Motto

Hidup adalah pembelajaran tak kenal henti....

Tuesday, June 12, 2012

(¯`*•.¸♥ 13 Aurat Wanita ♥¸.•*´¯)

Assalamu'allaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ

Wanita dalam keseluruhan jasad (bodinya) bahkan suaranya adalah aurat atau hiasan yang hanya halal dan yang berhak menikmati adalah muhrimnya atau suaminya yang sah. Batasan aurat yang boleh kelihatan (nampak) hanyalah telapak tangan dan wajah (referensi : Al-Quran + Hadist). Apabila seorang wanita keluar rumah dengan di hias-hiasi, maka sebenarnya wanita tersebut telah menarik perhatian syaiton. Oleh karena itu Islam mengajarkan wanita apabila keluar rumah agar aurat tertutup rapi serta keluar atas dasar keperluan rumah tangga semata, boleh berdandan tapi dalam batas sewajarnya.

♥ 13 Aurat Wanita ♥

1-Bulu kening – Menurut Bukhari, Rasullulah melaknati perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening – Petikan dari (Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari)

2-Kaki memakai gelang kaki berloceng – Dan janganlah mereka (perempuan) menghentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan – Petikan dari (Surah An-Nur Ayat 31.) Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/ melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah.

3-Wangi-wangian atau parfum – Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong kapal kata orang sekarang hidong belang – Petikan dari (Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban)

4-Dada – Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka – Petikan dari (Surah An-Nur Ayat 31.)

5-Gigi – Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya – Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani, Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah – Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.

6-Muka dan leher – Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu. Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.

7-Muka dan Tangan – Asma binti Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja – Petikan dari (Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.)

8-Tangan – Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya – Petikan dari (Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.)

9-Mata – Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya – Petikan dari( Surah An Nur Ayat 31.)

-Sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram – Petikan dari (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.)

10-Mulut (suara) – Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik – Petikan dari (Surah Al Ahzab Ayat 32.)

Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi – Petikan dari (Hadis Riwayat Ibn Majah.)

11-Kemaluan – Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka – Petikan dari (Surah An Nur Ayat 31).Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya – (Hadis Riwayat Riwayat Al Bazzar.)

Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah – Petikan dari (Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.)

12-Pakaian – Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti – Petikan dari (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, An Nasaii dan Ibn Majah.)

Petikan dari (Surah Al Ahzab Ayat 59. )Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali . Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya - Petikan dari (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.) Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka bahagian-bahagian tertentu.

13-Rambut – Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya – Petikan dari (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.)

Saturday, June 9, 2012

TAUHID RUBUBIYAH

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah Ta’ala dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepada-Nya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dengan demikian, tauhid itu mencakup dalam tiga macam: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah serta tauhid asma’ wa sifat. Setiap macam dari ketiga tauhid tersebut sebagai seorang muslim haruslah mengerti dan ini harus pula dijelaskan agar menjadi terang perbedaan antara ketiganya. Islam merupakan agama yang telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala seperti ternukil di dalam firman-Nya, “…Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Ku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai bagimu islam sebagai agamamu…”.(Al-Maidah:3).
Dalam ayat ini mengandung pengertian bahwa islam itu telah sempurna dan tidak lagi membutuhkan tambahan sedikitpun. Karena itu di dalam kita mempelajari segala sesuatu tentang islam ini maka kita harus merujuk kepada para sahabat Radhiyallahu ‘Anhu yang mana mereka mendapat pelajaran langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Secara etimologis kata “Rabb” sebenarnya mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan, mendidik, memelihara, memperbaiki, menanggung, mengumpulkan, mempersiapkan, memimpin, mengepalai, menyelesaikan suatu perkara, memiliki dan lain-lain, namun untuk lebih sederhana dalam hubungannya dengan Rububiyatullah (Tauhid Rububiyah) kita mengambil beberapa arti saja yaitu mencipta, member rezeki, memelihara, mengelola, dan memiliki (kata-kata mencipta, member rezeki dan mengelola disimpulkan dari beberapa pengertian etimologis diatas),dan sebagian arti Rabb kita masukkan secara khusus ke dalam pengertian Mulkiyatullah (tauhid mulkiyah) seperti memimpin, mengepalai dan menyelasaikan suatu perkara.  Dengan pengertian di atas ayat Allah SWT: “Alhamdu lillahi rabbil’alamin” bisa kita fahami bahwa segala puja dan puji hanyalah untuk Allah Yang Mencipta, Memberi rezki, memelihara, Mengelola dan memiliki alam semesta. Begitu juga ayat :”Qull a’uzubirabbinnas”, bisa kita fahami : katakanlah (Hai Muhammad), aku berlindung dengan yang Maha Pencipta, Memberi Rezki, Memelihara, Mengelola (kehidupan) dan memiliki manusia. Pengertian bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Zat Yang mencipta, Memberi rezki, Memelihara, Mengelola dan memiliki, banyak kita dapati, di dalam kitab suci Al-Qur’an, antara lain dalam ayat-ayat berikut ini.

 ••            

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (Al-Baqarah 2; 21)
              •            
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah Padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah 2; 22)

Tauhid rububiyah ialah suatu kepercayaan, bahwa yang menciptakan alam dunia beserta seisinya ini, hanya Allah sendiri tanpa bantuan siapa pun. Dunia ini ada, tidak berada dengan sendirinya tetapi ada yang menciptakan dan ada pula yang menjadikan yaitu Allah SWT. Allah Maha Kuat, tiada kekuatan yang menyamai af’al Allah SWT. Maka timbullah kesabaran bagi makhluk, untuk meng-agungkan Allah, makhluk harus bertuhan hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Maka keyakinan inilah yang disebut Tauhid rububiyah. Jadi tauhid rububiyah ialah tauhid yang berhubungan dengan soal-soal ketuhanan.
Allah adalah pencipta alam semesta beserta seisinya, seperti firman-Nya Al-Qur’an :

             
“(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia”

                                                   
Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka Patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, Padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (Ar-Rad 13;16)
Dan bahwasanya Dia adalah penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatunya. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Yang Allah telah jelaskan dalam firman-Nya:
                      •           •  •                    

”Katakanlah: ‘WahaiRabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Kau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab(batas).”(Ali Imran: 26-27).
Allah Ta’ala telah menafikan (menghilangkan) sekutu baginya dalam kekuasaan-Nya, sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Allah berfirman:
                 
”Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah…”(Luqman:11)

Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam RububiyahNya atas segala Nya,
                •                    
”Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.”(Al-A’raf:54).
Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya.
    Bentuk tauhid semacam ini tidak ada yang mengingkari selain penganut faham materialis-atheis yang mengingkari wujud Allah SWT, seperti kaum Dahriyyun pada masa lalu dan komunisme pada masa sekarang. Termasuk pengikut faham materialis adalah penganut ajaran Dualisme, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa alam memmiliki dua tuhan, tuhan cahaya dan tuhan kegelapan.


    Adapun umumnya orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrikin), seperti bangsa Arab, mereka mengikuti tauhid ini dan tidak mengingkarinya, sebagaimana diceritakan dalam al-qur’an :
  •              
“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (al-Ankabut : 61)

                                                                 
84. Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?"
85. mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak ingat?"
86. Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya 'Arsy yang besar?"
87. mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak bertakwa?"
88. Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
89. mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (Al-mu’minun 23;84-89)

    Beriman kepada Rububiyah Allah tidaklah cukup bagi seorang hamba untuk menjadikannya sebagai seorang muslim, tetapi untuk itu ia harus beriman kepada Uluhiyyah Allah. Sebab Nabi SAW tetap memerangi orang musyrik arab, padahal mereka mengakui Rububiyah Allah.

Seluruh makhluk, baik yang berbicara maupun yang tidak, yang hidup maupun yang mati, semuanya tunduk kepada perintah kauniyah Allah. Semuanya menyucikan Allah dari segala kekurangan dan kelemahan, baik secara keadaan maupun ucapan. Orang yang beakal pasti semakin merenungkan makhluk-makhluk ini, semakin yakin itu semua diciptakan dengan hak dan untuk yang hak. Bahwasannya ia diatur dan tidak ada pengaturan yang keluar dari aturan Pengaturnya. Semua meyakini Sang Pencipta dengan fitrahnya.
Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Mereka tunduk menyerah, pasrah dan terpaksa dari berbagai segi, diantaranya:
1. Keyakinan bahwa mereka sangat membutuhkanNya.
2. Kepatuhan mereka kepada Qadha’, qadar dan kehendak Allah yang ditulis atas mereka.
3. Permohonan mereka kepadaNya ketika dalam keadaan daruran dan terjepit.
    Seorang mukmin tunduk kepada perintah Allah secara ridha dan ikhlas. Begitu pula ketika mendapatkan cobaan, ia sabar menerimanya. Jadi ia tunduk dan patuh dengan ridha dan ikhlas.”(Majmu’ Fatawa,I). Sedangkan orang kafir, maka ia tunduk kepada perintah Allah yang bersifat kauni (sunnatullah).
Adapun maksud dari sujudnya alam dan benda-benda adalah ketundukan mereka kepada Allah. Dan masing-masing benda bersujud menurut kesesuaiannya, yaitu suatu sujud yang sesuai denga kondisinya serta mengandung makna tunduk kepada Ar-Rabb.
Tidak satupun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir dan qadha’Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah. Dia adalah pencipta dan penguasa alam. Semua milik-Nya. Dia bebas berbuat terhadap ciptaanNya sesuai dengan kehendakNya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan dan dikendalikanNya. Dialah Yang Mahasuci, Mahaesa, Mahaperkasa, Pencipta, Pembuat dan Pembentuk.

Proses Terpilihnya Umar ibn Khatthab Sebagai Khalifah

Berbeda dengan proses pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah. Abu Bakar terpilih secara demokratis melalui proses perdebatan yang cukup panjang, hingga akhirnya ia terpilih sebagai khalifah yang sah. Sementara Umar Bin Khatthab diangkat melalui penunjukan yang dilakukan khalifah Abu Bakar setelah mendapatkan persetujuan dari para sahabat besar. Hal itu dilakukan khalifah guna menghindari pertikaian politik antara umat Islam sendiri. Beliau khawatir kalau pengangkatan itu dilakukan melalui proses pemilihan seperti pada masanya, maka situasinya akan menjadi keruh karena kemungkinan terdapat banyak kepentingan yang ada diantara mereka yang membuat negara menjadi tidak stabil, sehingga pelaksanaan pembangunan dan pengembangan Islam akan terhambat.[1]
Dan beberapa hari sebelum Abu Bakar wafat, balatentara Islam sedang bertempur dalam peperangan yang paling sengit yang pernah dikenal dalam sejarah masa itu. Kita katakan paling sengit karena peperangan itu ialah antara kaum Muslimin di satu pihak, melawan tentara Persia dan Romawi di lain pihak.
Pada saat itu Abu Bakar sudah terpikir, bahwa yang akan timbul perselisihan di kalangan kaum Muslimin, kalau mereka ditinggalkan demikian saja, tiada dengan khalifah yang akan menggantikannya. Sekiranya suatu kegoncangan terjadi pula di ibu kota, tak dapat tidak akan menimbulkan kekalahan bagi balatentara yang sedang bertempur itu. Bahkan tidak mustahil pula bahwa kegoncangan di pusat pemertintahan akan mengakibatkan perpecahan dalam laskar Islam sendiri. Ada panglima yang akan mendukung seorang calon khalifah, sedang panglima yang lain mendukung calon yang lain. dengan demikian balatentara Islam sedang berperang dengan bangsa Persia dan Romawi akan pecah dua yang masing-masing akan memerangi saudaranya sendiri. Kalau yang demikian terjadi, balatentara Islam itu akan dapat dikalahkan dan dihancurkan oleh bangsa Persia dan Romawi.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang di sebutkan, inginlah Abu Bakar hendak menunjuk penggantinya, sesudah memusyawarahkan hal itu dengan kaum muslimin. Dalam musyawarah itu dinyatakan bahwa dia akan menunjuk penggantinya siapa yang mereka sukai.
Abu Bakar mengemukakan Umar ibnul Khatthab sebagai calon. Dan beliau pulalah calon yang dikemukakan oleh kaum Muslimin. Tak ada orang yang akan menempati kedudukan ini, selain Umar.[2]
Abu Bakar jatuh sakit dalam musim panas tahun 634 M, dan selama 15 hari dia berbaring ditemapat tidur. Khalifah ingin sekali menyelsaikan masalah peggantian dan mencalonkan seorang pengganti, kalau-kalau hal itu akan melibatkan rakyatnya ke dalam suatu perang saudara. Meskipun dari pengalamannya Abu Bakar benar-benar yakin bahwa tidak ada seorang pun kecuali Umar bin khatthab yang dapat mengambil tanggungjawab kekhalifahan yang berat itu, karena masih ingin mengambil pendapat umum, dia bermusyawarah dengan para sahabat yang terpandang. Thabari menulis bahwa Abu Bakar naik ke atas balkon umahnya dan berbicara kepada orang banyak yang berkerumunan di bawah : ”apakah kalian akan menerima orang yang saya calonkan sebagai pengganti saya?” kata khalifah. “saya bersumpah bahwa saya melakukan yang terbaik dalam menentukan hal ini, dan saya telah memilih Umar bin Khathab sebagi pengganti saya. Dengarkanlah saya, dan ikutilah keinginan-keinginan saya.” Mereka semua berkata serempak “kami telah mendengar Anda dan kami akan menaati Anda.”
Kemudian dia memanggil Usman dan mendiktikan teks perintah yang menunjuk Umar sebagai penggantinya.[3]
Cerita lain dikemukakan sebagai berikut :
Sewaktu masih terbaring sakit, menjelang beliau wafat, Khalifah Abu Bakar secara diam-diam melakukan tinjau pendapat terhadapat tokoh-tokoh terkemuka dali kalangan Al Shahabi mengenai pribadi yang layak untuk menggantikannya kelak. Pilihannya jatuh kepada Umar ibn Khatthab akan tetapi ia ingin mendengarkan pendapat tokoh-tokoh lainnya.
Terlebih dahulu diundangnya Abrdurraman ibn ‘Auf dan berlangsung tinjau pendapat sebagai berikut :
“Bagaimana pendapat anda tetang Umar?”
“Dia itu, demi Allah, terlebih utama dari siapapun yang berada di dalam pemikiran anda. Cuma sikapnya keras.”
“Hal itu disebabkan dia menampakku terlalu lembut. Jikalau pimpinan diserahkan kepadanya niscaya sikapnya itu akan berubah. Coba perhatikan, hai Abu Muhammad, jikalau aku marah kepada seseorang maka dia membela orang itu. Sebaliknya jikalau aku bersikap lunak terhadap seseorang maka dia sengaja bersikap keras terhdap orang itu. Nah, saya minta rundingan kita ini antara kita berdua saja buat sementara.”
“Baiklah.”
Pada hari berikutnya diundangnya Utsman ibn Affan dan berlangsung tinjau pendapat sebagai berikut :
“ Bagaimana pendapat anda, hai Aba Abdillah, tentang Umar?”
“Anda lebih arif dalam hal itu”
“Benar, hai Aba Abdirrahman, tapi saya meminta pendapat anda.”
“Pengetahuanku tetang Umar ialah hatinya baik sekalipun sikapnya tampak keras. Tiada seorangpun serupa dia dalam lingkungan kita.”
“ Baiklah, saya minta rundingan kita ini antara kita berdua saja buat sementara.”
Berikutnya iapun mengundang Thulhah ibn Ubaidillah dan berlangsung tinjau pendapat dan tokoh ini menyatakan pendapatnya sebagai berikut :
“Anda menunjuknya pengganti anda. Anda menyaksikan apa yang diperbuatnya terhadap orang banyak, sedangkan anda masih hidup. Apalagi jikalau sudah terpegang pimpinan seorang diri, dan anda berngakat ke dalam haribaan Tuhan. Sebaliknya anda tanyakan pendapat orang banyak.”
Khalifah Abu Bakar saat itu tengah terbaring. Ia meminta didudukkan dan dibantu mendudukkannya oleh Thulhah, dan iapun berkata :
“Apakah anda mengkhawatirkan tanggungjawabku terhadap Allah? Jikalau ajalku sampai dan Allah bertanyakan tanggungjawabku maka aku akan berkata :”aku telah menunjuk penggantiku, bagi kepentingan hamba-Mu, seseorang yang terbaik dari hamba-Mu itu.”
Pada hari berikutnya, sesuai dengan anjuran Thulhah ibn Ubaidillah, iapun mengundang orangg banyak. Ia didudukkan oleh isterinya Asmak binti ‘Umais dan berada dalam pelukannya. Pembicaraan khalifah Abu Bakar singkat di antara lainnya berbunyi :
“Sudilah mengemukakan pendapat kamu semuanya mengenai orang yang akan aku tunjuk untuk penggantiku. Demi Allah, penunjukkan itu bukan tanpa memikirkannya sungguh-sungguh dan bukan pula aku menunjuk lingkungan keluargaku. Aku menunjuk penggantiku itu Umar ibn Khatthab. Sudilah menerimanya dan mematuhinya.”
Jawaban serentak ketika itu berbunyi ; “Sami’na wa Atha’na.” Yang bermakna :kami dengar dan kami patuhi.
Abu Abdillah Muhammad Al-Waqidi (130-207H/747-822M), ahli sejarah terkenal itu, di dalam karyanya Al-Maghazi mencatat bahwa Khalifah Abu Bakar, setelah dibawa masuk kembali dan dibaringkan, mengundang Utsman ibn ‘Affan dan memintanya menuliskan Amanatnya berbunyi :”Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah perjanjian yang diikat Abu Bakar ibn Abi Kahafah terhadap kaum Muslimin. Adapun kemudian ......”
Ia mendiktekannya berupa kata demi kata, akan tetapi sampai di situ, iapun tak sadrkan dirinya. Utsman melanjutkan bunyi amanat itu berbunyi :”adapun kemudian, aku menunjuk Umar ibn Khatthab untuk penggantiku, dan hal itu untuk kebaikan semuanya.”


Belakangan iapun sadar kembali, meminta dibacakan kalimat yang sudah di diktekannya, dan ternyata Utsman ibn ‘Affan membaca keseluruhannya. Khalifah Abu Bakar mendadak Takbir sehabis mendengarkan isi keseluruhan amanat itu dan berkata kepada Utsaman : “tampakku anda khawatir bahwa orang banyak akan berbeda pendapat kembali andaikan ajalku tiba pada saat tak sadar tadi.”
“Benar”
“Semoga Allah akan memberikan imbalannya terhadap anda atas niat baik anda terhadap agama Islam dan pemelukknya.”
Ia pun mengundang Umar ibn Khatthab, dan menyampaikan amanatnya, yang amat tercatat dalam sejarah, berbunyi :
“Hai Umar ibn Khatthab : Allah memikulkan tanggungjawab pada malam hari dan jangan tangguhkan kepada siang hari, Allah memikulkan tanggungjawab pada siang hari dan jangan tangguhkan kepada malam hari.”
“Allah akan menerima amal sunat sebelum amal fardhu dilaksanakan. Bukankah anda tahu, hai Umar, bahwa daun neraca seseorang itu akan berat pada Hari Kemudian disebabkan melaksanakan Kebenaran. Bukankah anda tahu, hai Umar, bahwa daun neraca seseorang itu akan ringan pada Hari Kemudian disebabkan membela Kepalsuan.”
“Bukankah anda saksikan, hai Umar, Bahwa ayat-ayat Sukaria itu senantiasa didampingi ayat-ayat Ancaman, dan ayat-ayat Ancaman itu senantiasa didampingi ayat-ayat Sukaria. Tujuannya suapaya manusia itu gembira disertai gentar. Bergembira dengan penuh harap akan tetapi bukan terhdap hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah, hingga akan tidak gentar menghadap Allah kelak.”
“Bukankah anda saksikan, hai Umar, bahwa Allah bercerita tentang penderitaan penduduk Neraka. Jika anda mengingatnya maka ucapkanlah di dalam diri : janganlah aku termasuk pihak itu.”
“Bukankah anda saksikan, hai Umar, bahwa Allah bercerita tentang kebahagiaan penduduk Sorga. Jikalau anda mengingatnya maka ucapkanlah di dalam diri : aku akan beramal seperti amal mereka itu.”
“Itulah amanatku kepada anda. Jikalau anda memperpegangi amanatku itu maka mudah-mudahan anda akan tidak lebih mencintai yang tak tampak daripada yang tampak.”[4]
Setelah Abu Bakar bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian, mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan Umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar.[5]


[2] Prof. Dr.A.Syalabi, pnerjemah Prof.DR.H.Mukhtar Yahya, 2007, sejarah & kebudayaan Islam, Jakarta : PT. Pustaka Al-Husna Baru, cet ke-7.hlm.204
[3] Syed Mahmudunnasir, 2005, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset, 145
[4] Joesoef sou’yb, 1979, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Jakarta: Bulan Bintang, cet ke-1, hlm 136-139
[5] Dr. Badri Yatim, M.A, 2011. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, cet ke-23, hlm 37

Wednesday, May 23, 2012

NarasiI Perluasan Wilayah Pada Masa Umar Ibn Khattab

4. NARASI PERLUASAN WILAYAH PADA MASANYA
Awal Cerita Penaklukan
Setelah nabi wafat, Islam telah tersebar di seluruh semenanjung Arab. Ketika Umar ibn Khattab berkuasa, Islam menyebar ke luar semenanjung yang gersang dan tandus itu, menuju wilayah-wilayah hijau subur, dan kaya ; ke kota-kota pusaka;  ke negeri-negeri legenda yang memiliki sejarah serta peradaban lebih tinggi.
Sebelum masa penaklukkan Islam, Suriah ditempati oleh bangsa Suriahe-Aramatic (Suryani), sebagian elite Yunani dan romawi berbicara dalam bahasa tersebut. Mesir ditempati bangsa Yunani dan Koptik. Cyrenaica dan Afrika utara dihuni bangsa Romawi dan Barber. Palestina didiami orang-orang berbahasa Suryani, Yunani, dan Ibrani. Irak dan seluruh wilayah Persia ditempati bangsa Arya-Persia dan sebagian kecil Suryani. Meski demikian, terdapat minoritas klan Arab yang tinggal di wilayah kecil perbatasan Suriah dan Irak, seperti Ain Tamar dan Hira. Hanya sekitar sepuluh tahun, umar berhasil menguasai seluruh wilayah itu.
Umar dan Penaklukan Suriah
•    Menaklukkan Damaskus
Setelah terpilih, Umar mengambil alih komando besar atas pasukan muslim. Mula-mula Umar mengganti Khalid ibn Walid dengan Ibnu Ubaidah ibn al-Jarrah. Umar memerintahkan mereka untuk menunda perhatiannya atas pella-tempat sebagian pasukan Bizantium yang kalah perang bersembunyi dan lebih terkonsentrasi untuk bergerak menuju Damaskus.Karena letaknya yang strategis, yaitu dijalur utama dagang dunia, di dekat pesisir Levantina (Medeterania Timur), Damaskus pernah dikuasai berbagai imperium dunia, seperti Akkadia, Ibrani, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, dan Arab Islam.
Pasukan Islam bergerak menuju kota bergerbang tujuh itu. Mendengar kabar itu, kaisar Heraklius mundur ke Emesa. Umar memerintahkan untuk mendahulukan Damaskus daripada Pella sekalipun jarak pella lebih memungkinkan untuk lebih dahulu dijangkau karena Damaskus adalah kunci utama menaklukkan kota-kota Suriah lainnya., bahkan juga kota-kota palestina dan pesisir Levantina sekaligus sebagai pintu gerbang menuju Emesa (Himsh) dan Antiokia dari arah Selatan.
Umar juga menempatkan pasukan disetiap pintu gerbang itu; pasukan Khalid ibn al-Walid di gerbang Timur (bab as-syarq), Amr ibn al-Ash di gerbang Thomas (bab thuma), Abu Ubaidillah di gerbang Jabiyyah, dan Yazid ibn Abi Sufyan digerbang Faradis. Umar juga memerintahkan beberapa pasukan untuk di utara Damaskus yang menjadi jalan terusan menuju Emesa untuk berjaga-jaga jika Heraklius mengerahkan pasukannya secara tiba-tiba dari kota tersebut.
Setelah menjalani pengepungan selama enam bulan, Damaskus akhirnya dapat ditaklukkan, tepat pada Februari 635 M. Mula-mula Khalid yang pertama kali berhasil membuka sisi timur benteng kota itu, kemudian disusul Abu Ubaidillah di sisi gerbang yang lain. Taka da perlawanan berarti dalam usaha penaklukkan kota itu. Kebanyakan masyarakat Damaskus justru lebih memilih berdamai dan menyerahkan sepenuhnya kota tersebut kepada otoritas Islam. Negosiasi antara penduduk kota dan pihak Islam pun berjalan dengan lancer, beberapa perjanjian dan persyaratan dibuat. Pihak Islam pun memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk kota sebagai kompensasi dari jizyah yang ditetapkan.
•    Menaklukkan Pella (Fihl)
Setelah Damaskus dikuasai, Abu Ubaidah, Khalid, Syarhabil, Amr, dan pasukan Islam lainnya bergerak ke selatan menuju Fihl, sebuah kota kecil di Lembah Baisan, beberapa kilometer di selatan Danau Tiberias yang menjadi salah satu wilayah utama Yordania. Fihl dilewati sungai Yordan yang deras, yang menghubungkan Danau Tiberias dengan laut mati. Ketika mengetahui pasukan islam dating dari Damaskus, sisa pasukan Bizantium yang masih bertahan di Fihl menjebol saluran irigasi dan sungai Yordan yang mengalir di sepanjang tepian Fihl. Air sungai itu pun meluap. Tanah lembah itu berubah jadi lautan lumpur.
Garis depan pasukan Islam tak bias bergerak, terjebak luapan lumpur itu. Namun, keadaan Bizantium justru lebih parah. Mereka terendam lumpur karena berada di tepi sungai itu. Maka pasukan muslim segera menghujani mereka dengan anak panah. Sebagian besar tewas. Sisanya berpencar melarikan diri, Fihl akhirnya dapat ditaklukkan. Abu Ubaidah segera mengirim berita kemenangan ini ke Madinah.
•    Menuju Chalcis (Qinnasrin)
Qinnasrin  atau Chalcis adalah provinsi paling utara Suriah, yang membawahi beberapa kota-kota penting, yaitu Qinnasrin sendiri, Lattakia, Aleppo (Halab), dan Antiokia tempat Heraklius saat itu berada setelah pelariannya dari Himsh.
Pasukan Islam berhenti sejenak di Himsh untuk menentukan arah penaklukkan di Qinniasrin. Sebagian berpendapat untuk lebih dahulu bergerak ke kota utama dan terbesar, tetapi pertahanan terkuat Bizantium berada di Aleppo. Seperti halnya Damaskus di wilayah Suriah bagian selatan, Aleppo di Suriah bagian utara adalah kokojo domino. Jika Aleppo dapat lebih dahulu ditaklukkan maka Antiokia dan kota-kota lainnya akan lebih mudah dikuasai.
•    Menaklukkan Aleppo (Halab)
Penaklukkan Islam atas Aleppo terbilang sangat sulit. Selain berada di atas bukit terjal dan dikelilingi benteng, gerbang kota Aleppo hanya satu; dari arah depan. Setelah sekian hari dikepung pada suatu malam yang gelap, beberapa pasukan Islam memanjat tembok benteng. Mereka berhasil menyelinap dan memasuki bagian dalam benteng, mengendap-endap, menyergap beberapa penjaga, hingga berhasil memutus rantai gerbang dan membukanya. Pasukan Islam yang telah berada didepan pintu gerbang secara diam-diam di malam gelap itu segera memasuki gerbang dan bergerak ke dalam. Pecahlah pertempuran antara kedua belah pihak. Pertempuran berlanjut hingga hari beranjak siang, dan akhirnya dimenangkan oleh pihak Islam. Korban pada pihak Bizantium lebih banyak, dan Vartanius, panglima Bizantium yang dipasrahi untuk mempertahankan  Aleppo itu pun tewas.
•    Menguasai Antiokia (Anthakiyyah)
Kota Antiokia diserahkan secara damai oleh uskup agung nya kepada pihak Islam. Kemegahan dan keindahan kota ini pun dapat terjaga dari akibat-akibat pertempuran. Pihak Islam memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk kota dan penduduk kota itu diwajibkan membayar jizyah, pajak keamanan yang terbilang sangat sedikit itu.

Umar Dan Penaklukkan Palestina
•    Menuju Palestina
Pada musim gugur tahun 635 M, atas titah Khalifah Umar di Madinah, Amr ibn al-Ash dan Syarhabil ibn Hasanah beserta pasukannya bergerak menuju palestina. Palestina adalah tanah pusaka bagi sejarah peradaban manusia. Palestina adalah wilayah suci yang diberkahi, tempat sejarah kehidupan nabi-nabi terjadi Iberahim, Ishak, Yakub, Dawud, Sulaiman, Ilyasa dan para pengikut Musa, juga Isa al-Masih, sekaligus Muhammad yang berisra.
•    Menaklukkan Galilea (Jalil)
Pasukan Islam bergerak melalui Golan (jaulan), daerah pegunungan yang subur, hijau, rimbun, dan sejuk di perbatasan Suriah dan Palestina. Keindahan panorama pegunungan Golan tak tertandingi. Di situlah pasukan Islam berhenti untuk beristirahat sejenak.
Dari Golan, Amr dan pasukannya memasuki Galileia, sebuah kawasan hijau dan subur di bagian utara Palestina.
Amr dan pasukannya tak mendapat  banyak kesulitan ketika menaklukkan kota-kota sepanjang Galileia. Mereka hanya mendapat perlawanan kecil dari pihak Bizantium yang masih tersisa. Setelah penaklukkan, Amr dan pasukan Islam memberi jaminan keamanan dan kepemilikan kepada seluuh rakyat galileia, lalu bergerak ke Yerussalem.
•    Menaklukkan Pesisir Levantina (sawahil as-Syam)
Sementara itu, Yazid ibn Abi Sufyan dan adiknya, Mu’awiyah yang ditugaskan untuk menaklukkan sepanjang pesisir pantai levantina , membagi pasukan ke dua arah; arah utara dipimpim Mua’wiyah dan arah selatan dipimpin Yazid. Di utara pasukan Islam berhasil menaklukkan Beirut, Tripoli, Sidon, Byblos, dan Latakia di utara Suriah hingga akhir tahun 635 M 15 H). Pasukan Islam yang bergerak ke arah selatan juga berhasil menaklukkan satu per satu kota Bandar di sepanjang pesisi itu Sidon , Acre, hingga Haiva di bagian provinsi Palestina.
•    Pertempuran Ajnadin
Saat mengetahui pasukan Islam yang dipimpin Amr ibn al-ash bersama syarrhabil inb Hasanah tengah bergerak kea rah palestina Palestina, pangeran Konstantin II segera mempersiapkan pasukan dan memanggi bala bantuan dari Siprus dan  Konstantinopel dan mengangkat Artavon (Arthabon) sebagai panglima.
Sementara itu, pasukan Yazid yang telah menaklukkan Haiva segera bergabung dengan pasukan Amr, untuk kemudian bersama-sama menuju Yerussalem. Saat melintasi Ajnain, pasukan Islam bertemu dengan pasukan Biantium dari Caesarea. Pertempuran pun pecah sedahsyat perang Yarmuk dulu. Dalam pertempuran itu, pihak Bizantium kembali dikalahkan. Artavon, panglima perang dari Caesarea, beserta beberapa yang tersisa lantas melarikan diri menuju Yerussalem
•    Menguasai Yerussalem (Al-Quds)
Musim dingin tahun 636 M telah tiba. Yerussalem Khalifah Umar dan memasuki Yerussalem. Pasukan Islam telah tiba di sisi kota kuno itu dan melangsungkan pengepungan kota sepanjang musim dingin. Khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah, Khalid, dan Mu’awiyah, yang telah berhasil menaklukkan seluruh wilayah suriah dan pesisir Levantina, untuk segera bertolak ke Yerussalem dan bergabung dengan pasukan Amr.
Di balik benteng, di dalam gereja, panglima Artavon dan Patriach Suphronius, uskup agung gereja Yerussalem, tengah berdebat sengit. Artavon bersikeras menginginkan Yerussalem tetap dipertahankan dari penaklukkan pasukan Islam, sekalipun harus mengobarkan peperangan di dalam kota suci itu. Sementara Sophronius menganggap bahwa pendudukan dari orang-orang Islam adalah penjelmaan dari kehendak Tuhan yang dikirimkan untuk mengakhiri kekuasaan orang-orang Bizantium. Sopphoronius lebih memilih bernegosiasi dan menyerahkan Yerussalem kepada pihak Islam dengan jalan damai.
Orang-orang yang berkumpul di gereja dan mengikuti jalannya perdebatan akhirnya lebih mengamini pendapat sang Uskup. Mereka setuju jika yerussalem diserahkan dengan jalan damai. Maka, salah seorang utusan dikirim untuk menemui pihak Islam diluar benteng. Utusan itu dating membawa syarat-syarat penyerahan kota, yaitu tidak aka nada pengangkatan senjata, di izinkan sisa-sisa pasukan Bizantium untuk berangkat ke Mesir, dan penyerahan Yerussalem diterima secara langsung oleh pemimpin tertinggi umat islam, khalifah Umar. Abu Ubaidah menerima syarat-syarat tersebut. Ia pun mengundang Khalifah Umar ke Yerussalem untuk menerima penyerahan kota tersebut.
Saat itu, Umar berada di Jabiyah, di selatan Damaskus untuk sebuah pengaturan administratif. Perutusan Abu Ubaidah dari Yerussalem dating menghadap Umar, menyampaikan undangan dan pesan-pesan, untuk kemudian segera kembali dengan membawa surat dari khalifah.
Umar dan Penaklukkan Persia
•    Pertempuran besar Qadisiah (Qadisiyah)
Pasukan persia, dibawah pimpinan Argabadz Rustam, mulai meninggalkan ibukota Ctesiphon (Mada’in) di sebelah timur, menyeberangi sungai Tigris, melintasi daratan hijau Jazirah yang subur, menyeberangi sungai Eufrat, melewati Hira, lalu terus bergerak menuju arah pertahanan pasukan Islam di lembah Qadisiah.
Kedua pasukan kini telah bertemu dan berhadapan. Pasukan Islam berjumlah 8.000 orang, pasukan Persia 60.000 orang. Bala bantuan pasukan Islam dari Suriah rupanya belum dating. Kedua pasukan kini sama-sama menunggu pekik kumandang takbir, bunyi lengking terompet perang, dan perintah menyerbu dari komandan masing-masing.
Hingga bunyi terompet perang pun terdengar nyaring dari pihak Persia. Pasukan Islam menyambutnya dengan kumandang takbir yang menggelegar. Kedua pasukan sama-sama bergerak dan merengsek maju. Pertempuran pun pecah dan berkecamuk dengan dahsyat, dan berlangsung empat hari lamanya. Ditengah –tengah kondisi yang demikian berkecamuk, bala bantuan Islam dari Suriah dating. Mereka segera menggabungkan diri dengan pasukan Islam.
Pertempuran Qadisiah berakhir dengan kemenangan pasukan Islam. Di Madinah, Khalifah Umar menunggu kabar perang tersebut dan gelisah. Maka, ia memutuskan untuk berangkat hingga sampai di luar kota Madinah dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan Umar bertemu seorang penunggang kuda. Ia adalah utusan panglima Sa’d dari Qadisiah untuk mengabarkan kemenangan pihak Islam di Qadisiah kepada Khalifah Umar di Madinah.
•    Menaklukkan Ibu kota Ctesiphon (Mad’in)
Atas perintah khalifah Umar, sebagian pasukannya Islam di Qadisiah diperintahkan untuk mengejar sisa-sisa pasuka Persia yang melarikan diri kea rah Timur, sebagian mereka bertahan di kota kecil Babil, dan sebagian lainnya pergi hingga ke Ctesipphon (mada’in), ibu kota kekaisaran Persia di seberang sungai Tigris.
Sa’d dan pasukannya segera bergerak ke timur menuju babil untuk kemudian ke Mada’in. babil adalah ibukota di persimpangan sengai Eufrat yang berdiri di dekat reruntuhan kota Babilonia, kota kuno yang menatahkan dongeng tengn Raja Hamurabi, Nebukadnezar, hingga taman gantungnya yang demikian melegenda. Dimota itu, paukan Persia telah mebuat parit-parit pertahanan untuk menghadapi kedatangan pasukan Islam.
Sa’d lalu memerintahkan pasukannya untuk berhenti pada garis yang sekiranya mereka tak terkena serangan panah pasukan Persia. Sa’d juga mulai kembali mengatur siasat perang. Sa’d memerintahkan pasukannya untuk menggali saluran air dari sungai Eufrat yang diarahkan pada parit Persia. Pasukan Islam pun mengalirkan air sungai yang deras itu hingga membanjiri parit-parit pasukan Persia. Pada saat yang sama, pasukan Islam langsung menyerbu pihak Persia yang tengah kacau dan kehilangan pertahanan, babil pun segera jatuh dan dapat dikuasai.
•    Menaklukkan Hulwan dan Masabazan
Atas perintah Khalifah Umar dari Madinah, Qa’ad ibn Amr lantas bergerak menuju Hulwan untuk melakukan pengejaran. Setiba di Hulwan, pasukan Islam tidak mendapati perlawanan. Penduduknya memilih berdamai dan membayar jizyah.
Setelah sepenuhnya menguasai Hulwan, Khalifah Umar dari Madinah menginstruksikan pasukan Islam untuk segera bergerak ke Masabazan dibawah pimpinan Dharar ibn al-Khathab al-Fihri. Mereka beranjak kea rah timur menuju kota Masabazan, wilayah pegunungan yang ditumbuhi banyak pepohonan dan terletak di anatara Hulwan dan kota besar Jundal Saphur.
Sementara itu, panglima Hormuzan rupanya telah mempersiapkan perlawanan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Dharar dan pasukannya pun langsung menggempur pihak Persia. Pertempuran kecil tidak berimbang itu pun segera berakhir dan dimenangkan pasukan Islam. Hormuzan kembali melarikan diri ke-wilayah pegunungan Ahwaz, sementara sisanya melarikan diri ke arah pegunungan. Dharar memerintahkan sebagian pasukan Islam untuk mengejar mereka dan menyerukan titah menyerah. Maka, mereka pun berbondong-bondong kembali turun ke Masabazan dan menyepakati perjanjian damai.
•    Menaklukkan Ahwaz
Ahwaz berbatasan langsung dengan Aljibal di utara, khurasan timur, Persepolis (Fars) di selatan, dan bagian baratnya berbatasan dengan Sungai Tigris dan pesisir Teluk Persia. Di wilayah Ahwaz terdapat kota-kota strategis, seperti Manadzir, Sussa, Tustar, dan Jundai Shapur. Penjelasan tentang Ahwaz pun disampaikan oleh Sa’d kepada khalifah Umar, juga kabar Hormuzan yang berkhianat, Umar memberikan izin kepada pasukannya untuk melakukan serangan ke wilayah Ahwaz dan sisa wilayah Persia lainnya.
Dari Madinah, khalifah Umar memberikan izin kepada Sa’d. Setelah itu, Sa’d dan pasukan Islam bergerak menyisir berbagai penjuru wilayah Ahwaz dengan membagi kelompok pasukan. Sa’d juga meminta bala bantuan kepada Utbah ibn Ghaazwan dari kota Kufah. Beberapa kota berhasil ditaklukkan, seperti Maisan, Damaizan, Manazhir, dan Nahrtiri. Hingga tibalah pasukan Islam dikota Suq al-Ahwaz di tepian sungai Tigris. Di kota inilah panglima Hormuzan menyatakan menyerah dan memilih untuk berdamai. Utbah ibn Ghazwan pun menerima permintaan damai dari Hormuzan lalu menunjuk beberapa wali untuk mengamankan kota-kota sepanjang Ahwaz yang telah ditaklukkan; Sullam ibn Kain at-Tamimi untuk kota Manadzir, dan Harmala ibn Muraiths untuk kota Nahrtiri hingga Suq al-Ahwaz.
Namun, mendadak Hormuzan mengkhianati janji damai yang dahulu ia ikrarkan sendiri. Hormuzan menyulut kerusuhan dan membunuh beberapa rakyat sipil, serta melakukan perlawanan bersama orang-orang kurdi. Suq al-Ahwaz pun kembali bergolak. Utbah segera melaporkan keadaan ini kepada Sa’d, dan langsung mengabari Khalifah Umar. Lalu datanglah perintah dari madinah untuk menumpas pengkhianatan Hormuzan beserta bala bantuan di bawah pimpinan Haqush ibn Zuhair.
Pertempuran kembali pecah di kota Suq al-Ahwaz. Pasukan Islam dapat dengan mudah menekuk pasukan Hormuzan. Dalam peperangan singkat itu, Hurmozan kembali berhasil meloloskan diri menuju Tustar. Suq al-Ahwaz kini dapat sepenuhnya dikuasai. Khalifah Umar memerintahkan untuk mengejar Hurmozan, dan menunjuk Juz ibn Muawiyah untuk mengepalai pasukan pengejar itu.
•    Menaklukkan Tustar
Hitungan tahun Hijriyah sudah memasuki angka ke-18 (639 M). Di Tustar, Hormuzan kembali menyusun kekuatan. Dari pelariannya di Rayy, kIsra Yezgerd memanggil segenap bala bantuan dari beberapa wilayah bagian timur laut, seperti Persipolis,Mer, Nahawand, dan Khurasan. Mengetahui hal ini, Khalifah Umar dari Madinah kembali memerintahkan panglima besar Sa’d untuk mempersiapkan pasukan perang dan bergerak menuju Tustar. Umar juga memanggil pasukan bantuan dari Bashrah, dibawah pimpinan Abu Musa al-Asy’ari di Bashrah, juga dari Kufah, di bawah pimpinan Sahl ibn Adi, juga pasukan Nu’man ibn Muqarrin dari Ahwaz.
Pengepungan kota Tustar yang dikelilingi benteng itu berlangsung beberapa bulan. Selama itu pula terjadi beberapa kali peperangan. Hingga pada suatu hari, pasukan Islam berhasil menemukan jalan rahasia untuk memasuki benteng. Mereka pun memasukinya tanpa diketahui pihak Persia, sehingga berhasil membukakan pintu pintu gerbang utama. Seketika itu pasukan Islam yang menunggu di luar gerbang segera berhamburan. Pasukan Persia yang berada di dalam rupanya tak dapat berkutik oleh serangan dadakan itu, Panglima Hormuzan akhirnya ditawan dan diserahkan kepada khalifah Umar.
•    Menaklukkan Sussa dan Jundai Saphur
Sementara itu, sisa pasukan Persia yang selamat dari pertempuran Tustar pergi melarikan diri ke Sussa dan Jundai Saphur. Pasukan Islam segera mengejar mereka di bawah komando Nu’man, Abu Musa al-Asy’ari, dan Abu Sabrah
Perjalanan dari Tustar ke Sussa tidak membutuhkan waktu lama, karena jarak keduanya tidak jauh. Setiba di Sussa, pasukan Islam tidak mendapat perlawanan dari Persia. Para penduduk kota memilih berdamai. Setelah menunggu instruksi dai Khalifah Umar di Madinah, pasukan Islam segera bergerak kembali menuju Jundai Saphur, kota besar dan pusat ilmu pengetahuan, sekaligus tempat bertemunya tradisi dan peradaban Persia dengan Yunani. Kali ini pasukan Islam dipimpin oleh panglima Zarruh ibn Abdillah dan Aswad ibn Rabi’ah. Seperti halnua Sussa, Jundai Saphur juga ditaklukkan dengan mudah. Para penduduk kota juga lebih memilih berdamai.
•    Pertempuran Besar Nahawand
Pasukan Islam berhasil memeanangkan pertempuran di Nahawad. Kerena kekalahan itu pasukan Persia telahdihinggapi rasa takut yang demikian rupa. Keadaan mereka makin kacau balau dan moral mereka pun berangsur merosot, maka dalam menghadapi keadaan mereka demikian itu taka da jalan lain Umar harus segera mengambil langkah. Ia mengerahkan kekuatannya di wilayah-wilayah itu sampai mereka tunduk semua keapada kekuasaanya dan taka ada lagi sisa-sisa yang akan mengadakan perlawanan, dan jangan pula ada pangeran-pangeran mereka yang akan berangan-angan seperti yang pernah terjadi, oleh karena itu dia sendiri yang menyusun brigade-brigade untuk mereka yang diberi tugass menjelajahi seluruh kawasan Persia: pimpinan brigade  Khurasan diserahkan kepada ahnaf bin Qais, brigade Ardasyir dan Shapur kepada Mujasyi’ bin Mas’ud as-Sulami, brigade Istakhr kepada Usman bin Abil-As-Saqafi, brigade Darabgird kepada Sariah bin kepada Asim bin Amr dan brigade Mukran kepada Hakam bin Amr at-Taglabi dengan perintah mereka harus bersiap-siap berangkat ke kota-kota dan kawasan-kawasan itu.
•    Menaklukkan Isfahan
Setelah kemenangan Nawahand, Khalifah Umar dari Madinah memerintahkan sebagian pasukan Islam utnuk bergerak menuju Isfahan dan Rayy. Umar menunjuk Abdullah ibn Abdullah ibn Utbah untuk mengepalai pasukan menuju Isfahan serta menunjuk Nu’aim ibn Muqarram, adik panglima Nu’man ibn Muqarrin, untuk mengepalai pasukan menuju Rayy.
Ketika mengetahui rencana pergerakan pasukan Islam menuju Rayy, Kisra Yazdgerd yang sedang berada dikota tersebut segera melarikan diri ke kota Isfahan. Ketika itu ia mengetahui bahwa pasukan islam lainnya tengah menuju Isfahan, Yazdgerd pun melanjutkan pelariannya hingga ke Kirman.
Sebelumnya, di balairung kekhalifahan di Madinah, Khalifah Umar terlebih dahulu meminta pendapat para sahabat tetua terkait pengejaran lanjutan ke Isfahan dan Rayy ini. Umar juga meminta pendapat Hormuzan, mantan panglima Persia yang kini memeluk Islam. Pasukan Abdullah telah tiba dan mengepung Isfahan, kota yang dikelilingi julangan benteng. Setelah pengepungan berjalan beberapa lama, penduduk kota akhirnya memilih berdamai dan membayar jizyah.
•    Menaklukkan Hamadan dan Rayy
Khalifah Umar juga memerintahkan Nu’aim ibn Muqarrin dan Qa’qa’ untuk mengejar sisa pasukan Persia yang melarikan diri ke Hamadan dan Rayy. Nu’aim dan pasukannya segera melaju ke Hamadan, dan dapat meanklukkan kota tersebut dengan mudah. Para penduduk kota memilih berdamai. Nu’aim bersama pasukannya lalu melanjutkan perjalanan untuk menaklukkan Rayy. Namun sepeninggal Nu’aim, Hamadan kembali bergejolak. Bahkan, pertahanan Panglima Qa’qa ibn Amr dengan pasukan kecilnya, semakin terdesak. Kondisi tersebut memaksa Nu’aim utnuk kembali ke Hamadan dan memadamkan pergolakan.
Sementara itu, kembalinya Nu’aim ke Hamadan dimanfaatkaan dengan baik oleh pihak Persia. Utusan-utusan rahasia dari Rayy dan Dailam melakukan pertemuan dengan penguasa Azerbaijan, Isfandiar, yang masih saudara Rustam panglima Persia yang wafat di perang Qadisiah. Maka terjadilah pemusatan kekuatan Persia di pegunungan Waj-Ruz anatara pasukan Rayy yang dipmpin Zabandi, pasukan Dailam yang dipimpin Mawta, dan pasukan Azerbaijan yang dipimpin Isfandiar.
Nu’aim dan 12.000 pasukannya segera bergerak ke Waj-Ruz. Di pegunungan itulah meletus pertempuran sengit. Kekuatan Persia akhirnya porak poranda dan nyaris semua prajuritnya binasa. Kekuatan Rayy dan Dailam pun berpindah ke tangan pasukan Islam.
Di lain pihak, pasukan muslim yang dipimpin Panglima Barrak Ibn Azib dan Panglima Hanzhala ibn Zaid, bergerak mengepung abhar. Abhar yang terkepung memeilih opsi berdamai dengan pasukan Islam. Selepas itu, pasukan Islam pun maju ke Kazwin dan Zanjan. Namun, seperti halnya abhar, kedua kota benteng tersebut pun menyatakan tunduk kepada Islam dan memilih untuk berdamai.
•    Menaklukkan Qom, Bistham, Jurjan, dan Tabaristan
Setelah berhasil menaklukkan Hamadan, Rayy, dan sekitarnya, Umar memerintahkan saudara Nu’aim ibn Muqarrin, yaitu Suwaid ibn Muqarrin, untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang belum dikuasai. Suwaid dan pasukannya pun bergerak menuju beberapa kota, seperti Qom, Bistham, dan Jurjan. Ketiga kota tersebut tidak melakukan perlawanan dan menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Islam.
Kondisi tersebut membuat penguasa wilayah Tabaristan, yang berbatasan langsung dengan ketiga kota itu, memilih opsi damai. Ia pun mengirim utusannya utnuk menjumpai Suwaid dan menyatakan menyerah dengan damai.
•    Menaklukkan Azerbaijan dan Armenia
Setelah menaklukkan Hamadan dan Rayy, Nu’aim ibn Muqarrin mengutus Bukair ibn Abdullah untuk segera bergerak ke Azerbaijan. Ia pun ditemani Sammak ibn Kharsyah. Di lain pihak, Isfandiar penguasa Azerbaijan, berusaha mempertahankan wilayah kekuasaanya. Pertempuran kecil pun terjadi, tetapi pada akhirnya Isfandiar berhasil ditangkap bersamaan dengan kekalahan pasukan Azerbaijan.
Setelah penaklukkan Azerbaijan, bantuan pasukan Islam dari Bashrah yang dipimpin Suraqah ibn Amr menyusul dating dan bertemu dengan pasukan Bukair. Atas restu Khalifah Umar di ibu kota, Suraqah dan pasukannya memutuskan untuk bergerak menuju Armenia bagian timur. Setibanya pasukan Islam di perbatasan Armenia, penguasa wilayah itu, Bagratid, memilih berdamai.
Hingga tahun 23 H (644 M), seluruh wilayah kekaisaran Persia dapat dikuasai. Yazdgerd sendiri melarikan diri ke arah timur, menuju Merv, dan hingga akhirnya wafat pada masa pemerintahan Khalifah Usman ibn Affan.

Umar dan Penaklukkan Mesir
Setelah izin penaklukkan Mesir diturunkan khalifah Umar dari Madinah, panglima Amr ibn al-Ash pun bergerak bersama seregu pasukan Islam dari Yerussalem. Khalifah Umar juga menurunkan pasukan bantuan yang dipimpin Zubair ibn al-Awwam, Basyar ibn Artha’ah, Kharijah ibn Hudzaifah, dan Umair ibn Wahab.
Umar menulis untuk Amr : “Sesungguhnya aku mengirimkan bantuan kepadamu empat ribu pasukan. Di anatara mereka terdapat empat lelaki yang derajatnya sama dengan seribu orang lainnya, Zubair ibn al-Awwam, Miqdad ibn al-Aswad, Ubadah ibn as-Shamit, dan Musallamah ibn Mukhlid.
Setiba di gerbang Mesir, di pesisir pantai Palesium, mereka bertemu dengan dua utusan Muqawqis, Sang Partiarc Alexandria. Keduanya lalu menghadap Muqawqis. Di samping Gebernur Mesir itu ada Arthabun, panglima Romawi untuk wilayah Mesir. Muqawqis mempertimbangkan seruan Amr, sementara Arthabun menolaknya.
Arthabun tak menghiraukan segala pertimbangan yang disampaikan. Sementara Amr ibn al-Ash dan pasukan Islam tengah menunggu jawaban dari pihak Mesir, dengan tetap bertahan di pintu masuk Mesir. Hingga beberapa hari kemudian, atharabun telah menyiapkan sejumlah pasukan, dan bahkan menyerang sebagian kecil pasukan Islam di perbatasan itu.
Amr pun memutuskan utnuk membalas serangan Arthabun. Ia dan pasukannya segera bergerak ke arah Memphis, kota besar di Mesir Tengah, tempat Arthabun dan pasukannya berada. Pertempuran pecah dengan sengit di Heliopolis, kota matahari di sisi timur Memphis. Amr dan Zubair dengan gigih berusaha merobohkan pasukan Arthabun di kota berbenteng tiu hingga pasukan Arthabun dikalahkan. Sementara itu, para penduduk setempat yang mayoritas beragama Kristen Koptik lebih memilih berdamai.
Setelah penaklukkandi wilayah, Memphis Amr memerintahkan pasukannya utnuk bergerak menuju Alexandria. Muqawqis sebelumnya menunaikan pajak negerinya kepada penguasa Romawi. Ketika Amr ibn al-Ash tiba dikota itu dan hendak mengepung kota, Muqawqis segera mengumpulkan para pendeta kota dan para pembesarnya. Muqawwis berkata kepada mereka, “Mereka orang-orang Arab itu, telah mengalahkan kekuasaan Kisra Persia dan Kaisar Romawi, serta menghilangkan mereka dari kerajaan mereka. Kita semua tidak memiliki daya di adapan mereka. Pendapatku, kita lebih baik membayar jizyah untk mereka. Muqawqis lalu mengirimkan seseorang utusan kepada Amr, yang menyatakan kesediaan penduduk Alexandria untuk membayar jizyah. Amr pun menerima tawaran mereka dan mengikat perjanjian, untuk kemudian segera mengirim berita penaklukkan damai Alexandria ini kepada Khalifah Umar di Madinah.
Sejarawan Saif berkata, negeri Mesir sepenuhnya dapat ditaklukkan pada bulan Rabiul Awal tahun 16 H, lalu berdirilah di negeri itu kerajaan Islam. Sebagian yang lain berkata : Negeri Mesir ditaklukkan pada tahun 20 H, dan kota Alexandria pada 25 H setelah tiga bulan.

Monday, February 20, 2012

Syi'ah

A.    Pengertian Syi’ah
Syi’ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk kepada keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau orang yang disebut ahl al-bait. Point penting dalam doktrin Syi’ah  adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama bersumber  dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl-al-bait atau para pengikutnya.
Dari segi lughat, kata syi’ah berarti golongan sahabat, pengikut dan penolong. Makna yang demikian ini dapat dijumpai dalam al-qur’an, Allah berfirman:
                                           
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).”
Syi’ah itu sebuah akar kata bermakna: pihak, kelompok.kata kerja daripadanya, yaitu syayya’a ataupun tasyayya’a menunjukkan pengertian: berpihak, memihak, bergabung, mengabungkan diri.
Menurut Thabathbai, istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (Syi’ah Ali). Pemimpin pertama ahl-bait pada masa Nabi Muhammad SAW. Abu Dzar al-Ghiffari, Miqad bin al-aswad dan Ammar bin Yasir.
 Inti mazhab Syi’ah, sebagaimana di uraikan Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya, adalah sebagai berikut:
“Sesungguhnya masalah imamah bukan bagian dari kemaslahatan umum yang dapat diserahkan kepada pendapat untuk menentukan siapa yang akan memegangnya. Imamah merupakan sendi agama dan prinsip Islam. Seorang Nabi tidak boleh melalaikan dan menyerahkannya kepada umat, tetapi wajib menentukan imam untuk mereka, sedangkan imam itu sendiri bersifat ma’shum (terpelihara) dari dosa-dosa besar maupun kecil.”
Adapun dari segi istilah, yang dimaksud dengan syi’ah adalah suatu jemaah atau golongan yang menganut suatu faham atau pendirian bahwa khalifah atau imam itu bukanlah suatu masalah yang boleh dipandang sebagai suatu kemaslahatan umum yang dapat diserahkan kepada umat untuk memilih dan menentukan orang yang berhak menjadi khalifah atau imam sesudah Nabi meninggal dunia.
Syi’ah adalah mazhab politik yang pertama lahir dalam Islam. Seperti telah disinggung, mazhab mereka tampil pada akhir masa pemerintahan ‘Utsman, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa ‘Ali. Setiap kali ‘Ali berhubungan dengan masyarakat, mereka semakin mengagumi bakat-bakat, kekuatan beragama, dan ilmunya. Karena itu, para propagandis Syi’ah mengeksplotasi kekaguman mereka terhadap ‘Ali untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka tentang dirinya. Di antara pemikiran itu ada yang menyimpang, dan ada pula yang lurus. Ketika keturunan ‘Ali, yang sekaligus keturunan Rasulullah mendapat perlakuan zalim yang semakin hebat dan banyak mengalami penyiksaan pada masa Bani Umayyah, rasa cinta mereka terhadap keturunan Ali semakin mendalam. Mereka memandang Ahlul bait ini sebagai syuhada dan korban kezaliman. Dengan demikian, semakin meluaslah daerah mazhab Syi’ah dan pendukungnya semakin banyak.
B.     Sejarah Pertumbuhan Syi’ah
Para ulama Syi’ah mengatakan bahwa Syi’ah itu telah ada dan berperan dalam masyarakat Islam sejak Nabi Muhammad SAW. masih hidup.
Pada saat terjadinya fitnah besar-besaran atas terbunuhnya Usman, kedok kesektean pun tebongkar, sehingga kelompok orang bergabung dibawah kepemimpinan Ali sedangkan sekelompok yang lain mendukung Mu’awiyah. Ali menjadi khalifah bukan atas suara bulat, namun sekelompok orang menuntutnya atas nama darah Usman karena Ali tidak serius membelanya, atau karena Ali tidak menyelidiki kasus pembunuhan itu. Kaum Amawiyyin (Bani Umayah) menghadang Bani Hasyim. Pada pertempuran siffin dan tahkim yang semakin melebar, ada yang keluar dari barisan Ali dan ada juga pihak yang mendukung dan membela Ali, mereka itulah benih-benih pertama dari aliran syi’ah.
Mengenai kemunculah syi’ah dalam sejarah terdapat perbedaan pendapat dari kalangan para ahli. Adapun pendapat dari kalangan pakar di luar syi’ah bahwa golongan ini lahir dalam masyarakat islam setelah Nabi meninggal dunia dan sebagai akibat yang timbul dari perselisihan pendapat dalam kalangan para sahabat tentang siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebaga khalifah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibn Khaldun, Ahmad Amin, dan juga oleh Bernard lewis dari kalangan orientalis. 
Mazhab Syi’ah timbul dimesir untuk pertama kali pada masa pemerintahan ‘Ustman, karena di sana para propagandis menemukan lahan yang subur. Kemudian tersebar luas di Irak yang dalam perkembangan berikutnya menjadi markas dan tempat menetapnya para penganutnya. Kalau Madinah dan Mekkah serta kota-kota lainnya di kawasan Hijaz menjadi tempat tumbuh kembangnya Sunnah dan Hadits, kemudian Syam menjadi buaian orang-orang Umawi, maka Irak menjadi tempat tinggal Syi’ah.
Menurut Abu Zahrah, syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, syiah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dalam perang siffin. Kalangan syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khalifah) Nabi SAW. mereka  menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thalib yang berhak menggantikan Nabi. Kepemimpinan Ali dalam pandangan syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW. pada masa hidupnya. Pada awal kenabian, ketika Muhammad SAW diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama-tama menerima adalah Ali bin Abi Thalib.
Bukti utama sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir, dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah, disuatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm, Nabi memilih Ali sebagai penggantinya dihadapan massa yang penuh sesak yang menyertai beliau. Pada peristiwa itu, Nabi tidak hanya menetapkan ali sebagai pemimpin umum umat (walyat-i ‘ammali), tetapi juga menjadikan Ali sebagai Nabi sendiri, sebagai pelindung (wali) mereka. Namun realitas ternyata berbicara lain.
Perbedaan pendapat dikalangan para ahli mengenai kalangan syi’ah merupakan sesuatu yang wajar. Para ahli berpegang teguh pada fakta sejarah ‘perpecahan’ dalam islam yang memang mulai mencolok pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah perang shiffin. Bagi meraka, pada masa kepemimpinan khulafa urrasyiddin sekalipun, kelompok syi’ah sudah ada. Mereka bergerak dibawah permukaan untuk mengajarkan dan menyebarkan doktrin-doktrin syiah kepada masyarakat. Tampaknya, syi’ah sebagai salah satu faksi politik islam yang bergerak secara terang-terangan, memang baru muncul pada masa kekhalifan Ali bin Abi Thalib, sedangkan syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam-diam oleh ahl al-bait muncul segera setelah wafatnya Nabi. Dalam perkembangannya, selain memperjuangkan hak kekhalifahan ahl-al-bait dihadapan dinasti Amawwiyah dan Abbasiyah, Syi’ah juga mengembangkan doktrin-doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yakni tauhid (kepercayaan kepada keesaan allah): nubuwwahi (kepercayaan kepada kenabian): ma’ad (kepercayaan akan adanya kehidupan diakhirat): imamah (kepercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan ahl al-bait): dan adl (keadilan ilahi). Dalam ensiklopedi Indonesia ditulis bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah terletak pada doktrin imamah. Mekipun mempunyai landasan tentang keimanan yang sama, Syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah. Diantara sekte-sekte Syi’ah adalah Itsna Asy’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghullat.
C.    GOLONGAN SYI’AH
Syi’ah bearti pengikut (pendukung faham). Dipakai kalimat ini untuk satu orang, dua orang atau banyak orang, baik lelaki maupun perempuan. Kemudian perkataan ini dipakai secara khusus buat orang yang mengangkat Ali dan keluarganya untuk menjadi Khalifah dan berpendapat bahwa Ali dan keluarganyalah yang berhakmenjadi Khalifah. Diantara sahabat yang membela faham Ali, ialah: Salaman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Jabir Ibn ‘Abdullah.


    SYI’AH ITSNA ASYARIYAH (SYI’AH DUA BELAS/SYI’AH IMAMIAH)
1.    Asal Usul penyebutan Imamiah dan Syi’ah Itsna Asyariyah
Di namakan Syi,ah Imamiah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya kecakapannya atau kemulian akhlaknya, akan tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah keturunannya untuk menduduki jabatan khalifah telah ada sejak Nabi wafat, yaitu dalam perbincangan politik di Saqifah Bani Sa’idah.
Syi’ah Itsna Asyariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima Wasiat Nabi Muhammad seperti yang ditunjukkan nas. Adapun Al-ausiya (penerima wasiat) setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang disepakati. Setelah Husen adalah Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam kedua belas.
Nama dua belas (Itsna Asyari’ah) ini mengandung pesan penting dalam tinjauan sejarah, yaitu golongan ini terbentuk setelah lahirnya kedua belas imam yakni kira-kira pada tahun 260 H/878 M. Pengikut sekte ini menganggap bahwa imam kedua belas, Muhammad Al-Mahdi, dinyatakan ghaibah (occultation).  
2.    Doktrin-doktrin Syi’ah Itsna Asyariyah
Di dalam sekte Itsna Asyariyah dikenal konsep Usul Ad-Din. Konsep ini menjadi akar atau fondasi  pragmatisme agama. Konsep usuluddin mempunyai lima akar.
a.    Tauhid (The Devine Unity)
Tuhan adalah esa baik esensi maupun eksistensi-Nya. Keesaan Tuhan adalaah mutlak. Ia bereksistensi dengan sendiri-Nya. Tuhan adalah qadim. Maksudnya, Tuhan bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan oleh Tuhan. Tuhan Mahatahu, Maha Mendengar, selalu hidup, mengerti semua bahasa, selalu benar dan bebas berkehendak. Keesaan Tuhan tiak murakkab (tersusun). Tuhan tidak membutuhkan sesuatu. Ia berdiri sendiri, tidak dibatasi oleh ciptaan-Nya. Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata biasa.
b.    Keadilan (Tha Devine Justice)
Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaan-Nya dengan ketidakadilan. Karena ketidak adilan dan kelaliman terhadap yang lain merupakan tanda kebodohan dan ketidakmmpuan daan sifat ini jauh dari keabsolutan dan kehendak Tuhan.
c.    Nubuwwah (Apostleship)
Syi’ah Itsna Asyariyah percaya mutlak tentang ajaran tauhid dengan kerasulan sejak Adam hingga Muhammad dan tidak ada nabi atau rasul setelah Muhammad. Mereka percaya adanya kiamat. Kemurnian dan keaslian Al-Qur’an jauh dari tahrif, perubahan, atau tambahan.
d.    Ma’ad ( The Last Day)
Ma’ad adalah hari akhir (kiamat) untuk menghadap pengadilan Tuhan akhirat. Setiap Muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam pengadilan Tuhan. Mati adalah periode transit dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.
e.    Imamah (The Devine Guidance)
Imamah adalah institusi yang diinagurasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk kepada ketuunan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir.


    SYI’AH SAB’IYAH (SYIAH TUJUH)
1.    Asal Usul Penyebutan Syi’ah Sab’iyah
Aliran Sab’iyyah adalah pengikut ‘Abdullah ibn Saba’, seorang Yahudi dari suku al-Hirah yang menyatakan diri masuk Islam. Ibunya seorang budak kulit hitam. Karena itu, ia dipanggil dengan Ibn al-Sauda’ (anak si waita hitam). Ia termasuk salah seorang yang paling keras menetang utsman dan para pejabatnya. Pemikiran dan kerusakan yang ditimbulkan olehnya berkembang secara bertahap. Temanya adalah mengenai ‘Ali ibn  Abi Thalib. Ia mengembangkan pemikiran di tengah-tengah masyarakat luas bahwa, sebagaimana dimuat dalam Taurat, setiap Nai mempunyai penerima wasiatnya, dan Ali adalah penerima wasiat Muhammad, bahkan penerima wasiat wasiat yang terbaik, sebagaimana halnya Muhammad adalah Nabi terbaik. Ia juga menyebarkan pemikiran bahwa Muhammad akan kembali ke dunia. Ia berkata, “Saya heran terhadap orang yang mengatakan bahwa ‘Isa akan kembali, tetapi tidak mengatakan bahwa Muhammad Muhammad akan kembali ke dunia,” Pada tahap berikutnya ia menegaskan bahwa di dalam diri ‘Ali bermaksud menghukum mati ‘Abdullah ibn Saba’, tetapi dicegah oleh ‘Abdullah ibn Abbas dengan mengatakan., jika engkau membunuhnya, pendukungmu akan menentangmu, padahal engkau telah bertekad untuk kembali guna memerangi penduduk Syam. “Karena itulah, ‘Ali hanya menghukum Abdullah ibn Saba’ dengan membuangnya ke Mada’an.
Istilah Syi’ah Sab’iyah (Syi’ah Tujuh) dianalogikan dengan Syi’ah Itsna Asyariyah. Istilah itu memberikan pengertian bahwa sekte Syi’ah Sab’iyah Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bin Ja’far. Karena dinisbatkan pada imam ketujuh, Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq, Syi’ah Islamiyah.
Berbeda dengan Syi’ah Sab’iyah, Syi’ah Itsna Asyariyah membatalkan Ismail bin Ja’far sebagai imam ketujuh karena disamping mendahuli ayahnya, Ja’far (w. 765). Sebagai penggantinya adalah Musa Al-Kadzim, adik Ismail. Syi’ah Sab’iyah menolak pembatalan tersebut, berdasarkan sistem pengangkatan imam dalam Syi’ah dan menganggap Ismail sebagai imam ketujuh dan sepeninggalannya diganti oleh putranya yang tertua, Muhammad bin Ismail.
2.    Doktrin Imamah dalam Pandangan Syi’ah Sab’iyah
Para pengikut Syi’ah Sab’iyah percaya bahwa Islam dibangun oleh tujuh pilar seperti  dijelaskan Al-Qadhi An-Nu’man dalam Da’aim Al-Islam. Tujuh pilar tersebut adalah iman,taharah, salat, zakat, saum, haji, dan jihad.
Dalam pandangan kelompok Syi’ah Sabi’yah, keimanan hanya dapat diterima bila sesuai dengan keyakinan mereka, yakni melalui walayah (kesetiaan) kepada imam zaman. Imam adalah seseorang yang menuntun seseorang yang menuntun umatnya kepada pengetahuan (ma’rifat). Dengan pengetahuan tersebut seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Syarat-syarat seorang Imam dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah adalah sebagai berikut:
•    Imam harus berasal dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah yang kemudian dikenal dengan ahlul bait.
•    Berbeda dengan aliran Kaisaniyah, pengikut Mukhar Ats-Tsaqafi, mempropagandakan bahwa keimanan harus dari keturunan Ali melalui pernikahannya dengan seorang wanita dari Bani Hanifah dan mempunyai anak yang bernama Muhammad bin Al-Hanafiyah.
•    Imam harus berdasarkan penunjukan atau nas. Syi’ah Sab’iyah meyakini bahwa setelah Nabi wafat, Ali menjadi imam berdasarkan penunjukan khusus yang dilakukan Nabi sebelum beliau wafat.
•    Keimaman jatuh kepada anak tertua. Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam memperoleh keimaman dengan jalan wiratsah (heredity).
•    Imam harus maksum (immunity from sin an error). Sebagaimana sekte Syi’ah lainnya, Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam harus terjaga dari salah satu dosa.
•    Imam harus dijabat oleh seorang yang paling baik (best of man), berbeda dengan Zaidah, Syi’ah Sab’iyah dan Syi’ah Dua Belas tidak membolehka adanya imam mafdul.
•    Seorang Imam harus mempunyai sifat walayah, yaitu kemampuan esoteric untuk menuntun manusia kedalam rahasia-rahasia Tuhan.
3.    Ajaran Syi’ah Sab’iyah Lainnya
Ajaran Sab’iyah lainnya pada dasarnya sama dengan ajran sekte-sekte Syi’ah lainnya. Perbedaannya terletak pada konsep kemaksuman imam, adnya aspek batin pada setiap yang lahir, dan penolakannya terhadap Al-Mahdi Al-Muntadzar.
Menurut Sab’iyah, Al-Qur’an memiliki makna batin selain makna lahir. Dikatakan bahwa segi-segi lahir atau tersurat dari syariat iu diperuntukkan bagi orang awam yang kecerdasannya terbatas dan tidak memiliki kesempurnaan rohani. Dengan prinsip ta’wil, Sab’iyah menakwilkan, misalnya, ayat Al-Qur’an tentang puasa dengan menahan diri dari menyiarkan rahasia-rahasia iamm; dan ayat Al-Qur’an tentang haji ditakwilkan dengan mengunjungi imam.


     SYI’AH ZAIDIYAH
1.    Asal Usul Penamaan Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam kelima, putra imam keempat, Ali Zainal Abidin. Aliran Zaidiyah itu dibangun oleh Zaid ibn ‘Ali. Sepeninggal al-imam ke-V yang dijabat oleh Muhammad Al Baqir, yakni putra sulung ‘Ali Z Abidin ibn Alhussain ibn ‘Ali ibn Abu Thalib, maka aliran imamiyah tepecah dua. Kelompok ini berbeda dengan sekte Syi’ah lain yang mengakui Muhammad Al-Baqir, putra Zainal Abidin yang lain, sebagai imam kelima. Dari nama Zaid bin Ali inilah, nama Zaidiyah diambil. Syi’ah Zaidiyah merupakan sekte Syi’ah yang moderat. Abu Zahra menyatakan bahwa kelompok ini merupakan sekte yang paling dekat dengan sunni.
2.    Doktrin Imamah Menurut Syi’ah Zaidiyah
Imamah sebagaimana telah disebutkan, merupakan doktrin fundamental dalam Syi’ah secara umum. Berbeda dengan doktrin imamah yang dikembangkan Syi’ah lain, Syi’ah Zaidah mengembangkan doktrin imamah tipikal. Kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yag mewarisi kepemimpinan Nabi SAW. Telah ditentukan nama dan orangnya oleh Nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja.
Menurut Zaidiyah seorang imam paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, ia merupakan keturunan ahl al-bait, baik melalui garis Hasan maupun Husein. Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang. Ketiga, memiliki kecendrungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam bidang keagamaan.
3.    Doktrin-doktrin Syi’ah Zaidiyah Lainnya.
Aliran Zaidiyah itu tidak menganut ajaran tentang al-taqiyat, yakni kemestian menyembunyikan kemestian didepan lawan, dan tidak menganut ajaran tentang al-ishmat, yakni bahwa setiap al-imam itu saci dari setiap kesalahan dan dosa apapun, dan tidak menganut ajaran tentang al-istitar, yakni bahwa al-imam itu didalam peri keadilan kekuatan tempur masih lemah mestilah merahasiakan identitas diri. 
Bertolak dari doktri tentang al-imamah-al-mafdul,Syi’ah Zaidiyah berpendapt bahwa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab adalah sah dari sudut pandang Islam. Dalam pandangan mereka, jika ahl al-hall wa al-‘aqd telah memilih seorang imam dari kalangan kaum muslim, meskipun ia tidak memenuhi sifat-sifat keimanan yang ditetapkan oleh Zaidiyah dan telah dibaiat oleh mereka, keimananya menjadi sah dan rakyat wajib berbaiat kepadanya.
Berbeda dengan Syia’ah lain, Zaidiyah menolak nikah mut’ah (temporer). Meskipun demikian, dalam bidang ibadah, Zaidiyah tetap cenderung menunjukkan symbol dan amalan Syi’ah pada umumnya. Dalam azan misalnya, mereka member selingan ungkapan hayya ‘alakhair al-amal, takbir sebanyak lima kali dalam salat jenazah, menolak sahnya mengusap kaus kaki (maskh al-Khuffainii), menolak imam salat yang tidak saleh dan menolak binatang sembelihan bukan muslim.


    SYI’AH GHULAT
1.    Asal Usul Penamaan Syi’ah Ghulat
Istilah Ghulat berasal dari kata ghalada-yaghlu-ghuluw artinya bertanbah dan naik. Ghala bi ad-din artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehingga melampaui batas. Syi’ah ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang memiliki sikap berlebih-lebihan atau ekstim (exaggeration). Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah ekstim (ghulat) adalah kelompok yang menempatkan Ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajat kenabian, bahkan lebih tinggi daripada Muhammad.
Mengenai dengan sekte Syi’ah Ghulat, para mutakalimin berbeda berpendapat. Syahratani membagi sekte Ghulat menjadi 11 sekte; Al-Ghurabi membaginya menjadi 15 sekte. Sekte-sekte yang terkenal antara lain: Sabahiyah, Kamaliyah, Albaiyah, Mughriyah, Mansuriyah, Khattabiyah, Kayaliyah, Hismaniyah, Nu’miyah, Yunusiyah, dan Nasyisiyah wa Ishaqiyah.
Nama-nama sekte tersebut menggunakan nama tokoh yang membawa atau memimpinnya. Sekte-sekte ini pada mulanya hanya satu, yakni faham yang dibawa oleh Abdullah bin Saba’ yang mengajarkan bahwa Ali adalah Tuhan.
2.    Doktrin-doktrin Syi’ah Ghulat
Menurut Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim, yaitu tanashukh, bada’, Raj’ah, dan Tasbih. Moojan Momen menambahkannya denga hulul dan ghayba.
Tanashuk adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain. Faham ini mengambil dari falsafah haimamahnya, sehingga ada yang menyatakan seperti Abdullah bin Muawwiyah bin Abdullah bin Ja’far bahwa roh Allah berpindah kepada Adam seterusnya kepada imam-imamsecara turun-temurun.
Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmua-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan yang sebaliknya.
Raj’ah ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bawa imam Mahdi Al-Muntazhar akan datang ke bumi. Faham Raj’ah dan mahdiyah ini merupakan ajaran seluruh Syi’ah.
Tasbih arti menyerupakan, mempersamakan. Syi’ah Ghulat menyerupaka salah seorang imam mereka dengan Tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan makhluk, Tasbih ini diambil dari faham hululiyah dan tanasukh dengan khalik.
Huul artinya Yuhan berada pada setiap tempat, berbicara   dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia. Hulul bagi Syi’ah Ghulat bearti Tuhan menjelma dalam diri imam sehingga imam harus disembah.
Ghayba (occullation) artinya menghilangnya Imam Mahdi. Ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah bahwa Imam Mahdi itu ada didalam negeri ini dan tidak dapat dilihat mata biasa.


DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosehan dan Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka setia. 2006
As-Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Kalam/Tauhid. Jakarta: Bulan Bintang. 1992
Daudi, Ahmad. Kuliah Ilmu Kalam. Jakarta: Bulan Bintang. 1997
Madkour, Ibrahim. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta: Bumi Perkasa. 1995
Sou’yb, Joesoef. Studi Tentang Aliran-aliran dan Tokoh-tokohnya. Jakarta: Al Husna Dzikra. 1997
Zahrah, Imam Muhammad Abu. Aliran Politik dan Akidah dalam Islam. Jakarta: Logos Publishing House. 1996

Duku Padang Batung (Langsat Lanbau)

Duku Padang Batung (Langsat Lanbau) Sejarah

Dunia memaang selalu berubah, seiring dengan tuntutan zaman ditengah berlangsungnya era globalisasi, kebutuhan manusia akan tagihan lidah berimbas pada seni manisnya buah, oleh karena itu orang-orang dahulu pun mengembangkan rasa jenis buah, salah satunya duku (langsat) untuk menciptakan rasa manis atau rasa yang berbeda untuk manusia.
Asal muasal duku ini masih belum dipastikan mengingat para veteran langsat ini belum banyak yang mengkonfirmasi masalah asal muasalnya, namun salah seorang pemilik kebun, Drs. H. M. Yusuf Syu’aib, berpendapat bahwa langsat ini dulunya adalah hasil karya okulasi dari petani Belanda, namun ada juga pendapat tentang, dulu ketika zaman perang salah satu penduduk desa Durian Rabung pulang dari Belanda meyelesaikan Sarjana disana, dan mengembangkan langsat jenis ini.
Entah apa namanya orang desa sering menyebutnya “langsat kabun” yang mungkin mengandung makna  “kabun” dalam istilah banjar berarti “kebun”, sedangkan di Padang Batung sendiri lebih dikenal dengan nama “Langsat Lanbau” dan setelah di resmikan di tingkat Nasional oleh Badan Holtikultura Nasional, duku ini dinamakan “Duku Padang Batung”.

Kualitas (keunggulan)
1.   Soal rasa manis sudah dijamin.
2.   Duku ini mempunyai tekstur kulit yang lebih tebal daripada duku yang lainnya.
3.   Bentuknya lebih bulat dari pada diameter duku yang lainnya di Kal-Sel, dan yang besar bentuknya hampir sebesar telor.
4.   Duku ini lebih kental sehingga sehingga terasa lebih nikmat dilidah.
5.   Tidak mudah busuk, rasa tetap sama dalam 3 hari kedepan (setelah panen).
Harga
•    Untuk harga eceran berkisar antara Rp. 13.000 – 15.0000/kg dalam setiap jangka tahun berubah-ubah tergantung situasi pemasaran.
•    Untuk harga pembalantikan (borongan) harga berkisar Rp. 10.000 -12.000 /ton), dalam setiap jangka tahun berubah-ubah tergantung situasi pemasaran.
Informasi Lebih lanjut hubungi
-    Drs. H. M. Yusuf Syu’aib (081349489399) atau (051723981)
Tersedia bibit duku Padang Batung (Langsat Lanbau)
-    Ukuran kecil
-    Ukuran sedang
-    Ukuran besar