Motto

Hidup adalah pembelajaran tak kenal henti....

Monday, August 15, 2016

JALAN-JALAN KE SEMARANG

Perjalanan Ke Semarang
Suatu hari disaat saya santai dikelas ketua kelas (Mas Habib) menghampiri saya, “hei” saya ada rencana sama teman-teman mau ke Semarang, tepatnya hari rabu, 27 Januari 2016. Gimana mau ikut?
Tiba-tiba pikiranku tertuju pada seorang teman PMTK B yang lagi kuliah disemarang, ya “IJUH” kalau dengar kota “Semarang” rasanya teringat kawan saya yang satu ini.
“Wah, sepertinya bisa diatur mas, gimana zis? “tanyaku tiba-tiba. “ahh, okelah sekalian kita menemui si IJUH, kata azis yang sepertinya satu pikiran denganku.
Akhirnya kami berdua mengiyakan ajakan mas Habib untuk go to Semarang, karena niat kami ingin menemui teman yang tidak pulang si IJUH, yang juga hidup di perantauan, seperti kita-kita hehehe.

Selasa, 26 Januari kami lebih dahulu berangkat dan menginap dirumah Mas Habib di Mojokerto, sebenarnya kami juga ada rencana untuk exploring mojekerto, dan tepat selasa itu, kami pun di ajak mas habib untuk jalan-jalan mengexplore mojokerto. Namun ceritanya akan saya tulis berlainan. Karena perjalan di mojokerto sangat berkesan bagi saya. Tepatnya saya bertemu orang-orang yang luar biasa. (baca Red Exploering Mojokerto)

Oke, sesuai rencana tepatnya hari rabu, 27 Januari 2016 saya dan sahabt saya (AzisMoeslim) serta ketua kami (mas Habib+Alfian) terlebih dahulu berkumpul dirumah (Om Deny), karena perjalan ke semarang ini, beliaulah sang Navigatornya. Kami berdua hanya ikut hehehe. Dan ditempat saya berkumpul saya berkenalan dengan teman-teman lain yang bakal bareng ke Semarang, disana saya berkenalan dengan mas JACK dan Anwar, ada keluarga Om Deni, anak beliau (Gibran) serta Istri beliau.
Sekitar pukul 07.00 WIB pagi, tim kami pun berangkat dari mojokerto menuju semarang. Tim dipimpin oleh om deny, gibran dan istri, disusul (anwar+ jack), dan (saya+azis), terakhir mas (habib+alfian) sebagai cleaning hehehe. Dalam perjalanan yang lumayan jauh ini, kami melewati beberapa kabupaten di Jawa Timur seperti, Mojokerto, Jombang, Lamongan, kalau tidak salah juga ada (Tuban) dan terakhir Bojonogoro.

Persinggahan pertama kami adalah dikota bojonogoro, setelah sekitar 3 jam perjalan. Kami pun singgah di sebuah mesjid bojonogoro. Dan makan bersama, mas habib yang mengeluarkan bekal berupa nasi bungkus. Alhamdulillah “terima kasih Mas Habib” hehehe.

Perut kenyang segala keperluan di selesaikan dan lanjut perjalanan, melewati bojonogoro sumber energi nusantara katanya, melihat api di atas tiang yang katanya sih tidak pernah padam, akhirnya kami pun sampai di akhir jawa timur, dan masuk ke Gerbang Jawa Tengah. Welcome to central Java. Kami memilih untuk singgah sebentar, mengambil foto-foto seperti orang pada umumnya. Ah wajar lah ga papa selfian dulu, alay-alay dikit,wkwkwk.


Perjalanan dilanjutkan, terus terang sudah tidak terlalu ingat lagi rute yang saya lalui, saat di Jawa tengah saya berhenti pertama di Kabupaten BLORA. Mesjid disekitar Alun-alun. Selanjutnya melalui daerah DEMAK dan PORWODADI. Dan tiba di Semarang pada waktu magrib. Jalannya tidak selalu mulus, sempat hujan-hujanan, betapa nekat saya ikut hehehe.
Oke sampai di semarang berikut tempat-tempat yang saya singgahi.

1. Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.
Kampus ini tempat teman saya kuliah, Juhrani atau terkenal dengan nama IJUH, Kampus ini sepertinya terletak di lereng perbukitan, kesan saya kampus ni sangat rindang banyak pepohonan. Kampus Pascasarjana memang terpisah dengan S1 nya tapi tak apalah inilah rejeki bisa menjejakkan kaki disalah satu kampus ternama di Jawa Tengah.

 2. SAM POO KONG



 3. SIMPANG LIMA (Kota Semarang)



 4. Candi Songo




 5. Mesjid Raya Jawa Tengah










6. Menara Asmaul Husna 99M






Friday, February 5, 2016

PENDAKIAN GUNUNG PENANGGUNGAN 1653MDPL

Tanggal 09-10 Januari 2016 kami berencana untuk mendaki, ya karena mendaki adalah sebuah kebutuhan batin bagi saya, alam itu selalu memanggil saya untuk  mengunjunginya. Sehabis zuhur waktu Indonesia Barat pukul 12.00 kami mengambil peralatan untuk mendaki berupa tenda dan sepatu hiking, ya lumayanlah mendaki gunung itu juga butuh biaya guys. Setelah semua persiapan beres, saya langsung menghubungi teman-teman untuk mendaki.

Dan tujuan kami adalah “puncak gunung penanggungan 1653 MDPL.’’


Sebelum cerita ini ditulis mohon maaf kepada teman teman tim jika dokumentasi dan foto-fotonya kurang lengkap. Ini hanya tulisan untuk mengingat-ngingat saja hehehe...

Ada istilah yang menyebutkan bahwa penanggungan adalah anak dari gunung semeru, ya dilihat dari miniaturnya memang mirip, selain itu tracknya yang terjal benar-benar menaikkan adrenalin saya. Pukul 16.30 kami menjemput seorang teman kami di mojosari (Wilda). Setelah mampir sebentar dan di kasih pentol plus tahu hehehe, kami meneruskan perjalanan menuju puncak penanggungan.

Sekitar jam 20.00 WIB kami menuju gunung penanggungan lewat jalurTratas. Kami memilih memarkir dirumah warga sekitar daripada parkir di tempat yang berdekatan dengan pos 1. Entahlah mungkin karena pengalaman kapten kami (Mas Habib), yang memilih memarkir agak jauh dari kaki gunung alias rumah warga.

Biaya parkir 15ribu/ 4 kendaraan, biaya masuk mendaki di penanggungan 8ribu rupiah. Kami mendaki pada akhir pekan hari sabtu-minggu, karena akhir pekan orang-orang yang mendaki juga sangat banyak, tercatat oleh petugas hampir 500 orang pendaki pada hari itu. Kami pun mendaftar 1  tim dengan 7 orang, yang terdiri dari habib, azis, abdan, sastro, aulia, mega, dan wilda.


Gunung ini punya 4 pos, pos pertama adalah regestrasi dan administrasi dari karang taruna desa dan sebagainya, kemudian pos 2 masih bisa kita jumpai warung-warung dan tempat peristirahatan, setelah itu pos 3 dan pos 4 hanyalah sebuah pondokan untuk beristirahat. Pos 3-dan pos 4 dijaga oleh tim keamanan atau tim kesehatan, pokoknya aman deh teman, mendaki di penanggungan hehehe.

Berangkat sekitar jam 21.WIB. Kami pun mulai mendaki setelah menyelesaikan regestrasi pendakian, dengan tujuan pertama adalah tempat untuk bermalam, namanya adalah “Puncak Bayangan”. Tidak banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan, karena kami cuma berjalan sambil ngobrol  dan bercanda dimalam hari, sebentar-sebentar singgah untuk memulihkan nafas sembari melihat pemandangan lampu-lampu kota yang “masya Allah” sungguh indah teman, sesekali menyapa pendaki lainnya, “Mari Mas” atau “Monggo Mas” hehehe, (“gak ada mari joss atau mari kuku bima” kata pendaki lain) hehehe seru dan menyenangkan. Dan akhirnya setelah berjalan sesuai rute, kami pun sampai di tempat yang biasanya digunakan untuk Camp oleh para pendaki dan tempat itu adalah “PUNCAK BAYANGAN”.


Di puncak bayangan kami mendirikan tenda, waktu perjalan dari pos 1 menuju puncak bayangan sekitar 3 ½ jam. Kami baru sampai jam 12.50 sedikit agak molor dari waktu normal perjalanan, tapi tak apalah, “Sing Penting Slameet” dan tim kami tetap utuh hehehe. Setelah sampai dipuncak bayangan kami pun mendirikan tenda. Sambil menyiapkan peralatan dan alat untuk berkemah, Sekitar jam 02.00 kami mulai istirahat, dan sibuk dengan keperluan masing-masing, ada yang ngopi, tidur dsb. Dan saya pun lebih memilih untuk tidur. Memulihkan tenaga, karena sekitar jam 03.00 WIB kita harus sudah siap-siap menuju puncak.

Waktu istirahat tidak banyak untuk mendapatkan sunrise di puncak penanggungan, kami harus menempuh hampir 2 jam untuk sampai keatas. Waktu itu jam 03.00 WIB kami semua bangun dan bersiap-siap menuju puncak. Di perjalanan ternyata kami tidak bisa menempuhnya dengan waktu singkat, padahal rencananya saya mau shalat subuh di puncak waktu itu, karena waktu sholat shubuh sudah semakin sempit, kami pun berhenti sebentar untuk sholat sebelum sampai di puncak, yang istimewa kali ini adalah, ya sholat dalam kemiringan hehehe, karena jalannya memang menanjak sekali gaes. Selesai shalat kami melanjutnya perjalanan kepuncak menikmati matahari dan kabut tibis dipermukaan penanggunangan. Saat matahari terbit akhirnya kami sampai juga di puncak penanggunagan, “dan selamat datang dipuncak penanggungan teman”.

Banyak view bagus pada gunung ini. Mulai dari view lumpur sidoarjo, terdapat candi disekitar puncak padang savana, dan ke elokan gunung arjuna dan welirang. Saat dipuncak awannya bergerak mengelilingi gunung, sungguh indah sekali sahabat. Dipuncak kami terpisah dengan mega, aulia, dan wilda. saya, azis, habib, dan sastro berkumpul agak ke ujung, dan kami sempat tertidur dipuncak. Sungguh pengalaman yang sangat berarti, pertama kali tidur di dalam awan teman. Hehehe

Kami pun seperti pendaki lainnya, mengambil foto, foto bersama dan sebagainya, saya bahkan sempat turun ke candi di atas gunung tersebut, beberapa kali berkenalan dengan pendaki lain dan sebagainya.
Kembali mengucap syukur kepada Allah atas karunia dan anugerah, bisa menghirup udara di puncak gunung penaggungan di ketinggian 1653 MDPL. Kepada rekan-rekan pendaki saya memohon maaf yang banyak jika dalam perjalanan ternyata terlalu banyak bercanda, atau kata-kata yang menyakitkan, hehehe, karena saya memang terbiasa bercanda seperti itu teman.
Terima kasih sudah menjadi rekan dalam perjalanan dan pendakian, Azis Muslim, Sastro Wibowo, Mas Habiburrahmad, Mega Suliani dan 2 kawan baru Aulia Rahmeen, Wilda Qonita.

Tak lupa kepada Bang Anshary, yang selalu jadi fasilitator hehehe,

Sampai jumpa dalam setiap edisi perjalanan hidup berikutnya @abdan_doerab.



PENDAKIAN GUNUNG PANDERMAN 2000 MDPL

Baik, teman perjalanan saya kali adalah pendakian gunung panderman dengan ketinggian -+ 2000 MDPL. Bagi saya Alam selalu memberikan panggilan, sehingga jiwa terasa hampa kala kesibukan lain lebih banyak daripada harus bersahabat dengan alam.

Sejujurnya saya hanya ingin menulis untuk pribadi cerita ketika melewati satu perjalanan. Daripada didiamkan dalam kenangan lebih baik dituliskan agar mudah mengingat dan mengenangnya. Tulisan ini juga tidak akan menggambarkan secara detail lokasi dan tempatnya.


Oke perjalanan saya dimulai pada tanggal 18-19 September 2015, dihari jum’at-sabtu, adapun pendakian ini hanya melibatkan tiga orang, saya, azis, dan paman syarif. Sekitar pukul 13.00 kami melakukan persiapan untuk perjalanan menuju puncak panderman. Waktu itu paman syarif bahkan baru tahu, bahwa kami ada rencana untuk mendaki. Tak perlu pikir panjang ternyata paman nekat juga langsung mengatakan “YA” untuk ikut mendaki.



Setelah persiapan selesai kami berangkat menuju kota batu dan desa pertama di kaki gunung panderman. Awalnya kami tersesat karena lupa letaknya. Sehingga waktu kami sedkit molor dari rencana. Setelah putar-putar akhirnya kami sampai dan memarkir kendaraan disebuah rumah warga. Biayanya Rp. 5.000 dan kemudian mencatat nama dibuku pendakian dengan membayar Rp. 3.000. sempat berbincang-bincang sebentar dengan anak-anak Kampus ITN  dan akhirnya dengan bismilah kami berangkat  menuju puncak.

Waktu berangkat bersamaan dengan waktu sholat ashar, dan sambil melakukan persiapan untuk muncak, kami shalat ashar sebentar di sumber air kaki gunung panderman. Inilah sumber air yang sering digunakan pendaki untuk minum. Sekaligus untuk mengisi air sebelum melakukan perjalanan. Oohh betapa tenangnya sambil mentadabburi alam, sungguh betapa Indahnya ciptaan-NYA. 

Rute perjalanan memang bisa kami fahami, namun kondisi jalur pendakian waktu itu tidak bersahabat dengan kami. Debu yang sangat pekat sangat menggangu pendakian, maklum waktu itu masih puncak musim kemarau. Beberapa kali kami berhenti diperjalanan karena kondisi tubuh yang lama terdiam sehingga beberapa menit saja mendaki sudah ngos-ngosan hehehe. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya kami sampai di pos pertama yang disebu “LATAROMBO” dengan ketinggian 1600 MDPL.











Setelah istirahat sejenak, kami berangkat menuju pos kedua. Dengan kondisi track yang masih dibilang cukup nyaman dan tanpa mengalami keesulitan berarti, akhirnya sampailahdi pos kedua “WATU GEDE” dengan ketinggian 1730 MDPL. Sambil istirahat dan foto-foto sebentar, kemudian kami melanjutkan pendakian.


Dari pos kedua menuju puncak, kali ini kondisi tracknya sudah mulai menanjak dan penuh dengan debu. Waktu itu salah satu rintangan terberak adalah di track ini, saya hampil beberapa kali mau terjatuh. Waktu itu hari mulai senja dan gelap. Persiapan lampu dan pencahayaan lainnya kami siapkan. Ini perjalanan yang saya sadari teman, awalnya kami hanya berencana mendaki dengan 2 orang, tapi ternyata menurut saya, ideal tim mendaki itu memang 3 orang. (Kecuali anda sudah profesional). Dan kami sedikit tertolong karena tim ini ada 3 orang.

Setelah melewati perjalan dengan sabar dan tenaga yang terus digenjot, bahkan sudah masuk waktu malam, akhirnya Sekitar jam 18.30 kami sampai di puncak Basundra dengan ketinggian 2000 MDPL. Ambil air wudhu, akhirnya kami sholat Magrib bersama-sama, Bersyukur kepada ALLah atas segala karunia dan nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat merasakan perjalanan ini. Selanjutnya kami pun mendirikan tenda, memasak mie dan membuat kopi bersama.  Sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Batu dan Bahkan kota Malang, dengan lampu-lampu yang sangat luas. Bahkan merasakan udara dingin pegunungan. Berbagi cerita, dan makan makanan yang sudah dibawa dari kontrakan, bercanda di bawah langit malam yang cerah, suasana yang selalu aku rindukan pada saat penatnya tugas kuliah yang menumpuk. Selesai menikmati itu semua kemudian kami pun masuk kedalam tenda untuk tidur istirahat.


Alarm subuh berbunyi , kami pun siap-siap, sholat subuh, kemudian bergerak mempersiapkan makan, menyalakan api kompor. Selesai itu semua kami bersiap-siap menyambut matahari terbit. Dan akhirnya moment yang saya tunggu-tunggu “Menyambut sunrise di puncak panderman” diketinggian 2000MDPL.





Sayangnya awan dan view yang kami harapkan tidak kunjung datang, namun pengalaman untuk mencarinya jadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Hanya matahari cerah yang menyambut saya dan teman-teman. tapi tak apalah, pengalaman mendaki dan mengunjungi tempat inilah yang saya lega. Setelah puas berada di puncak kami pun kembali ke tenda sambil packing barang-barang bawaan kemudian melanjutkan perjalanan untuk turun kembali. 


Syukur kepada ALLAH SWT atas segala karunia dan nikmat. Terima kasih untuk partner mendaki, my sohib Azis Muslim dan teman baru di Batu, Paman Syarif. Terima kasih juga kepada teman pertama saya di Malang bang Anshari atas segala fasilitas yang diberikan, pokonya arigato gozaimasu....!

Tuesday, November 3, 2015

RAMPAH MUYIH

Hello buddyies..yiuuww, jumpa lagi dengan saya @abdan_doerab, kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan kami meng-explore sebuah air terjun tersembunyi di daerah loksado, nama air terjunnya adalah “Rampah Muyih”, lokasinya kalau sudah masuk gerbang loksado ambil saja jalur kanan sekitar 1 kilo dari gerbang, dekat jalan menuju desa niih, akan tetapi jalannya di sebelah kiri lewat rumah penduduk, satu hal yang sering kelupaan guys waktu adventure, saya sering lupa mengingat nama desa tempat kami melakukan trip ke tempat-tempat yang jauh dari pemukiman, hehe i’m sorry about that, jadi mimin ini bukannya tidak mau berbagi lokasi, tapi memang sering rada-rada lupa mengingat spesifik nama tempatnya...



Oke, buddyies sebelum menuju rampah muyih, kami terlebih dahulu mencari view di “Graha Sungai Amandit” graha ini bertempat di desa loksado juga, kalau tidak salah nama desanya adalah Muara Hatib, seperti biasa guys, traveling and adventure itu gak lengkap jika tidak ada yang mengabadikan moment, dan kami mampir dulu..jpreet..jpreet
Suasana disini seperti berada di pada ilalang hijau diantara rerumputan, dibawah kaki gunung, di temani mengalirnya sungai amandit, hiuhh bikin kita betah bro, tapi satu hal yang perlu di garis bawahi bro, Graha Sungai amandit merupakan tempat peristirahatan, artinya bukan tempat wisata, hehe harus izin dulu sama yang jaga tu villa.





Setelah puas bermain di GSA, lanjut kita menuju Rampah Muyih, kalau sudah tahu jalan setapak menuju rampah muyih, saya sarankan parkir kendaraan di depan rumah warga bro, tepat diseberang jalan menuju air terjun itu. Karena jalannya menanjak dan cukup curam, saya saja sempat ngos-ngosan waktu kesini, jika diperkirakan lama jalan kaki menuju ke rampah muyih, mungkin sekitar 40 menit waktu normalnya, tapi yaah itulah salah satu sensasi adventure itu guys, saya sih sambil sambil melatih otot kaki hehehee...


Dan akhirnya, kami sampai di Rampah Muyih, sebuah destinasi tersembunyi bumi ketupat, bahkan teman saya mencoba hammock'an disini hehe, waktu kami berkunjung kesini, airnya memang agak keruh karena turun hujan, kalau turun ke air terjunnya, ingat ya guys mesti hati-hati, dan jaga terus lingkungan alam kita, dilarang mengambil sesuatu kecuali foto, dilarang melakukan vandalisme, dan tindakan lain yang merusak alam kita..

Bagaimana sahabat traveller, ayo jalan-jalan men, Kandangan itu Indah, jangan dirumah teruss, hehehe, tertarik untuk mengunjungi rampah muyih? 

Tempat ini masih jarang terjamah manusia, dan masih sangat "perawan" gkgk, hati-hati juga dengan perkebunan milik warga setempat, jangan nakal ya guys...

Jangan lupa jika sudah foto disini, sertakan hastag
#explore_bumiketupat, udah pagi ini bro, mimin mesti ngerjakan tugas lagi, whehehehe
Salam Bumi_Ketupat
Rabu, 04 Oktober 2015, @abdan_doerab

BATU BALAI



Batu balai adalah sebuah perbukitan di kecamatan Padang-Batung Hulu Sungai Selatan (HSS), tempatnya tidak jauh-jauh amat dari kandangan kota, jika dari kota kandangan menuju ke tempat ini, pilih aja alternatif jalan ke loksado, sampai di tempat yang bernama Mandapai pilih masuk jalan ke tugu mandapai lajur kiri, selajutnya lurus saja sampai di desa Madang tetapi spesifiknya orang-orang akan menyebutnya “Tayub”, inilah yang mungkin saya kurang faham daerah sendiri, sebagai contoh, desa Batu Bini, teridiri dari macam-macam nama tempat, misalnya: tumpahan, mandapai, paringin,dll.

Oke, next On the place, biasanya batu balai dapat dijadikan alternatif menyaksikan matahari terbit atau tenggelam, sunset or sunrise, suka-suka kalian deh, disini juga bisa untuk nge-camp jika ingin, saya sih belum pernah, tapi nanti sekali-kali memang perlu dicoba. 
Pada saat saya meng-explore Batu Balai ini, saya memilih untuk menyaksikan matahari terbit, yah, dari tempat saya sekitar ½ jam waktu yang ditempuh, waktu itu bulan puasa, jadi habis sholat subuh, langsung cuus on the way, bersama crew “exbuke” lainnya, dalam perjalanan disekitar, kita akan melewati perkebutan karet, sawit, dan ada juga danau disekitar bukit ini, namanya danau “cikdam”, dan sekitar ½ jam untuk mendaki bukit ini akhirnya sampai juga, pemandangannya kereen guys.

Walaupun MDPL nya tidak ada yang mengukur, tpi disini lumayan memanjakan mata sobat, bagaimana? Tertarik untuk traveling di tempat kami?
So, itu saja deh, buat masbro dan mbabro seputar mengenai “Batu Balai” jangan lupa jika sudah kesini upload fotomu sertakan hastag #explore_bumiketupat, thank’s for your attention.







Senin, 02 Oktober 2015, @abdan_doerab

Monday, November 2, 2015

EXPLORE BUMI KETUPAT



Dear sahabat alam, perkenalkan kami dari sebuah Komunitas Explore Bumi Ketupat, sebuah perkumpulan anak-anak yang hoby jalan-jalan, mencari dan menemukan tempat-tempat yang indah di kabupaten Hulu Sungai selatan (HSS), karena itulah nama kami sengaja mengambil istilah” bumi ketupat”, karena kabupaten ini memang mempunyai icon ketupat.

Kami berkumpul bukan sekedar jalan-jalan, Kami hadir bukan sebagai penikmat alam, akan tetapi pecinta alam, dan kami menjunjung tinggi nilai-nilai serta kode etik pecinta alam, dalam setiap perjalanan kami, kami akan selalu menjaga lingkungan dan tempat-tempat yang kami kunjungi, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan tindakan vandalisme, atau apalah yang merusak alam ciptaan tuhan.

Oke, guys, perkenalkan saya salah satu member crew “exbuke” singkatan dari explore bumi ketupat, saya @abdan_doerab akan memperkenal crew dari exbuke :

Ketua :
Rendi Wijaya Saputra (Een El Chino)
Wakil Ketua :     
- M. Syahrawardi (Syahraw)
- Susi Susanti (Susi)
Sekretaris :
Muhammad Aulia (Amad Qabobuak)
Bendahara :
Rahmi Safarina (Ririn)
Bagian Promosi :
- Muhammad Syaifi
- Khairiah (Riah)
- Abdan Matin Ahmad (Abdan_Doerab)
Bagian Jalur :
 - Iis Lumpangi
- Ridha Ramadhan (Kulit Pisang)
Anggota :
- Ahmad Gazali Rahmad (Rahman AG)
- Nia Kurniati Sandra (Nia)
- M. Khairil Ilmi (Iril)
-          Eka Ristiani (Eka Risti)
-          Nenden Saraswati (Nenden)
-          M. Syaiful Ansyari (Owienk)

Kami adalah komunitas yang juga sering membawa sobat-sobat lain yang ingin jalan-jalan di kandangan HSS, disini cukup ramai jika anda seorang traveler untuk mengunjungi bukit-bukit, air terjun dan goa-goa. Berikut beberapa tempat yang bisa kami rekomendasikan untuk anda, dan tempat-tempat ini diantaranya masih “perawan” koq, masih jarang dikunjungi oleh orang-orang pada umumnya:
1.       Air Terjun Rampah Menjangan
2.       Air Terjun Rampah Muyih
3.       Air Terjun Tinggiran Hayam
4.       Batu Balai
5.       Benteng Madang
6.       Bukit Batu Baduduk
7.       Bukit Batu Rajang
8.       Bukit Langara
9.       Bukit Mualak
10.   Bukit Tatapan
11.   Goa Kelelawar
12.   Goa Singa
13.   Gunung Kantauan
14.   Gunung Liang Nyaro
15.   Puncak Batu Bini
16.   Puncak Batu Laki

Jika tertarik untuk traveling di tempat kami, komunitas kami dapat anda jadikan sebagai referensi buat menemani perjalanan anda, sebenarnya saya mau menulis banyak baik tentang perjalanan kami maupun tempat-tempat yang masih ingin kami explore. Tapi miminnya lagi ga banyak waktu untuk nulis..heheehee oke guys saatnya saya akhiri dulu...see you

Ini kontak dunia maya saya, nanti saya kasih nomor2 lain kalau memang mau:
FB : Abdan Matin Ahmad
IG : @abdan_doerab


Sunday, November 1, 2015

GOA SINGA

Goa singa adalah goa unik yang ada di kecamatan Padang Batung desa Batu Bini. Lokasinya ada di belakang rumah warga, sekitar 10 menit untuk sampai ke goa ini dari bawah.

Apa yang unik dari goa ini sobat? Goa ini memiliki ciri khas yang didalamnya ada patung-patung singa, sudah lama ada patung-patung tersebut namun saya sendiri sudah mencoba bertaya mengenai asal-usul patung tersebut, rata2 penduduk juga tidak mengetahui darimana dan siapa yang membuatnya, goa ini punya 2 tempat yang khas jika dari pintu depan masuk, kita menjumpai 2 pintu kanan dan kiri,
jika kita memilih kanan, maka disini terdapat patung-patung singa sebagian juga mempunyai bentuk kepala manusia. Goa ini terlihat buntu sobat, tapi sebenarnya jika kita terus sisir ada lubang di atas ternyata goa ini panjang dan bisa mmasuk kedalam lebih jauh, lihat ni sobat...
jika kita masuk ke kiri,maka disana terdapat ranjang emas, (ya sebutan penduduk setempat memang begitu) sebenarnya bukan emas murni, akan tetapi mungkin karena bebatuan nya yang mengkilap. Tapi sayangnya ada beberapa oknum yang mencoba mengambil batu disini ya ini nih yang bikin rusak alam kite...konon disini adalah memang tempat orang dulu bermukim/bermalam katanya untuk bersembunyi dari kejaran para penjajah...

 




Sunday, October 12, 2014

SUNNATUT TADAWUL (KETENTUAN PERGILIRAN)


Pernahkah kita berfikir bahwa dalam sejarah, kita menemukan bergilirnya setiap bangsa memimpin sebuah peradaban. Mulai dari peradaban Yunani, Persia, dan Islam hingga barat sekarangpun semuanya dipergilirkan, bahkan dalam kehidupan pribadi masing-masing, “diri kita sendiri” setiap waktu, tahun, bulan, detik, memiliki giliran masing-masing untuk berada pada titik lemah, kebahagian, penderitaan, cobaan, kesenangan, kemudian manusia yang tumbuh dari kecil, besar, tua, lalu mati dan lain sebagainya semuanya akan dipergilirkan.

Seperti malam yang bertukar siang. Atau seperti Kering kerontang musim kemarau yang berganti basah musim penghujan. Atau seperti air laut, ada saat-saat surut dan ada masanya air itu pasang. ini semacam siklus kehidupan. Bahwa roda kehidupan dunia sepanjang sejarahnya terus berputar tiada henti. Sejarah telah melemparkan manusia ke langit kebesaran, dan sebagiannya dilindas rodanya dengan kejam, kemudian kaidah pergiliran itu berlaku, orang-orang yang tadinya diatas tiba-tiba harus bergelimpangan dibawah, dan mereka yang tadinya berdarah-darah di bawah sekarang berkibar di puncak gunung kejayaan.

Untuk apa?

Apakah untuk menangisi kekalahan, seperti tumpah ruahnya kesedihan para sahabat saat mengalami kekalahan pada perang uhud dalam bentuk isak tangis dan derai air mata?

 Padahal Allah swt telah mengingatkan :
“dan janganlah kamu merasa hina dan bersedih, sebab kamulah yang  lebih tinggi jika kamu beriman. Jika kamu tersentuh kekalahan (musibah), maka luka ( musibah) yang sama juga menimpa kaum yang lain. Demikianlah hari-hari (kemenangan) kami pergilirkan diantara manusia”.(Qs. ali Imran: 140)

Berbicara soal sunnatut tadaawul, teringat dengan kisah Nabi Yusuf as. Tumbuh dalam dekapan hangat kasih sayang orang tuanya. Lalu dilemparkan ke dalam sumur oleh sauadara-saudara yang memendam bara iri dan dengki. Kemudian diselamatkan oleh sekelompok orang dan dijual sebagai budak. Ia menjalani masa-masa remajanya di tengah keluarga seorang pembesar Mesir. Lalu dipenjara karena mempertahankan kesuciannya dari godaan istri pembesar Mesir itu . Hingga kemudian dibebaskan dan menjadi perdana mentri. Begitulah Nabi Yusuf. Dari terdzalimi sampai menjadi orang yang berkuasa.

Kalau saja kita mau merenungi kembali, Allah SWT telah membuka begitu banyak celah pembebasan yang dibuka Allah SWT kepada kita, dan celah itu bisa berupa harapan yang dapat mengembalikan rasa percaya diri kita untuk bangkit kembali. Allah SWT akan mengembalikan harapan tersebut ke dalam jiwa sahabat-sahabat Baginda Muhammad SAW, setelah kalah dari perang Uhud. Dan selanjutnya celah yang lain adalah merubah diri, merubah seluruh instrument kepribadian kita, mulai dari bagian terkecil, diri, hingga bagian terbesar, masyarakat. Pada diri pun dimulai dari instrument yang paling halus;   emosi, perasaan, hati, akal hingga raga.

Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaaan suatu kaum, kecuali bila kaum itu yang merubah apa-apa yang ada dalam dirinya.” (Q.S. Ar-Ra’du, 14-11).

Sesungguhnya pada dua celah ini, tersimpan kunci dinamika gerak sejarah kehidupan manusia, yang tak pernah mati hingga kiamat. Ini adalah ‘kemungkinan-kemungkinan’ yang dijadikan Allah SWT sebagai peluang bagi kita untuk hadir kembali di gelanggang sejarah. Masalahnya, maukah kita memanfaatkan peluang itu?

Friday, October 10, 2014

EDISI PAHLAWAN

Dalam semangat kepioniran, ada rindu yang tak pernah selesai dari sebuah penantian panjang akan datangnya momentum kepahlawanan setiap saat. Para pahlawan itu seperti berdiri di sini, di ujung jalan sejarah, menanti kereta kepahlawanan yang setiap saat akan lewat.


Cerita sang jiwa yang selalu berjaga-jaga seperti kata Chairil
Anwar "di garis batas pernyataan dan impian."
“Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami…
 (Chairil Anwar)

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
(Chairil Anwar)

Untaian Zamrud Khatulistiwa ini masih mungkin dirajut menjadi kalung sejarah yang indah.
Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini.
Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa ini.
Masih mungkin.
Dengan satu kata:
 “para pahlawan”.
Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir ke sini.
Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya,
Mereka tidak akan pernah datang.
Tetapi Mereka sudah ada di sini.
Mereka lahir dan besar di negeri ini.
Mereka adalah aku, kau, dan kita semua.
Mereka bukan orang lain.
Mereka hanya belum memulai.
Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka;
dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.
(Anis Matta)

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan
ke bumi untuk menyelesaikan persoalan
manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian
kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang
melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang
panjang, sampai waktu mereka habis.
Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga
melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat.
Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan
seluruh kemampuannya untuk memberikan
yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka
merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya
kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang
lama.