Motto

Hidup adalah pembelajaran tak kenal henti....

Friday, February 5, 2016

PENDAKIAN GUNUNG PENANGGUNGAN 1653MDPL

Tanggal 09-10 Januari 2016 kami berencana untuk mendaki, ya karena mendaki adalah sebuah kebutuhan batin bagi saya, alam itu selalu memanggil saya untuk  mengunjunginya. Sehabis zuhur waktu Indonesia Barat pukul 12.00 kami mengambil peralatan untuk mendaki berupa tenda dan sepatu hiking, ya lumayanlah mendaki gunung itu juga butuh biaya guys. Setelah semua persiapan beres, saya langsung menghubungi teman-teman untuk mendaki.

Dan tujuan kami adalah “puncak gunung penanggungan 1653 MDPL.’’


Sebelum cerita ini ditulis mohon maaf kepada teman teman tim jika dokumentasi dan foto-fotonya kurang lengkap. Ini hanya tulisan untuk mengingat-ngingat saja hehehe...

Ada istilah yang menyebutkan bahwa penanggungan adalah anak dari gunung semeru, ya dilihat dari miniaturnya memang mirip, selain itu tracknya yang terjal benar-benar menaikkan adrenalin saya. Pukul 16.30 kami menjemput seorang teman kami di mojosari (Wilda). Setelah mampir sebentar dan di kasih pentol plus tahu hehehe, kami meneruskan perjalanan menuju puncak penanggungan.

Sekitar jam 20.00 WIB kami menuju gunung penanggungan lewat jalurTratas. Kami memilih memarkir dirumah warga sekitar daripada parkir di tempat yang berdekatan dengan pos 1. Entahlah mungkin karena pengalaman kapten kami (Mas Habib), yang memilih memarkir agak jauh dari kaki gunung alias rumah warga.

Biaya parkir 15ribu/ 4 kendaraan, biaya masuk mendaki di penanggungan 8ribu rupiah. Kami mendaki pada akhir pekan hari sabtu-minggu, karena akhir pekan orang-orang yang mendaki juga sangat banyak, tercatat oleh petugas hampir 500 orang pendaki pada hari itu. Kami pun mendaftar 1  tim dengan 7 orang, yang terdiri dari habib, azis, abdan, sastro, aulia, mega, dan wilda.


Gunung ini punya 4 pos, pos pertama adalah regestrasi dan administrasi dari karang taruna desa dan sebagainya, kemudian pos 2 masih bisa kita jumpai warung-warung dan tempat peristirahatan, setelah itu pos 3 dan pos 4 hanyalah sebuah pondokan untuk beristirahat. Pos 3-dan pos 4 dijaga oleh tim keamanan atau tim kesehatan, pokoknya aman deh teman, mendaki di penanggungan hehehe.

Berangkat sekitar jam 21.WIB. Kami pun mulai mendaki setelah menyelesaikan regestrasi pendakian, dengan tujuan pertama adalah tempat untuk bermalam, namanya adalah “Puncak Bayangan”. Tidak banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan, karena kami cuma berjalan sambil ngobrol  dan bercanda dimalam hari, sebentar-sebentar singgah untuk memulihkan nafas sembari melihat pemandangan lampu-lampu kota yang “masya Allah” sungguh indah teman, sesekali menyapa pendaki lainnya, “Mari Mas” atau “Monggo Mas” hehehe, (“gak ada mari joss atau mari kuku bima” kata pendaki lain) hehehe seru dan menyenangkan. Dan akhirnya setelah berjalan sesuai rute, kami pun sampai di tempat yang biasanya digunakan untuk Camp oleh para pendaki dan tempat itu adalah “PUNCAK BAYANGAN”.


Di puncak bayangan kami mendirikan tenda, waktu perjalan dari pos 1 menuju puncak bayangan sekitar 3 ½ jam. Kami baru sampai jam 12.50 sedikit agak molor dari waktu normal perjalanan, tapi tak apalah, “Sing Penting Slameet” dan tim kami tetap utuh hehehe. Setelah sampai dipuncak bayangan kami pun mendirikan tenda. Sambil menyiapkan peralatan dan alat untuk berkemah, Sekitar jam 02.00 kami mulai istirahat, dan sibuk dengan keperluan masing-masing, ada yang ngopi, tidur dsb. Dan saya pun lebih memilih untuk tidur. Memulihkan tenaga, karena sekitar jam 03.00 WIB kita harus sudah siap-siap menuju puncak.

Waktu istirahat tidak banyak untuk mendapatkan sunrise di puncak penanggungan, kami harus menempuh hampir 2 jam untuk sampai keatas. Waktu itu jam 03.00 WIB kami semua bangun dan bersiap-siap menuju puncak. Di perjalanan ternyata kami tidak bisa menempuhnya dengan waktu singkat, padahal rencananya saya mau shalat subuh di puncak waktu itu, karena waktu sholat shubuh sudah semakin sempit, kami pun berhenti sebentar untuk sholat sebelum sampai di puncak, yang istimewa kali ini adalah, ya sholat dalam kemiringan hehehe, karena jalannya memang menanjak sekali gaes. Selesai shalat kami melanjutnya perjalanan kepuncak menikmati matahari dan kabut tibis dipermukaan penanggunangan. Saat matahari terbit akhirnya kami sampai juga di puncak penanggunagan, “dan selamat datang dipuncak penanggungan teman”.

Banyak view bagus pada gunung ini. Mulai dari view lumpur sidoarjo, terdapat candi disekitar puncak padang savana, dan ke elokan gunung arjuna dan welirang. Saat dipuncak awannya bergerak mengelilingi gunung, sungguh indah sekali sahabat. Dipuncak kami terpisah dengan mega, aulia, dan wilda. saya, azis, habib, dan sastro berkumpul agak ke ujung, dan kami sempat tertidur dipuncak. Sungguh pengalaman yang sangat berarti, pertama kali tidur di dalam awan teman. Hehehe

Kami pun seperti pendaki lainnya, mengambil foto, foto bersama dan sebagainya, saya bahkan sempat turun ke candi di atas gunung tersebut, beberapa kali berkenalan dengan pendaki lain dan sebagainya.
Kembali mengucap syukur kepada Allah atas karunia dan anugerah, bisa menghirup udara di puncak gunung penaggungan di ketinggian 1653 MDPL. Kepada rekan-rekan pendaki saya memohon maaf yang banyak jika dalam perjalanan ternyata terlalu banyak bercanda, atau kata-kata yang menyakitkan, hehehe, karena saya memang terbiasa bercanda seperti itu teman.
Terima kasih sudah menjadi rekan dalam perjalanan dan pendakian, Azis Muslim, Sastro Wibowo, Mas Habiburrahmad, Mega Suliani dan 2 kawan baru Aulia Rahmeen, Wilda Qonita.

Tak lupa kepada Bang Anshary, yang selalu jadi fasilitator hehehe,

Sampai jumpa dalam setiap edisi perjalanan hidup berikutnya @abdan_doerab.



PENDAKIAN GUNUNG PANDERMAN 2000 MDPL

Baik, teman perjalanan saya kali adalah pendakian gunung panderman dengan ketinggian -+ 2000 MDPL. Bagi saya Alam selalu memberikan panggilan, sehingga jiwa terasa hampa kala kesibukan lain lebih banyak daripada harus bersahabat dengan alam.

Sejujurnya saya hanya ingin menulis untuk pribadi cerita ketika melewati satu perjalanan. Daripada didiamkan dalam kenangan lebih baik dituliskan agar mudah mengingat dan mengenangnya. Tulisan ini juga tidak akan menggambarkan secara detail lokasi dan tempatnya.


Oke perjalanan saya dimulai pada tanggal 18-19 September 2015, dihari jum’at-sabtu, adapun pendakian ini hanya melibatkan tiga orang, saya, azis, dan paman syarif. Sekitar pukul 13.00 kami melakukan persiapan untuk perjalanan menuju puncak panderman. Waktu itu paman syarif bahkan baru tahu, bahwa kami ada rencana untuk mendaki. Tak perlu pikir panjang ternyata paman nekat juga langsung mengatakan “YA” untuk ikut mendaki.



Setelah persiapan selesai kami berangkat menuju kota batu dan desa pertama di kaki gunung panderman. Awalnya kami tersesat karena lupa letaknya. Sehingga waktu kami sedkit molor dari rencana. Setelah putar-putar akhirnya kami sampai dan memarkir kendaraan disebuah rumah warga. Biayanya Rp. 5.000 dan kemudian mencatat nama dibuku pendakian dengan membayar Rp. 3.000. sempat berbincang-bincang sebentar dengan anak-anak Kampus ITN  dan akhirnya dengan bismilah kami berangkat  menuju puncak.

Waktu berangkat bersamaan dengan waktu sholat ashar, dan sambil melakukan persiapan untuk muncak, kami shalat ashar sebentar di sumber air kaki gunung panderman. Inilah sumber air yang sering digunakan pendaki untuk minum. Sekaligus untuk mengisi air sebelum melakukan perjalanan. Oohh betapa tenangnya sambil mentadabburi alam, sungguh betapa Indahnya ciptaan-NYA. 

Rute perjalanan memang bisa kami fahami, namun kondisi jalur pendakian waktu itu tidak bersahabat dengan kami. Debu yang sangat pekat sangat menggangu pendakian, maklum waktu itu masih puncak musim kemarau. Beberapa kali kami berhenti diperjalanan karena kondisi tubuh yang lama terdiam sehingga beberapa menit saja mendaki sudah ngos-ngosan hehehe. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya kami sampai di pos pertama yang disebu “LATAROMBO” dengan ketinggian 1600 MDPL.











Setelah istirahat sejenak, kami berangkat menuju pos kedua. Dengan kondisi track yang masih dibilang cukup nyaman dan tanpa mengalami keesulitan berarti, akhirnya sampailahdi pos kedua “WATU GEDE” dengan ketinggian 1730 MDPL. Sambil istirahat dan foto-foto sebentar, kemudian kami melanjutkan pendakian.


Dari pos kedua menuju puncak, kali ini kondisi tracknya sudah mulai menanjak dan penuh dengan debu. Waktu itu salah satu rintangan terberak adalah di track ini, saya hampil beberapa kali mau terjatuh. Waktu itu hari mulai senja dan gelap. Persiapan lampu dan pencahayaan lainnya kami siapkan. Ini perjalanan yang saya sadari teman, awalnya kami hanya berencana mendaki dengan 2 orang, tapi ternyata menurut saya, ideal tim mendaki itu memang 3 orang. (Kecuali anda sudah profesional). Dan kami sedikit tertolong karena tim ini ada 3 orang.

Setelah melewati perjalan dengan sabar dan tenaga yang terus digenjot, bahkan sudah masuk waktu malam, akhirnya Sekitar jam 18.30 kami sampai di puncak Basundra dengan ketinggian 2000 MDPL. Ambil air wudhu, akhirnya kami sholat Magrib bersama-sama, Bersyukur kepada ALLah atas segala karunia dan nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat merasakan perjalanan ini. Selanjutnya kami pun mendirikan tenda, memasak mie dan membuat kopi bersama.  Sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Batu dan Bahkan kota Malang, dengan lampu-lampu yang sangat luas. Bahkan merasakan udara dingin pegunungan. Berbagi cerita, dan makan makanan yang sudah dibawa dari kontrakan, bercanda di bawah langit malam yang cerah, suasana yang selalu aku rindukan pada saat penatnya tugas kuliah yang menumpuk. Selesai menikmati itu semua kemudian kami pun masuk kedalam tenda untuk tidur istirahat.


Alarm subuh berbunyi , kami pun siap-siap, sholat subuh, kemudian bergerak mempersiapkan makan, menyalakan api kompor. Selesai itu semua kami bersiap-siap menyambut matahari terbit. Dan akhirnya moment yang saya tunggu-tunggu “Menyambut sunrise di puncak panderman” diketinggian 2000MDPL.





Sayangnya awan dan view yang kami harapkan tidak kunjung datang, namun pengalaman untuk mencarinya jadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Hanya matahari cerah yang menyambut saya dan teman-teman. tapi tak apalah, pengalaman mendaki dan mengunjungi tempat inilah yang saya lega. Setelah puas berada di puncak kami pun kembali ke tenda sambil packing barang-barang bawaan kemudian melanjutkan perjalanan untuk turun kembali. 


Syukur kepada ALLAH SWT atas segala karunia dan nikmat. Terima kasih untuk partner mendaki, my sohib Azis Muslim dan teman baru di Batu, Paman Syarif. Terima kasih juga kepada teman pertama saya di Malang bang Anshari atas segala fasilitas yang diberikan, pokonya arigato gozaimasu....!

Tuesday, November 3, 2015

RAMPAH MUYIH

Hello buddyies..yiuuww, jumpa lagi dengan saya @abdan_doerab, kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan kami meng-explore sebuah air terjun tersembunyi di daerah loksado, nama air terjunnya adalah “Rampah Muyih”, lokasinya kalau sudah masuk gerbang loksado ambil saja jalur kanan sekitar 1 kilo dari gerbang, dekat jalan menuju desa niih, akan tetapi jalannya di sebelah kiri lewat rumah penduduk, satu hal yang sering kelupaan guys waktu adventure, saya sering lupa mengingat nama desa tempat kami melakukan trip ke tempat-tempat yang jauh dari pemukiman, hehe i’m sorry about that, jadi mimin ini bukannya tidak mau berbagi lokasi, tapi memang sering rada-rada lupa mengingat spesifik nama tempatnya...



Oke, buddyies sebelum menuju rampah muyih, kami terlebih dahulu mencari view di “Graha Sungai Amandit” graha ini bertempat di desa loksado juga, kalau tidak salah nama desanya adalah Muara Hatib, seperti biasa guys, traveling and adventure itu gak lengkap jika tidak ada yang mengabadikan moment, dan kami mampir dulu..jpreet..jpreet
Suasana disini seperti berada di pada ilalang hijau diantara rerumputan, dibawah kaki gunung, di temani mengalirnya sungai amandit, hiuhh bikin kita betah bro, tapi satu hal yang perlu di garis bawahi bro, Graha Sungai amandit merupakan tempat peristirahatan, artinya bukan tempat wisata, hehe harus izin dulu sama yang jaga tu villa.





Setelah puas bermain di GSA, lanjut kita menuju Rampah Muyih, kalau sudah tahu jalan setapak menuju rampah muyih, saya sarankan parkir kendaraan di depan rumah warga bro, tepat diseberang jalan menuju air terjun itu. Karena jalannya menanjak dan cukup curam, saya saja sempat ngos-ngosan waktu kesini, jika diperkirakan lama jalan kaki menuju ke rampah muyih, mungkin sekitar 40 menit waktu normalnya, tapi yaah itulah salah satu sensasi adventure itu guys, saya sih sambil sambil melatih otot kaki hehehee...


Dan akhirnya, kami sampai di Rampah Muyih, sebuah destinasi tersembunyi bumi ketupat, bahkan teman saya mencoba hammock'an disini hehe, waktu kami berkunjung kesini, airnya memang agak keruh karena turun hujan, kalau turun ke air terjunnya, ingat ya guys mesti hati-hati, dan jaga terus lingkungan alam kita, dilarang mengambil sesuatu kecuali foto, dilarang melakukan vandalisme, dan tindakan lain yang merusak alam kita..

Bagaimana sahabat traveller, ayo jalan-jalan men, Kandangan itu Indah, jangan dirumah teruss, hehehe, tertarik untuk mengunjungi rampah muyih? 

Tempat ini masih jarang terjamah manusia, dan masih sangat "perawan" gkgk, hati-hati juga dengan perkebunan milik warga setempat, jangan nakal ya guys...

Jangan lupa jika sudah foto disini, sertakan hastag
#explore_bumiketupat, udah pagi ini bro, mimin mesti ngerjakan tugas lagi, whehehehe
Salam Bumi_Ketupat
Rabu, 04 Oktober 2015, @abdan_doerab

BATU BALAI



Batu balai adalah sebuah perbukitan di kecamatan Padang-Batung Hulu Sungai Selatan (HSS), tempatnya tidak jauh-jauh amat dari kandangan kota, jika dari kota kandangan menuju ke tempat ini, pilih aja alternatif jalan ke loksado, sampai di tempat yang bernama Mandapai pilih masuk jalan ke tugu mandapai lajur kiri, selajutnya lurus saja sampai di desa Madang tetapi spesifiknya orang-orang akan menyebutnya “Tayub”, inilah yang mungkin saya kurang faham daerah sendiri, sebagai contoh, desa Batu Bini, teridiri dari macam-macam nama tempat, misalnya: tumpahan, mandapai, paringin,dll.

Oke, next On the place, biasanya batu balai dapat dijadikan alternatif menyaksikan matahari terbit atau tenggelam, sunset or sunrise, suka-suka kalian deh, disini juga bisa untuk nge-camp jika ingin, saya sih belum pernah, tapi nanti sekali-kali memang perlu dicoba. 
Pada saat saya meng-explore Batu Balai ini, saya memilih untuk menyaksikan matahari terbit, yah, dari tempat saya sekitar ½ jam waktu yang ditempuh, waktu itu bulan puasa, jadi habis sholat subuh, langsung cuus on the way, bersama crew “exbuke” lainnya, dalam perjalanan disekitar, kita akan melewati perkebutan karet, sawit, dan ada juga danau disekitar bukit ini, namanya danau “cikdam”, dan sekitar ½ jam untuk mendaki bukit ini akhirnya sampai juga, pemandangannya kereen guys.

Walaupun MDPL nya tidak ada yang mengukur, tpi disini lumayan memanjakan mata sobat, bagaimana? Tertarik untuk traveling di tempat kami?
So, itu saja deh, buat masbro dan mbabro seputar mengenai “Batu Balai” jangan lupa jika sudah kesini upload fotomu sertakan hastag #explore_bumiketupat, thank’s for your attention.







Senin, 02 Oktober 2015, @abdan_doerab

Monday, November 2, 2015

EXPLORE BUMI KETUPAT



Dear sahabat alam, perkenalkan kami dari sebuah Komunitas Explore Bumi Ketupat, sebuah perkumpulan anak-anak yang hoby jalan-jalan, mencari dan menemukan tempat-tempat yang indah di kabupaten Hulu Sungai selatan (HSS), karena itulah nama kami sengaja mengambil istilah” bumi ketupat”, karena kabupaten ini memang mempunyai icon ketupat.

Kami berkumpul bukan sekedar jalan-jalan, Kami hadir bukan sebagai penikmat alam, akan tetapi pecinta alam, dan kami menjunjung tinggi nilai-nilai serta kode etik pecinta alam, dalam setiap perjalanan kami, kami akan selalu menjaga lingkungan dan tempat-tempat yang kami kunjungi, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan tindakan vandalisme, atau apalah yang merusak alam ciptaan tuhan.

Oke, guys, perkenalkan saya salah satu member crew “exbuke” singkatan dari explore bumi ketupat, saya @abdan_doerab akan memperkenal crew dari exbuke :

Ketua :
Rendi Wijaya Saputra (Een El Chino)
Wakil Ketua :     
- M. Syahrawardi (Syahraw)
- Susi Susanti (Susi)
Sekretaris :
Muhammad Aulia (Amad Qabobuak)
Bendahara :
Rahmi Safarina (Ririn)
Bagian Promosi :
- Muhammad Syaifi
- Khairiah (Riah)
- Abdan Matin Ahmad (Abdan_Doerab)
Bagian Jalur :
 - Iis Lumpangi
- Ridha Ramadhan (Kulit Pisang)
Anggota :
- Ahmad Gazali Rahmad (Rahman AG)
- Nia Kurniati Sandra (Nia)
- M. Khairil Ilmi (Iril)
-          Eka Ristiani (Eka Risti)
-          Nenden Saraswati (Nenden)
-          M. Syaiful Ansyari (Owienk)

Kami adalah komunitas yang juga sering membawa sobat-sobat lain yang ingin jalan-jalan di kandangan HSS, disini cukup ramai jika anda seorang traveler untuk mengunjungi bukit-bukit, air terjun dan goa-goa. Berikut beberapa tempat yang bisa kami rekomendasikan untuk anda, dan tempat-tempat ini diantaranya masih “perawan” koq, masih jarang dikunjungi oleh orang-orang pada umumnya:
1.       Air Terjun Rampah Menjangan
2.       Air Terjun Rampah Muyih
3.       Air Terjun Tinggiran Hayam
4.       Batu Balai
5.       Benteng Madang
6.       Bukit Batu Baduduk
7.       Bukit Batu Rajang
8.       Bukit Langara
9.       Bukit Mualak
10.   Bukit Tatapan
11.   Goa Kelelawar
12.   Goa Singa
13.   Gunung Kantauan
14.   Gunung Liang Nyaro
15.   Puncak Batu Bini
16.   Puncak Batu Laki

Jika tertarik untuk traveling di tempat kami, komunitas kami dapat anda jadikan sebagai referensi buat menemani perjalanan anda, sebenarnya saya mau menulis banyak baik tentang perjalanan kami maupun tempat-tempat yang masih ingin kami explore. Tapi miminnya lagi ga banyak waktu untuk nulis..heheehee oke guys saatnya saya akhiri dulu...see you

Ini kontak dunia maya saya, nanti saya kasih nomor2 lain kalau memang mau:
FB : Abdan Matin Ahmad
IG : @abdan_doerab


Sunday, November 1, 2015

GOA SINGA

Goa singa adalah goa unik yang ada di kecamatan Padang Batung desa Batu Bini. Lokasinya ada di belakang rumah warga, sekitar 10 menit untuk sampai ke goa ini dari bawah.

Apa yang unik dari goa ini sobat? Goa ini memiliki ciri khas yang didalamnya ada patung-patung singa, sudah lama ada patung-patung tersebut namun saya sendiri sudah mencoba bertaya mengenai asal-usul patung tersebut, rata2 penduduk juga tidak mengetahui darimana dan siapa yang membuatnya, goa ini punya 2 tempat yang khas jika dari pintu depan masuk, kita menjumpai 2 pintu kanan dan kiri,
jika kita memilih kanan, maka disini terdapat patung-patung singa sebagian juga mempunyai bentuk kepala manusia. Goa ini terlihat buntu sobat, tapi sebenarnya jika kita terus sisir ada lubang di atas ternyata goa ini panjang dan bisa mmasuk kedalam lebih jauh, lihat ni sobat...
jika kita masuk ke kiri,maka disana terdapat ranjang emas, (ya sebutan penduduk setempat memang begitu) sebenarnya bukan emas murni, akan tetapi mungkin karena bebatuan nya yang mengkilap. Tapi sayangnya ada beberapa oknum yang mencoba mengambil batu disini ya ini nih yang bikin rusak alam kite...konon disini adalah memang tempat orang dulu bermukim/bermalam katanya untuk bersembunyi dari kejaran para penjajah...

 




Sunday, October 12, 2014

SUNNATUT TADAWUL (KETENTUAN PERGILIRAN)


Pernahkah kita berfikir bahwa dalam sejarah, kita menemukan bergilirnya setiap bangsa memimpin sebuah peradaban. Mulai dari peradaban Yunani, Persia, dan Islam hingga barat sekarangpun semuanya dipergilirkan, bahkan dalam kehidupan pribadi masing-masing, “diri kita sendiri” setiap waktu, tahun, bulan, detik, memiliki giliran masing-masing untuk berada pada titik lemah, kebahagian, penderitaan, cobaan, kesenangan, kemudian manusia yang tumbuh dari kecil, besar, tua, lalu mati dan lain sebagainya semuanya akan dipergilirkan.

Seperti malam yang bertukar siang. Atau seperti Kering kerontang musim kemarau yang berganti basah musim penghujan. Atau seperti air laut, ada saat-saat surut dan ada masanya air itu pasang. ini semacam siklus kehidupan. Bahwa roda kehidupan dunia sepanjang sejarahnya terus berputar tiada henti. Sejarah telah melemparkan manusia ke langit kebesaran, dan sebagiannya dilindas rodanya dengan kejam, kemudian kaidah pergiliran itu berlaku, orang-orang yang tadinya diatas tiba-tiba harus bergelimpangan dibawah, dan mereka yang tadinya berdarah-darah di bawah sekarang berkibar di puncak gunung kejayaan.

Untuk apa?

Apakah untuk menangisi kekalahan, seperti tumpah ruahnya kesedihan para sahabat saat mengalami kekalahan pada perang uhud dalam bentuk isak tangis dan derai air mata?

 Padahal Allah swt telah mengingatkan :
“dan janganlah kamu merasa hina dan bersedih, sebab kamulah yang  lebih tinggi jika kamu beriman. Jika kamu tersentuh kekalahan (musibah), maka luka ( musibah) yang sama juga menimpa kaum yang lain. Demikianlah hari-hari (kemenangan) kami pergilirkan diantara manusia”.(Qs. ali Imran: 140)

Berbicara soal sunnatut tadaawul, teringat dengan kisah Nabi Yusuf as. Tumbuh dalam dekapan hangat kasih sayang orang tuanya. Lalu dilemparkan ke dalam sumur oleh sauadara-saudara yang memendam bara iri dan dengki. Kemudian diselamatkan oleh sekelompok orang dan dijual sebagai budak. Ia menjalani masa-masa remajanya di tengah keluarga seorang pembesar Mesir. Lalu dipenjara karena mempertahankan kesuciannya dari godaan istri pembesar Mesir itu . Hingga kemudian dibebaskan dan menjadi perdana mentri. Begitulah Nabi Yusuf. Dari terdzalimi sampai menjadi orang yang berkuasa.

Kalau saja kita mau merenungi kembali, Allah SWT telah membuka begitu banyak celah pembebasan yang dibuka Allah SWT kepada kita, dan celah itu bisa berupa harapan yang dapat mengembalikan rasa percaya diri kita untuk bangkit kembali. Allah SWT akan mengembalikan harapan tersebut ke dalam jiwa sahabat-sahabat Baginda Muhammad SAW, setelah kalah dari perang Uhud. Dan selanjutnya celah yang lain adalah merubah diri, merubah seluruh instrument kepribadian kita, mulai dari bagian terkecil, diri, hingga bagian terbesar, masyarakat. Pada diri pun dimulai dari instrument yang paling halus;   emosi, perasaan, hati, akal hingga raga.

Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaaan suatu kaum, kecuali bila kaum itu yang merubah apa-apa yang ada dalam dirinya.” (Q.S. Ar-Ra’du, 14-11).

Sesungguhnya pada dua celah ini, tersimpan kunci dinamika gerak sejarah kehidupan manusia, yang tak pernah mati hingga kiamat. Ini adalah ‘kemungkinan-kemungkinan’ yang dijadikan Allah SWT sebagai peluang bagi kita untuk hadir kembali di gelanggang sejarah. Masalahnya, maukah kita memanfaatkan peluang itu?

Friday, October 10, 2014

EDISI PAHLAWAN

Dalam semangat kepioniran, ada rindu yang tak pernah selesai dari sebuah penantian panjang akan datangnya momentum kepahlawanan setiap saat. Para pahlawan itu seperti berdiri di sini, di ujung jalan sejarah, menanti kereta kepahlawanan yang setiap saat akan lewat.


Cerita sang jiwa yang selalu berjaga-jaga seperti kata Chairil
Anwar "di garis batas pernyataan dan impian."
“Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami…
 (Chairil Anwar)

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
(Chairil Anwar)

Untaian Zamrud Khatulistiwa ini masih mungkin dirajut menjadi kalung sejarah yang indah.
Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini.
Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa ini.
Masih mungkin.
Dengan satu kata:
 “para pahlawan”.
Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir ke sini.
Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya,
Mereka tidak akan pernah datang.
Tetapi Mereka sudah ada di sini.
Mereka lahir dan besar di negeri ini.
Mereka adalah aku, kau, dan kita semua.
Mereka bukan orang lain.
Mereka hanya belum memulai.
Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka;
dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.
(Anis Matta)

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan
ke bumi untuk menyelesaikan persoalan
manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian
kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang
melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang
panjang, sampai waktu mereka habis.
Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga
melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat.
Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan
seluruh kemampuannya untuk memberikan
yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka
merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya
kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang
lama.

Wednesday, May 1, 2013

PLURALISME DAN GENDER

Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia, mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah pluralism. Saat ini pluralisme menjadi polemik di Indonesia karena perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya, yaitu pluralism, sehingga memiliki arti :
a.  Pluralisme diliputi semangat religius, bukan hanya sosial cultural.
b.  Pluralisme digunakan sebagai alasan pencampuran antar ajaran agama.
c.  Pluralisme digunakan sebagai alasan untuk mengubah ajaran suatu agama agar sesuai dengan ajaran agama lain.

Secara  umum  gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari tingkah lakunya[1]. Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa genjer adalah suatu konsep kultural yang berkembang di masyarakat yang berupaya membuat perbedaan peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut sudah lama melekat dalam pandangan umum masyarakat sehingga melahirkan anggapan bahwa perbedaan peran tersebut sebagai sesuatu bersifat kodrati dan telah menimbulkan ketimpangan pola hubungan dan peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Konsep budaya yang telah dianggap sebagai sesuatu yang kodrati  tersebut dapat dilihat pada anggapan umum, misalnya, bahwa perempuan identik dengan urusan rumah tangga semata, sedangkan laki-laki sebaliknya identik dengan pengelola dan penanggung jawab urusan ekonomi.

A.      Materi Pokok
1.      Pluralisme
Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia, mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah pluralism. Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa Inggris, maka definisi [eng] pluralism adalah :
 "In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation." Atau dalam bahasa Indonesia : "Suatu kerangka interaksi yang mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran/ pembiasan)."
          Pluralisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), plu·ra·lis·me adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya); Secara istilah pluralisme adalah pertalian sejati kebhinnekaan dalam ikatan keadaban yang disertai dengan sikap tulus untuk menerima kenyataan perbedaan sebagai sesuatu yang alamiah dan Rahmat Tuhan bagi kehidupan.[2]
Saat ini pluralisme menjadi polemik di Indonesia karena perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya, yaitu pluralism, sehingga memiliki arti :
a.  Pluralisme diliputi semangat religius, bukan hanya sosial cultural.
b.  Pluralisme digunakan sebagai alasan pencampuran antar ajaran agama.
c.  Pluralisme digunakan sebagai alasan untuk mengubah ajaran suatu agama agar sesuai dengan ajaran agama lain.
Jika melihat kepada ide dan konteks konotasi yang berkembang, jelas bahwa pluralisme di Indonesia tidaklah sama dengan pluralism sebagaimana pengertian dalam bahasa Inggris, dan tidaklah aneh jika kondisi ini memancing timbulnya reaksi dari berbagai pihak.[3]
Identik dengan istilah ‘pluralisme’ yang berarti ‘beragam’, penda­pat orang tentang istilah ini juga beraneka ragam pula. Secara harfiah pluralisme berarti jamak, beberapa, berbagai hal, keberbagaian atau banyak. Oleh karenanya sesuatu dikatakan plural pasti  terdiri dari banyak hal jenis, pelbagai sudut pandang serta latar belakang. [4]
Istilah pluralisme sendiri sesungguhnya adalah istilah lama yang hari-hari ini kian mendapatkan perhatian penuh dari semua orang. Dika­takan istilah lama karena perbincangan mengenai pluralitas telah die­laborasi secara lebih jauh oleh para pemikir filsafat Yunani secara konse­ptual dengan aneka ragam alternatif memecahkannya. Para pemikir tersebut mendefinisikan pluralitas secara berbeda-beda lengkap dengan beragam tawaran solusi menghadapi pluralitas. Permenides menawarkan solusi yang berbeda dengan Heraklitos, begitu pula pendapat Plato tidak sama  dengan apa yang dikemu-kakan Aristoteles. Hal itu berarti bahwa isu pluralitas sebenarnya setua usia manusia. Sebelum pertimbangan-pertimbangan atau interrest-interrest yang bersifat politis, ideologis dan ekonomis menyertai kehidupan seseorang, dalam kehidupan praktis sehari-hari, umat manusia telah menjalani ke­hidupan yang pluralistik secara alamiah dan wajar-wajar saja. Kehidupan mengalir apa adanya tanpa ada prasangka dan perhitungan-perhitungan lain yang lebih rumit. Persoalan menyeruak ketika berbagai kepentingan dan pertimbangan tadi menempel dalam pola interaksi antar manusia. Apalagi jika kepentingan yang disebut di atas lebih menonjol, maka gesekan dan konflik adalah sesuatu yang tak terelakkan.
Bangsa Indonesia sendiri adalah bangsa yang sering disebut seba­gai bangsa paling majemuk di dunia. Di negara dengan jumlah pen­duduk lebih dari 200 juta jiwa ini, berdiam tidak kurang dari 300 etnis dengan identitas kulturalnya masing-masing, lebih dari 250  bahasa di­pakai, beraneka adat istiadat serta beragam agama di anut.  Kendati demikian kehidupan berjalan apa adanya selama bertahun-tahun. Orang dengan suku berbeda dapat hidup rukun dengan suku lain yang berbeda adat, bahasa, agama dan kepercayaan. Gesekan dan konflik memang kerap terjadi kerena memang hal itu bagian dari dinamika masyarakat, namun semua gesekan yang ada masih dalam tahap terkendali. Keadaan berubah ketika masyarakat pendukung tak mampu menyikapi dan mengelola segala perbedaan dan konflik yang ada menjadi “energi sosial” bagi pemenuhan kepentingan bersama.
Konflik sendiri sebagaimana dipaparkan di bagian lain tulisan ini, merupakan keniscayaan. Keberadaannya senantiasa mengiringi masyarakat plural. Hampir tidak mungkin sebuah masyarakat yang plural tak terlibat dan mengalami konflik. Konflik di sini memang tidak identik dengan kerusuhan dan pertikaian. Konflik bisa saja tidak muncul kepermukaan karena diredam sebagaimana selama ini efektif dimainkan oleh rezim pemerintah Orde Baru, tetapi keberadaannya tak akan hilang sama sekali. Jika keadaan memungkinkan konflik terselubung (hidden conflict) itu akan meledak seperti saat ini. Dengan kata lain, akibat ter­sumbatnya konflik secara tidak proporsional maka akan lahir konflik yang distruktif dan berpotensi disintegratif bagi kelangsungan sebuah bangsa. 
Jika pluralisme itu given, semen­tara konflik adalah sesuatu yang inhern  di dalamnya. Pertanyaan selanjutnya bagaimana mengelola pluralitas dan konflik  yang ada sehingga menjadi sebuah energi sosial bagi penciptaan tatanan bangsa yang lebih baik. Jawabannya tentu panjang dengan melibatkan pengkajian seluruh faktor yang ada. Akan tetapi terkait dengan kajian ini (memahami pluralitas),   ternyata menjaga kerukunan tidak cukup hanya memahami keanekaragaman yang ada di sekitar kita secara apatis dan pasif.  Memahami pluralisme meski melibat­kan sikap diri secara pluralis pula. Sebuah sikap penuh empati, jujur dan adil menempatkan kepelbagaian, perbedaan pada tempatnya, yaitu dengan menghomati, memahami dan mengakui eksistensi orang lain, sebagaimana menghormati dan mengakui eksistensi diri sendiri.
Demikian juga dalam menyikapi pluralisme beragama. Sikap yang seyogyanya dilakukan seseorang adalah dengan memahami dan menilai “yang” (agama) lain berdasarkan standar  mereka sendiri serta memberi peluang bagi mereka untuk mengartikulasikan keyakinannya secara bebas. Alwi Shihab memberi gabaran cukup baik dalam mengartikulasikan plu­ralisme agama. Menurutnya,  “Pluralisme agama adalah bahwa tiap pe­meluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak orang lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan per­samaan, guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan”[5]. Melalui pe­mahaman tentang pluralisme yang benar dengan diikuti upaya mewu­judkan kehidupan yang damai seperti inilah akan tercipta toleransi antar umat beragama di Indonesia.
Toleransi yang dimaksud tentu saja bukan toleransi negatif (negatif tolerance) sebagaimana yang dulu pernah dijalankan oleh pemerintah orde baru, tetapi toleransi yang benar adalah toleransi positif (positive tolerance). Sikap toleran yang disebut pertama adalah sikap toleransi semu dan penuh dengan kepura-puraan. Toleransi jenis pertama ini menganjurkan seseorang untuk tidak menonjolkan agamanya di hada­pan orang yang beragama lain. Jika Anda Kristen, maka jangan menon­jol-nonjolkan ke-Kristenan Anda di hadapan orang Muslim, demikian pula sebaliknya.  Sementara toleransi yang tersebut kedua adalah toleransi yang sesungguhnya, yang mengajak setiap umat beragama untuk jujur mengakui dan mengekspresikan keberagamaannya tanpa ditutup-tutupi. Dengan demikian identitas masing-masing umat beragama tidak tereliminasi, bahkan masing-masing agama dengan bebas dapat mengembangkannya.  Inilah toleransi yang dulu pernah dianjurkan oleh Kuntowijoyo.[6]
Meskipun konsep toleransi positif seperti di atas terbilang konsep lama, tetapi implemenetasinya bukanlah perkara mudah. Sebuah survey mutaakhir yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terhadap Sikap Komunitas Pendidikkan Islam dan Toleransi dan Pluralisme memperlihatkan beberapa gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Survey yang dilakukan di awal tahun 2006 ini secara umum menunjukkan bahwa komunitas pendidikkan Islam Indonesia memperlihatkan sikap kurang bahkan tidak toleran.[7] Hal ini bisa dilihat dari besarnya responden (85,7%) yang tidak setuju anggota keluarganya menikah dengan non-muslim, anggota keluarga boleh menikah dengan non muslim, asal masuk Islam lebih dulu (88%). Sementara terhadap  pertanyaan; dibanding umat lain, umat Islam adalah sebaik-baik umat  sebanyak 92,5% karenanya non-Islam harus masuk agama Islam (58,7%). Tidak boleh mengucapkan salam “assalamualaikum” dan selamat hari natal (“selamat natal”) kepada non-Muslim (73,5%) dan setiap Muslim berkewajiban mendakwahkan agamanya kepada orang-orang non muslim (73%).[8] Adanya fakta seperti ini tentu merupakan sesuatu sangat memprihatinkan karena hal ini terjadi di komunitas pendidikkan agama Islam. Artinya jika komunitas pendidikkan saja -sebagai bagian dari transmisi ajaran Islam- menunjukkan sikap demikian, maka bisa dibayangkan bagaimana dengan komunitas awam.

2.      Gender
Pengertian Gender
Gender  berasal dari bahasa inggris yang berarti “jenis kelamin”(John M.echlos dan Hasan Sadhily, 1983:256). Secara  umum  gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari tingkah lakunya[9]. Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa genjer adalah suatu konsep kultural yang berkembang di masyarakat yang berupaya membuat perbedaan peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut sudah lama melekat dalam pandangan umum masyarakat sehingga melahirkan anggapan bahwa perbedaan peran tersebut sebagai sesuatu bersifat kodrati dan telah menimbulkan ketimpangan pola hubungan dan peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Konsep budaya yang telah dianggap sebagai sesuatu yang kodrati  tersebut dapat dilihat pada anggapan umum, misalnya, bahwa perempuan identik dengan urusan rumah tangga semata, sedangkan laki-laki sebaliknya identik dengan pengelola dan penanggung jawab urusan ekonomi.
Ketimpangan tersebut terjadi karena adanya aturan, tradisi, dan hubungan timbal balik yang menentukan batas antara feminitas dan maskulinitas sehingga mengakibatkan adanya pembagian peran, dan kekuasaan antara perempuan dabn laki-laki. Dalam kehidupan sosial misalnya, berkembangan anggapan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan,karena laki-laki dianggap lebih cerdas, kuat, dan tidak emosional. Semua anggapan superioritas laki-laki tidak lain merupakan produk budaya belaka. Produk atau konstruk budaya tentang gender tersebut telah melahirkan ketidakadilan gender.
Ketidakadilan gender dapat dilihat dalam berbagai bentuk:
1)  Marginalisasi perempuan, yakni pengucilan  perempuan dari kepemilikan akses, fasilitas, dan kesempatan sebagaimana dimiliki oleh laki-laki. Misalnya kesempatan perempuan untuk meneruskan   sekolah ke jenjang lebih tinggi cenderung lebih kecil ketimbang laki-laki.Di sektor  pekerjaan, marginalisasi ini biasanya ditemukan dalam bentuk pengucilan perempuan dari jenis pekerjaan tertentu; peminggiran perempuan kepada jenis pekerjaan yang tidak stabil, berupah rendah, dan kurang mengandung keterampilan; pemusatan  perempuan pada jenis pekerjaan tertentu (feminisasi pekerjaan), dan pembedaan upah perempuan.
2)   Penempatan perempuan pada posisi tersubordinasi, yakni menempatkan perempuan pada prioritas yang lebih rendah ketimbang laki-laki. Kasus seperti ini kerap terjadi dalam hal pekerjaan, sehingga perempuan sulit memperoleh kesempatan mendapatkan posisi yang  sejajar dengan laki-laki.
3)    Stereotipisasi perempuan, yakni percitraan atas perempuan yang berkonotasi negatif. Dalam banyak kasus pelecehan seksual, misalnya perempuan sering kali dijadikan penyebab karena pencitraan mereka yang suka bersolek dan penggoda.
4)   Kekerasan terhadap perempuan, kekerasan ini timbul akibat anggapan umum bahwa laki-laki pemegang supremasi dan dominasi atas semua sektor kehidupan. 
5)   Beban kerja yang proporsional, pandangan bahwa perempuan sebagai makhluk Tuhan kelas dua yang dibentuk oleh dominasi laki-laki pada akhirnya memarginalkan peran perempuan yang seharusnya diperlukan oleh manusia yang memiliki hak dan kewajiban. Pandangan ini tidak saja meminggirkan peran perempuan tetapi juga ketidakadilan beban kerja atas perempuan : selain  menjalani fungsi reproduksi seperti hamil, melahirkan, dan menyusui, perempuan juga dibebani pekerjaan domestik lainnya seperti memasak, mengurus keluarga, dan sebagainya. 

Dalam wacana hubungan Islam dan  kesetaraan Gender perempuan, Islam  memandang perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti laki-laki. Kualitas manusia dalam Islam terletak pada prestasi seseorang  mengenal perbedaan jenis kelamin. Kedudukan laki-laki    dan perempuan adalah sama dihadapan Allah (QS.4: 3). Islam mengakui kedudukan antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Keduanya diciptaka dari satu nafs (living entity), dimana yang satu tidak memiliki keunggulan atas yang lain.
Perbedaan jenis kelamin bukanlah dasar untuk berbuat ketidakadilan gender. Pandangan-pandangan yang mengandung bias negatif terhadap perempuan, dan sering dinilai sebagai pandangan ajaran islam, adalah tidak lain bersumber dari budaya patriak yang menempatkan posisi sosial-politik laki-laki diatas perempuan, yang kemudian menjadi tafsir keagamaan yang dijadikan legimitasi untuk mendominasi atas peran perempuan. Dalam sejarah pemikiran Islam, pandangan patriaki banyak dijumpai dalam khazanah hukum Islam (fikih). Reorientasi pemahaman agama (Islam) harus dilakukan  supaya dapat menempatkan kedudukan dan peran perempuan pada proporsi  benar. [10]
Gender tidak bersifat universal, tetapi hirearki gender dapat dikatakan universal, oleh karena subordinasi perempuan tidak dapat dijelaskan dengan perbedaan jenis kelamin, maka kemudian lahirlah konsep gender secara garis besar. Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan hirearki gender dapat dibagi menjadi empat kelompok yaitu:
1)    Teori adaptasi awal
Teori adaptasi awal menyatakan bahwa adaptasi awal manusia merupakan awal dibangun berdasarkan asumsi sebagai berikut :
·    Berburu sangat penting bagi kelangsungan hidup nenek moyang kita.
·    Laki-lakilah yang hampir selalu melakukan kegiatan berburu.
·    Perempuan tergantung pada laki-laki untuk mendapatkan daging.
·    Laki-laki berbagi daging buruannya terutama dengan isterinya dan anak-anaknya.
·    Sekali pola pembagian peran berdasarkan jenis kelamin itu terbentuk, tidak  berubah hingga sekarang.
2)    Teori teknik lingkungan
Teori ini berdasarkan pada apa yang dianggap sebagai hukum alam, yaitu kelangkaan sumber daya dan tekanan penduduk. Teori ini menjelaskan bahwa upaya untuk mengontrol pertumbuhan penduduk telah menjadi masalah sejak dulu, dalam konteks ini subordinasi perempuan berakar pada peran reproduktif mereka.
3)    Teori  sosiobiologi
Menurut teori ini laki-laki muncul akibat  seleksi alam terutama ketahanan tubuh.
4)    Teori sruktural
Teori ini dibangun berdasarkan asumsi bahwa subordinasi perempuan adalah kultural sekaligus Universal. Salah satu kelompok teori yang masuk golongan struktural ini beranggapan bahwa perempuan mempunyai status yang lebih rendah dan otoritas yang lebih sedikit daripada laki-laki. Dengan demikian status relatif perempuan tergantung pada derajat keterlibatan mereka dalam arena publik   dan partisipasi laki-laki dalam arena domestik. Kelompok lain dari teori struktural berpendapat bahwa subordinasi itu struktural, akan tetapi ia berakar pada pembagian kerja berdasarkan gender.pembagian kerja ini bersumber pada asosiasi simbolik yang universal  antara perempuan dengan alam dan laki-laki dengan budaya.

[1] Sumber:http://definisi-pengertian blogspot.com//2010/05/pengertian-gender html
[2] Kamaruddin Hidayat dan Azyumardi Azra, “Pendidikan Kewarganegaraan (civic education). op.cit .hlm. 200.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Polemik_pluralisme_di_Indonesia (diakses , Kamis, 02 Agustus 2012 , 15. 25)
[4] Syafa’atun Elmirzanah, et. al., Pluralisme, Konflik dan Perdamaian Studi Bersama Antar Iman, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm, 7.
[5] Alwi Shihab, Islam…,340
[6] Bachtiar Effendi, “Menyoal Pluralisme di Indonesia” dalam Living Together in Plural Societies; Pengalaman Indonesia Inggris,  ed. Raja Juli Antoni (Yogyakarta: Pustaka Perlajar, 2002), 239-249.
[7] Lihat “Kekerasan Keagamaan di Kalangan Muslim: Mempertimbangkan Faktor Pendidikkan” dalam Buletin Islam & Good Governance, Edisi XIII, September (Jakarta, PPIM UIN Jakarta, 2006), 1 – 8.
[8] Ibid.
[9] Sumber:http://definisi-pengertian blogspot.com//2010/05/pengertian-gender html
[10]A.Ubaedillah dan Abdul Rozak, “Pendidkan Kewarganegaraan : Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani” ,(Jakarta: Prenada Media Group, 2008)  hlm.127-129.