa. 1995
Sou’yb, Joesoef. Studi Tentang Aliran-aliran dan Tokoh-tokohnya. Jakarta: Al Husna Dzikra. 1997
Zahrah, Imam Muhammad Abu. Aliran Politik dan Akidah dalam Islam. Jakarta: Logos Publishing House. 1996

Duku Padang Batung (Langsat Lanbau)

Duku Padang Batung (Langsat Lanbau) Sejarah

Dunia memaang selalu berubah, seiring dengan tuntutan zaman ditengah berlangsungnya era globalisasi, kebutuhan manusia akan tagihan lidah berimbas pada seni manisnya buah, oleh karena itu orang-orang dahulu pun mengembangkan rasa jenis buah, salah satunya duku (langsat) untuk menciptakan rasa manis atau rasa yang berbeda untuk manusia.
Asal muasal duku ini masih belum dipastikan mengingat para veteran langsat ini belum banyak yang mengkonfirmasi masalah asal muasalnya, namun salah seorang pemilik kebun, Drs. H. M. Yusuf Syu’aib, berpendapat bahwa langsat ini dulunya adalah hasil karya okulasi dari petani Belanda, namun ada juga pendapat tentang, dulu ketika zaman perang salah satu penduduk desa Durian Rabung pulang dari Belanda meyelesaikan Sarjana disana, dan mengembangkan langsat jenis ini.
Entah apa namanya orang desa sering menyebutnya “langsat kabun” yang mungkin mengandung makna  “kabun” dalam istilah banjar berarti “kebun”, sedangkan di Padang Batung sendiri lebih dikenal dengan nama “Langsat Lanbau” dan setelah di resmikan di tingkat Nasional oleh Badan Holtikultura Nasional, duku ini dinamakan “Duku Padang Batung”.

Kualitas (keunggulan)
1.   Soal rasa manis sudah dijamin.
2.   Duku ini mempunyai tekstur kulit yang lebih tebal daripada duku yang lainnya.
3.   Bentuknya lebih bulat dari pada diameter duku yang lainnya di Kal-Sel, dan yang besar bentuknya hampir sebesar telor.
4.   Duku ini lebih kental sehingga sehingga terasa lebih nikmat dilidah.
5.   Tidak mudah busuk, rasa tetap sama dalam 3 hari kedepan (setelah panen).
Harga
•    Untuk harga eceran berkisar antara Rp. 13.000 – 15.0000/kg dalam setiap jangka tahun berubah-ubah tergantung situasi pemasaran.
•    Untuk harga pembalantikan (borongan) harga berkisar Rp. 10.000 -12.000 /ton), dalam setiap jangka tahun berubah-ubah tergantung situasi pemasaran.
Informasi Lebih lanjut hubungi
-    Drs. H. M. Yusuf Syu’aib (081349489399) atau (051723981)
Tersedia bibit duku Padang Batung (Langsat Lanbau)
-    Ukuran kecil
-    Ukuran sedang
-    Ukuran besar

Wednesday, January 18, 2012

HEREDITAS DAN LINGKUNGAN DALAM PROSES PERKEMBANGAN

A.    Latar belakang
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Ini berarti, bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan/pemidahan dari cairan-cairan “germinal” (awal perkembangan) dari pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkungan pisis, psikologi, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari pada hereditas dan lingkungan. Agar kita dapat mengerti dan mengontrol perkembangan tingkah laku manusia, kita hendak mengetahui hakikat dan peranan dari masing-masing (hereditas dan lingkungan).
B.    Rumusan Masalah
Dalam pembahasan materi ini, dan agar tersusun secara sistematis dan efisien, maka timbulah bebrapa rumusan masalah, yang diantaranya :
1.    Apakah Pengertian Hereditas dan lingkungan ?
2.    Apa saja Fungsi Hereditas dan lingkungan ?
3.    Apa Hubungan antara Hereditas dan lingkungan ?

C.    Tujuan dan Manfaat
Dalam membahas materi ini, tujuan yang dapat diambil adalah :
1.    Untuk mengetahui tentang hereditas dan lingkungan.
2.    Untuk mengetahui pengaruh  hereditas terhadap perkembangan individu.
3.    Untuk mengetahui pengaruh lingkunan terhadap perkembangan individu.
4.    Untuk mengetahui hubungan antara hereditas dan lingkungan.
Manfaat yang dapat diambil dalam pembahasan ini adalah :
1.    Agar kita dapat memahami tentang hereditas dan lingkungan.
2.    Agar kita memahami pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap anak.

Pada kesempatan ini akan dibahas tentang “ Bagaimana pengaruh  heriditas dan lingkungan itu dalam proses perkembangan ”. Dalam hubungan ini ada tiga teori  yang terkenal yang membahas masalah pengaruh hereditas (pembawaan) dan lingkungan dalam perkembangan manusia.
1.    Tiga Aliran Dalam Proses Perkembangan
Pertama, aliran atau teori “nativisme” dengan tokoh utamanya adalah Schopenhauer dan tokoh lainnya yang termasuk aliran ini adalah Plato, Descartes, Lombroso. Menurut pendapat ini yang paling ekstrem menyatakan bahwa perkembangan manusia itu sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor pembawaan atau faktor-faktor yang dibawa sejak lahir.
Para ahli yang berpendirian nativis biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya. Misalnya kalau orang tuanya pemusik kemungkinan nanti anaknya menjadi pemusik., kalau orang tuanya pelukis kemungkinan anaknya nanti akan jadi pelukis,demikian juga kalau orang tuanya ahli matematika maka kemungkinan anaknya jadi ahli matematika. Jadi kondisi keahlian dan kemampuan orang tuanya juga diwarisi anaknya.
Dengan demikian faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa dalam mempengaruhi perrkembangan seseorang. Dalam ilmu pendidikan aliran ini dikenal sebagai  aliran “ Pedagogik Pesimisme” yaitu pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh penndidikan.
Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya, misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat, organisasi dan lain-lain.
Kedua, aliran “empirisme”. Paham empirisme ini tokoh utamanya adalah John Locke. Teori ini secara ekstrem menekankan kepada pengaruh lingkungan. Menurut teori ini lingkunganlah yang menjadi penentu perkembangan seseoarang. Baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau pendidikan
Jadi teori ini menganggap faktor pembawaan tidak berperan sama sekali terhadap perkembangan manusia. Menurut pendapat kaum empiris, lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang. Oleh karena itu, dalam ilmu pendidikan aliran ini disebut dengan aliran pendidikan “ Pedagogik Optimisme” artinya pendidikan maha kuasa untuk membentuk atau mengembangkan pribadi seseorang.
Permasalahanya adalah apakah pendidikan atau lingkungan dapat dengan sepenuhnya mempengaruhi perkembangan anak. Sebagai contoh di dalam sebuah sekolah yang sama, di kelas yang sama, dan guru yang sama, kita menemukan tingkat pemahaman anak terhadap pelajaran itu berbeda-beda. Ada anak yang cepat paham, ada anak yang lambat dalam pemahamannya, bahkan ada juga anak yang  sulit sekali dalam memahami pelajaran. Hal ini menunjukan bahwa faktor lingkungan bukan satu-satunya yang mempengaruhi dalam perkembangan anak.
Ketiga, teori “konvergensi” yaitu teori yang menjembatani atau menengahi kedua teori/paham sebelumnya bersifat ekstrem yaitu teori nativisme dan teori empirisme.
Sesuai dengan namanya konvergensi yang artinya perpaduan, maka teori ini tidak memihak bahkan memadukan  pengaruh kedua unsur  pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan. Pada teori ini baik unsur pembawaan maupun unsur linkungan keduanya merupakan sama-sama faktor yang dominan pengaruhnya bagi peerkembangan seseorang. Misalnya seseorang yang berbakat musik tidak akan berkembang menjadi seorang ahli musik apabila tidak ditunjang oleh lingkungan atau pendidikan yang memadai.
Teori yang ketiga inilah yang  sampai sekarang masih teruji dan dipertahankan kebenaran pendapatnya. Teori menggambarkan bagaimana hubungan yang berimbang antara faktor warisan orang tua dengan lingkungan dalam mempengaruhi perkembagan seseorang. Ada suatu keselarasan antara bakat dan pendidikan. Sehebat apapun bakat seseorang tanpa adanya latihan tidak akan berkembang, begitupun sebaliknya.
2.    Pengertian dan Fungsi Pembawaan
Istilah lain dari pembawaan adalah hereditas atau heredity. Heredity diartikan oleh para ahli sebagai berikut:
a.    Menurut Siverstone:
“ The term heredity is used to decribe those characteristics and growth patterns that are biologically transmitted from parent to child”

b.    Menurut Dennis Coon:
“ Heredity of transmission of physical and physilogical characteristics from to offspring through genes”

Berdasarkan uraian atau definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa:
a)  Hereditas adalah pewarisan sifat-sifat fisik dan psikologi serta pola-pola pertumbuhan lainnya yang secara biologis diwarisi oleh setiap anak dari orang tuanya melalui prises genetis.
b)   Hereditas itu akan membentuk perkembangan dengan memberikan/menyediakan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinannya yang akan diwujudkan melalui proses belajar dengan ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan.

Hereditas dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya. Hereditas pada individu berupa warisan yang berasal dari kedua orang tuanya. Ini terjadi di dalam krosmosom-kromosom. Baik dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu berinterkasi membentuk pasangan-pasangan. Dua anggota dari masing-masing pasangan memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Pasangan kromosom di mana dalam masing-masing kromosom terdapat sejumlah “genes” dan masing-masing “genis” memiliki sifat tertentu, membentuk persenyawaan “genes” yang demikian menjalin senyawa sifat-sifat “genes”.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembawaan ialah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika ia lahir merupakan warisan dari orang tuanya.

Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah mengetahui salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang adalah pembawaan (hereditas) misalnya bakat yang diwariskan orang tua kepada anak.

Menurut sejarah pengenalan usaha pengenalan  bakat itu mula-mula  terjadi pada bidang kerja, tetapi kemudian juga dalm bidang pendidikan. Bahkan dewasa ini dalam bidang pendidikanlah usaha yang paling banyak dilakukan.

Sebenarnya setiap bidang studi atau bidang kerja dibutuhkan berfungsinya lebih dari satu bakat saja. Bermacam-macam faktor mungkin dibutuhkan berfungsinya untuk suatu lapangan studi atau kerja tertentu.

Unsur-unsur pembawaan yang berupa potensi-potensi fisik dan mental psikologis itu dalam proses perkembangannya akan berfungsi sebagai faktor dasar atau faktor bahan yang akan mempengaruhi proses perkembangan. Dalam setiap proses perkembangan itu diperlukan bahan dasar sebab tanpa bahan dasar itu maka pertumbuhan fisik atau perkembangan mental anak tidak akan terjadi. Tentunya makin baik potensi kondisi pembawaan sebagai faktor dasar  maka dapat diharapkan akan baik pula perkembangan yang akan terjadi, dan sebaliknya.
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan satu heriditas tertentu. Ini berarti karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan atau pemindahan cairan-cairan  “germina  “ dari  pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkuntgan  pisis, psikologis, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari dari para heriditas dan lingkungan.

3.     Pengertian Belajar serta Pengaruh Genetika Terhadapnya
Menurut Slameto (2003:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.
Menurut Cronbach dalam Djamarah (2002:13) belajar sebagai usaha aktifitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Menurut Djamarah (2002:13) belajar juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan.Tentu saja perubahan yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan yang baru. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah perubahan yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya. .(Muhibbin Syah,hal 63)
Proses belajar anak dapat melalui beragam cara, semua tergantung kepada sifat yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya dan lingkungan pun berperan penting dalam hal ini. namun dalam materi ini, hanya menjelaskan tentang ketergantungan proses belajar dalam pengaruh genetik.

4.    Pengertian lingkungan
Lingkungan sering diartikan orang secara sempit dengan milien atau alam sekitar. Dalam psikologi, lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu. Dengan demikian lingkungan dapat diartikan dengan segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar diri individu yang bersifat mempengaruhi sikap tingkah laku atau perkembangannya.

Lingkungan juga terbagi menjadi tiga, yaitu :
1.    Lingkungan Dalam, meliputi gizi, peredaran darah, seks, suhu, kesehatan, dll
2.    Lingkungan Alam, meliputi iklim, geografis, waktu pagi,siang, dan malam.
3.    Lingkungan Sosial, meliputi keluarga, masyarakat, teman, dan organisasi.

Lingkungan dapat diartikan juga secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sisio-kultural.
1.    Secara fisiologis lingkungan diartikan yaitu meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh manusia.
2.    Secara psikologis lingkungan diartikan yaitu mencakup segenap stimulus (perangsan) yang diterima oleh individu sejak individu itu dilahirkan sampai mati.
3.    Secara sosio-kultural lingkungan diartikan yaitu mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain.

Fungsi lingkungan atau peranan lingkungan ini dalam proses perkembangan dapat dikatakan sebagai faktor ajar, yaitu faktor yang akan mempengaruhi perwujudan suatu potensi secara baik atau tidak baik sebab pengaruh lingkungan dalam hal ini dapat bersifat positif yang berarti pengaruhnya baik dan sangat menunjang perkembangan suatu petensi atau bersifat negatif yaitu pengaruh lingkungan itu tidak baik dan akan menghambat/merusak perkembangan individu.

5.    Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan
Lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan fisik. Sejak induvidu berada dalam konsepsi, lingkungan telah ikut memberi andil bagi proses pertumbuhan/pembuahan. Suhu, makanan, keadaan gizi, vitamin, mineral, kesehatan jasmani, aktivitas dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Klafikasi tingkah laku manusia dapat diadakan, terdiri atas empat macam, yakni :
1.    Insting; aktivitas yang hanya menuruti kodrat dan tidak melalui belajar.
2.    Habits; kebiasaan yang dihasilkan dari latihan atau aktivitas yang berulang-ulang.
3.    Native behavior; (tingkah laku pembawaan, mengikuti mekanisme hereditas).
4.    Acquired behavior; tingkah laku yang didapat sebagai hasil dari belajar.
Ada 2 cara menggunakan lingkungan sebagai sumber pangajaran/belajar.
1.    Membawa peserta didik dalam lingkungan dan masyarakat untuk keperluan pelajaran.( karyawisata, school camping, dan survei).
2.    Membawa sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas pengajaran untuk kepentingan pelajaran (seperti pameran atau koleksi).
Usaha-usaha lain yang dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip lingkungan di antaranya adalah :
  • Memberi pengetahuan tentang lingkungan peserta didik.
  • Mengusahakan agar alat yang digunakan berasal dari lingkungan yang dikumpulkan baik oleh guru maupun peserta didik.
  • Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melaksanakan penyelidikan sesuai dengan kemampuannya melalui bacaan-bacaan dan observasi, kemudian mengekspresikan hasil penemuannya dalam bentuk percakapan, karangan, gambar, pameran, perayaan, dan sebagainya.

Jadi jelaslah bahwa hereditas dan lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, tetapi merupakan dua unsur yang saling melengkapi bagi perkembangan individu dan kedua-duanya sama-sama pentingnya.
Walau setiap setiap sifat dan ciri manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan hereditas tidak selalu sama. Pengaruh hereditas dan lingkungan tidak selalu tetap, tetapi paling tidak tergantung pada tiga variabel:
Pertama,sifat yang ada. Yaitu sifat yang dimiliki oleh individu itu sebelum terpengaruh oleh lingkungan. Sifat yang sudah ada yang melekat pada diri individu itu. Misalnya pemalu, pemaaf, dan lain-lain.
Kedua, sifat lingkungan. Sifat yang dimiliki lingkungan itu. Misalnya lingkungan yang bersifat agamis.
Ketiga,intensitas lingkungan. Keadaan tingkatan atau ukuran suatu daerah dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. Misalnya seberapa besar lingkungan yang baik mengubah atau mempengaruhi sifat perbuatan seseorang menjadi baik.

A.Kesimpulan
    Dari uraian-uraian diatas maka dapat diambil pokok- pokok sebagai berikut:
    Hereditas merupakan pewarisan sifat-sifat atau ciri-ciri dari orang tua kepada anaknya, menurut teori nativis perkembangan seseorang hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan saja, pendapat ini kemudian dibantah oleh teori empiris, menurut mereka lingkunganlah yang membentuk perkembangan seseorang. Kemudian muncullah teori konvergensi yang menggabungkan kedua teori tersebut, teori ini menyebutkan bahwa faktor lingkungan dan faktor keturunan sama-sama berpengaruh dalam perkembangan seseorang.
    Pembawaan merupakan istialah lain dari heriditas yang dapat diartikan sebagai  pewarisan sifat-sifat fisik maupun psikologis melalui sarana genetik. Pembawaan merupakan  seluruh kemungkinan- kemungkinan atau potensi-potensi yang ada pada individu yang selama masa perkembangannya benar-benar  dapat diwujudkan,misalnya  melalui proses pembelajaran
    Sedanghkan lingkungan merupakan hal-hal diluar diri seseorang yang dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan orang tersebut, baik berupa benda, orang lain, keadaan dan peristiwa disekitar yang langsung maupun tidak langsung dan secara sengaja maupun tidak sengaja.
    Jadi, pembawaan dan lingkungan bisa saling melengkapi, misalkan pembawaannya kurang baik, dengan dorongan lingkungan maka seseorang akan dapat berkembang secara maksimal. 

Daftar Pustaka
  • Sabri,M. Alisuf.1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya.
  • Soemanto,Wasty.1990.Psikologi Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.
  • Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta:PT. Raja Grafindo.
  • Rohani, Ahmad.2004. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  • Mustaqim, Abdul Wahid.Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  • http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18213/4/Chapter%20II.pdf

Friday, January 13, 2012

FILSAFAT MATEMATIKA

Latar Belakang
Ilmu matematika bukan hanya ilmu yang terbatas pada hitungan , melainkan banyak lagi bagian dari matematika yang belum kita ketahui bentuknya.
Apakah matematika itu ? Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat dari para ilmuan matematika tentang apa yang disebut matematika. Untuk menafsirkan matematika para ilmuan belum pernah mencapai titik “puncak” kesepakatan yang “sempurna”. Banyak definisi yang dikemukakan oleh para ilmuan tentang matematika ini, menunjukkan bahwa ilmu matematika ini adalah ilmu yang memiliki kajian luas.
Pada makalah ini penyusun akan membahas seluk beluk ilmu matematika dan aliran – aliran dalam filsafat matematika.

A.  Hakikat Matematika
1.   Pengertian Matematika

Istilah matematika berasal dari bahasa Inggris , mathematics, yang artinya  ilmu pasti, matematika. Mathematical  merupakan kata sifat, artinya berhubungan dengan ilmu pasti. Mathematically adalah kata kerja yang artinya menurut ilmu pasti, secara mathematis, dan mathematician adalah kata benda yang artinya, yaitu orang ahli matematika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, matematika artinya “ ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam  penyelesaian masalah mengenai bilangan”.

Hudoyo (1979:96) mengemukakan bahwa hakikat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur- struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis. Jadi matematika berkenaan dengan konsep-konsep yang abstrak. Selanjutnya dikemukakan bahwa apabila matematika dipandang sebagai struktur dari hubungan-hubungan maka simbol- simbol formal diperlukan untuk membantu memanipulasi aturan-aturan yang beroperasi di dalam struktur-struktur. Sedang Soedjadi (1985:13) berpendapat bahwa simbol-simbol di dalam matematika umumnya masih kosong dari arti sehingga dapat diberi arti sesuai dengan lingkup semestanya.
Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat yang kurang jelas  dan emosional. Matematika adalah metode berpikir logis. Matematika adalah sarana berpikir. Matematika adalah raja dari ilmu lain yang perkembangannya tidak tergantung ilmu lain.
Matematika merupakan puncak kegemilangan intelektual. Di samping pengetahuan matematika itu sendiri, matematika memberikan bahasa, proses dan teori, yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan. Perhitungan matematika menjadi dasar bagi desain ilmu teknik.

2.    Matematika adalah ilmu Deduktif
Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif, karena proses mencari kebenaran (generalisasi) dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan yang lain. Metode yang pencarian kebenaran yang dipakai adalah metode deduktif, tidak dapat dengan cara induktif. Pada ilmu pengetahuan alam adalah metodeinduktif dan eksperimen.
Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif tanpa mempersyaratkan penalaran induktif. Penalaran deduktif ini lahir melalui kebenaran suatu konsep yang diperoleh sebagai akibat logis dari pernyataan sebelumnya sehingga kaitan pernyataan yang dahulu dengan berikutnya di dalam matematika selalu konsisisten.
Walaupun dalam mtematika mencari kebenaran itu dapat dimulai dengan cara induktif, tetapi sterusnya generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus bisa di buktikan dengan cara deduktif. Dalam matematika suatu generalisasi dari sifat, teori atau dalil itu dapat diterima kebenarannya sesudahnya dibuktikan secara deduktif.
Matematika merupakan ilmu  deduktif, aksiomatik, hirarkis, abstrak, bahasa simbol  yang padat artinya dan semacam sistem matematika. Sistem matematika merupakan sistem yang berisi model-model matematika yang digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan di dunia nyata. Manfaat lain dari ilmu matematika adalah menjadikan pola pikir manusia yang mempelajarinya menjadi pola pikir matematis yang sistematis, logis, kritis, dengan penuh kecermatan.
Berdasarkan perspektif epistemologi, kebenaran matematika terbagi dalam dua kategori, yaitu pandangan absolut dan pandangan fallibilis. Absolutis memandang kebenaran matematika secara absolut, bahwa „mathematics is the one and perhaps the only realm of certain, unquestionable and objective knowledge‟, sedangkan menurut fallibilis mathematicak truth is corrigible, and can never regarded as being above revision and correction‟ (Ernest, 1991).

Menurut Woozley (dalam Ernest, 1991), pengetahuan terbagi dalam dua kategori, yaitu pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori (empirical). Pengetahuan  apriori memuat proposisi yang didasarkan atas, tanpa dibantu dengan observasi terhadap dunia. Penalaran di sini memuat penggunaan logika.

Deduktif dan makna dari istilah-istilah, secara tipikal dapat ditemukan dalam definisi. Secara kontras pengetahuan a posteriori memuat proposi yang didasarkan atas pengalaman, yaitu berdasarkan observasi dunia.

Absolutis memandang pengetahuan matematika didasarkan atas dua jenis asumsi; matematika ini berkaitan dengan asumsi dari aksioma dan definisi, dan logika yang berkaitan dengan asumsi aksioma, aturan menarik kesimpulan dan bahasa formal serta sintak. Ada lokal (micro) dan ada global (macro) asumsi, seperti deduksi logika cukup untuk menetapkan kebenaran matematika. Menurut Wilder (dalam Ernest, 1991), pandangan absolutis menemui masalah pada permulaan permulaan abad 20, ketika sejumlah antinomis dan kontradiksi yang diturunkan dalam matematika. Kontradiksi lainnya muncul dalah teori himpunan dan teori fungsi. Penemuan ini berakibat terkuburnya pandangan absolutis tentang matematika. Jika matematika itu pasti dan semua teoremanya pasti, bagaimana dapat terjadi kontradiksi di antara teorema-teorema itu? Tesis dari fallibilis memiliki dua bentuk yang ekivalen, satu positif dan satu negatif. Bentuk negatif berkaitan dengan penolakan terhadap absolutis; pengetahuan matematika bukan kebenaran yang mutlak dan tidak memiliki validitas yang absolut. Bentuk positifnya adalah pengetahuan matematika dapat dikoreksi dan terbuka untuk direvisi terus menerus.

B.    Aliran dalam Filsafat Matematika
Para ahli banyak berbeda pendapat tentang pemikiran filsafat dan matematika. Pemikiran tentang matematika diwarnai dengan perdebatan sengit antara ahli matematika yang satu dengan ahli matematika lainnya. Karena adanya perdebatan ini seoalah-olah  para ahli terkotak-kotak menurut kelompoknya masing-masing berdasarkan sudut pandang pandang dan ide yang dikeluarkannya.
Sumardyono (2004) menjelaskan bahwa secara umum terdapat tiga aliran besar yang mempengaruhi perkembangan matematika, termasuk perkembangan pendidikan matematika, yakni:

1. Aliran Logikalisme atau Logisisme
Logisisme memandang bahwa matematika sebagai bagian dari logika. Penganutnya antara lain G. Leibniz, G. Frege (1893), B. Russell (1919), A.N. Whitehead dan R. Carnap(1931). Logisme dipelopori oleh filsuf Inggris bernama Bertrand Arthur William Russell menerima logisisme adalah yang paling jelas, pernyataan penting yang dikemukakannya, yaitu semua konsep matematika secara mutlak dapat disederhanakan pada konsep logika dan semua kebenaran matematika dapat dibuktikan dari aksioma dan aturan melalui penarikan kesimpulan secara logika semata. Dengan demikian logika dan matematika merupakan bidang yang sama karena seluruh konsep dan dalil matematika dapat diturunkan dari logika.

Secara umum, ilmu merupakan pengetahuan berdasarkan analisis dalam menarik kesimpulan menurut pola pikir tertentu. Matematika, menurut Wittgenstein, merupakan metode berpikir logis. Berdasarkan perkembangannya, masalah logika makin lama makin rumit dan membutukan suatu metode yang sempurna. Dalam pandangan inilah, logika berkembang menjadi matematika. Menurut Russell, bahwa “ matematika merupakan masa kedewasaan matematika, sedangkan logika adalah masa kecil matematika”

Menurut Ernest (1991), ada beberapa keberatan terhadap logisisme antara lain:
a. Bahwa pernyataan matematika sebagai impilikasi pernyataan sebelumnya, dengan demikian kebenaran-kebenaran aksioma sebelumnya memerlukan eksplorasi tanpa menyatakan benar atau salah. Hal ini mengarah pada kekeliruan karena tidak semua kebenaran matematika dapat dinyatakan sebagai pernyataan implikasi.

b. Teorema Ketiddaksempurnaan Godel menyatakan bahwa bukti deduktif tidak cukup untuk mendemonstrasikan semua kebenaran matematika. Oleh karena itu reduksi yang sukses mengenai aksioma matematika melalui logika belum cukup untuik menurunkan semua kebenaran matematika.

c.  Kepastian dan keajegan logika bergantung kepada asumsi-asumsi yang tidak teruji dan tidak dijustifikasi. Program logisis mengurangi kepastian pengetahuan matematika dan merupakan kegagalan prinsip dari logisisme. Logika tidak menyediakan suatu dasar tertentu untuk pengetahuan matematika. 

2.     Aliran Formalisme
Landasan matematika formalisme dipelopori oleh ahli matematika besar dari Jerman David Hilbert. Menurut airan ini sifat alami dari matematika ialah sebagai sistem lambang yang formal, matematika bersangkut paut dengan sifat – sifat struktural dari simbol – simbol dan proses pengolahan terhadap lambang – lambang itu. Simbol – simbol dianggap mewakili berbagai sasaran yang menjadi obyek matematika. Bilangan – bilangan misalnya dipandang sebagai sifat – sifat struktural yang paling sederhana dari benda – benda.

Menurut Ernest (1991) formalis memiliki dua dua tesis, yaitu
1. Matematika dapat dinyatakan sebagai sistem formal yang tidak dapat ditafsirkan sebarangan, kebenaran matematika disajikan melalui teorema-teorema formal.

2.  Keamanan dari sistem formal ini dapat didemostrasikan dengan terbebasnya dari ketidak konsistenan.
 
Berdasarkan landasan pemikiran itu seorang pendukung aliran formalisme merumuskan matematika sebagai ilmu tentang sistem – sistem formal.

Walaupun semua sistem matematika masih menggunakan sistem aksioma, tetapi menganggap matematika sebagai konsep formalisme tidak dterimaoleh beberapa ahli.keberatan bermula ketika Godel membuktikan bahwa tidak mungkin bisa membuat sistem yang lengkap dan konsisten dalam dirinya sendiri. Pernyataan ini dikenal dengan Teorema Ketidaklengkapan Godel (Godel’s Incompleteness Theorem).

3.    Aliran Intuitonisme
Aliran intuitonisme yang dipelopori oleh ahli matematik dari Belanda yaitu Luitzen Egbertus Jan Brouwer, be;iau berpendirian bahwa matematika adalah sama dengan bagian yang eksak dari pemikiran matematika. Ketetapan matematika terletak dalam akal manusia dan tidak pada simbol – simbol di atas kertas. Selanjutnya intuisionis menyatakan bahwa obyek segala sesuatu termasuk matematika, keberadaannya hanya terdapat pada pikiran kita, sedangkan secara eksternal dianggap tidak ada.

Dalam pemikiran intuitionisme matematika berlandaskan suatu dasar mengenai kemungkinan untuk membangun sebuah seri bilangan yang tak terbatas sebuah seri bilangan yang tak terbatas, pernyataan ini pada hakikatnya merupakan suatu aktivitas berfikir tang yang tak tergantung pada pengalaman, bebas dari bahasa dan simbolis, serta bersifat obyektif.   
Keberatan terhadap aliran ini adalah bahwa pandangan kaum intuitisme tidak memberikan gambaran yang  jelas tentang bagaimana matematika bekerja dalam pikiran. Kita tidak mengetahui secara tepat pengetahuan intuitif bekerja dalam pikiran. Seperti halnya cinta dan benci dalam pandangan setiap orang berbeda-beda. Bagaimanakah hasilnya kalau dalam setiap pandangan yang berbeda-beda itu setiap orang berbagi tentang matematika? Lalu, mengapaperlu diajarkan kalau matematika itu bersfat intutif?

C.    Karakteristik Matematika
Matematika selalu berkembang seiring peradaban manusia. Namun dibalik semua itu matematika juga mempunyai suatu pandangan yang sudah disepakati bersama, di antaranya sebagi berikut :

1.    Memilliki Objek Kajian yang Abstrak
Mungkin ada perbedaan pendapat mengenai mengenai konsep matematika abstrak ini. Ada empat kajian matematika, yaitu: fakta, operasi/ relasi, konsep, dan prinsip.

2.    Bertumpu pada Kesepakatan
Simbol-simbol adalah istilah dalam matematika merupakan kesepakatan atau konvensi penting. Dengan  simbol atau istilah yang disepakati dalam matematika, maka pembahasan selanjtunya akan lebih mudah dilakukan dan dikumunikasikan.
3.    Berpola Pikir Deduktif
Dalam matematika hanya diterima pola pikir yang bersifat deduktif. Pola pikir deduktif ini secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang berpangakal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahakan kepada hal yang bersifat khusus.
4.    Konsisten dalam sistemnya
Di dalam masing-masing sistem, berlaku ketaatasasan atau konsistensi. Artinya dalam setiap sistem tidak boleh adanya kontradiksi.


Kesimpulan

 Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat dari para ilmuan matematika tentang apa yang disebut matematika. Untuk menafsirkan matematika para ilmuan belum pernah mencapai titik “puncak” kesepakatan yang “sempurna”.

Sumardyono (2004) menjelaskan bahwa secara umum terdapat tiga aliran besar yang mempengaruhi perkembangan matematika, termasuk perkembangan pendidikan matematika, yakni: aliran logikalisme, aliran formalisme, dan aliran intuisionisme.

Pandangan dalam matematika yang telah disepakati bersama, antara lain:
-    Memiliki objek kajian yang abstrak
-    Bertumpu pada kesepakatan
-    Berpola pikir deduktif
-    Konsistensi dalam sistemnya

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Echols,John M dan Hasan Shadilly. 2003. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Fathani,Abdul Halim. 2009. Matematika(Hakikat &Logika). Jogjakarta: Ar-Ruzz  Media

Gie ,The Liang. 1981. Filsafat Matematika. Yogyakarta : Supersukses.

Sumardyono. Karakterisitik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika.

Suriasumantri,Jujun S. 2003. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

file.upi.edu/Direktori/.../JUR...MATEMATIKA/.../Aliran_matematika.pdf