Motto

Hidup adalah pembelajaran tak kenal henti....

Rabu, 18 Januari 2012

HEREDITAS DAN LINGKUNGAN DALAM PROSES PERKEMBANGAN

A.    Latar belakang
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Ini berarti, bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan/pemidahan dari cairan-cairan “germinal” (awal perkembangan) dari pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkungan pisis, psikologi, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari pada hereditas dan lingkungan. Agar kita dapat mengerti dan mengontrol perkembangan tingkah laku manusia, kita hendak mengetahui hakikat dan peranan dari masing-masing (hereditas dan lingkungan).
B.    Rumusan Masalah
Dalam pembahasan materi ini, dan agar tersusun secara sistematis dan efisien, maka timbulah bebrapa rumusan masalah, yang diantaranya :
1.    Apakah Pengertian Hereditas dan lingkungan ?
2.    Apa saja Fungsi Hereditas dan lingkungan ?
3.    Apa Hubungan antara Hereditas dan lingkungan ?

C.    Tujuan dan Manfaat
Dalam membahas materi ini, tujuan yang dapat diambil adalah :
1.    Untuk mengetahui tentang hereditas dan lingkungan.
2.    Untuk mengetahui pengaruh  hereditas terhadap perkembangan individu.
3.    Untuk mengetahui pengaruh lingkunan terhadap perkembangan individu.
4.    Untuk mengetahui hubungan antara hereditas dan lingkungan.
Manfaat yang dapat diambil dalam pembahasan ini adalah :
1.    Agar kita dapat memahami tentang hereditas dan lingkungan.
2.    Agar kita memahami pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap anak.

Pada kesempatan ini akan dibahas tentang “ Bagaimana pengaruh  heriditas dan lingkungan itu dalam proses perkembangan ”. Dalam hubungan ini ada tiga teori  yang terkenal yang membahas masalah pengaruh hereditas (pembawaan) dan lingkungan dalam perkembangan manusia.
1.    Tiga Aliran Dalam Proses Perkembangan
Pertama, aliran atau teori “nativisme” dengan tokoh utamanya adalah Schopenhauer dan tokoh lainnya yang termasuk aliran ini adalah Plato, Descartes, Lombroso. Menurut pendapat ini yang paling ekstrem menyatakan bahwa perkembangan manusia itu sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor pembawaan atau faktor-faktor yang dibawa sejak lahir.
Para ahli yang berpendirian nativis biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya. Misalnya kalau orang tuanya pemusik kemungkinan nanti anaknya menjadi pemusik., kalau orang tuanya pelukis kemungkinan anaknya nanti akan jadi pelukis,demikian juga kalau orang tuanya ahli matematika maka kemungkinan anaknya jadi ahli matematika. Jadi kondisi keahlian dan kemampuan orang tuanya juga diwarisi anaknya.
Dengan demikian faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa dalam mempengaruhi perrkembangan seseorang. Dalam ilmu pendidikan aliran ini dikenal sebagai  aliran “ Pedagogik Pesimisme” yaitu pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh penndidikan.
Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya, misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat, organisasi dan lain-lain.
Kedua, aliran “empirisme”. Paham empirisme ini tokoh utamanya adalah John Locke. Teori ini secara ekstrem menekankan kepada pengaruh lingkungan. Menurut teori ini lingkunganlah yang menjadi penentu perkembangan seseoarang. Baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau pendidikan
Jadi teori ini menganggap faktor pembawaan tidak berperan sama sekali terhadap perkembangan manusia. Menurut pendapat kaum empiris, lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang. Oleh karena itu, dalam ilmu pendidikan aliran ini disebut dengan aliran pendidikan “ Pedagogik Optimisme” artinya pendidikan maha kuasa untuk membentuk atau mengembangkan pribadi seseorang.
Permasalahanya adalah apakah pendidikan atau lingkungan dapat dengan sepenuhnya mempengaruhi perkembangan anak. Sebagai contoh di dalam sebuah sekolah yang sama, di kelas yang sama, dan guru yang sama, kita menemukan tingkat pemahaman anak terhadap pelajaran itu berbeda-beda. Ada anak yang cepat paham, ada anak yang lambat dalam pemahamannya, bahkan ada juga anak yang  sulit sekali dalam memahami pelajaran. Hal ini menunjukan bahwa faktor lingkungan bukan satu-satunya yang mempengaruhi dalam perkembangan anak.
Ketiga, teori “konvergensi” yaitu teori yang menjembatani atau menengahi kedua teori/paham sebelumnya bersifat ekstrem yaitu teori nativisme dan teori empirisme.
Sesuai dengan namanya konvergensi yang artinya perpaduan, maka teori ini tidak memihak bahkan memadukan  pengaruh kedua unsur  pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan. Pada teori ini baik unsur pembawaan maupun unsur linkungan keduanya merupakan sama-sama faktor yang dominan pengaruhnya bagi peerkembangan seseorang. Misalnya seseorang yang berbakat musik tidak akan berkembang menjadi seorang ahli musik apabila tidak ditunjang oleh lingkungan atau pendidikan yang memadai.
Teori yang ketiga inilah yang  sampai sekarang masih teruji dan dipertahankan kebenaran pendapatnya. Teori menggambarkan bagaimana hubungan yang berimbang antara faktor warisan orang tua dengan lingkungan dalam mempengaruhi perkembagan seseorang. Ada suatu keselarasan antara bakat dan pendidikan. Sehebat apapun bakat seseorang tanpa adanya latihan tidak akan berkembang, begitupun sebaliknya.
2.    Pengertian dan Fungsi Pembawaan
Istilah lain dari pembawaan adalah hereditas atau heredity. Heredity diartikan oleh para ahli sebagai berikut:
a.    Menurut Siverstone:
“ The term heredity is used to decribe those characteristics and growth patterns that are biologically transmitted from parent to child”

b.    Menurut Dennis Coon:
“ Heredity of transmission of physical and physilogical characteristics from to offspring through genes”

Berdasarkan uraian atau definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa:
a)  Hereditas adalah pewarisan sifat-sifat fisik dan psikologi serta pola-pola pertumbuhan lainnya yang secara biologis diwarisi oleh setiap anak dari orang tuanya melalui prises genetis.
b)   Hereditas itu akan membentuk perkembangan dengan memberikan/menyediakan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinannya yang akan diwujudkan melalui proses belajar dengan ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan.

Hereditas dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya. Hereditas pada individu berupa warisan yang berasal dari kedua orang tuanya. Ini terjadi di dalam krosmosom-kromosom. Baik dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu berinterkasi membentuk pasangan-pasangan. Dua anggota dari masing-masing pasangan memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Pasangan kromosom di mana dalam masing-masing kromosom terdapat sejumlah “genes” dan masing-masing “genis” memiliki sifat tertentu, membentuk persenyawaan “genes” yang demikian menjalin senyawa sifat-sifat “genes”.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembawaan ialah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika ia lahir merupakan warisan dari orang tuanya.

Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah mengetahui salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang adalah pembawaan (hereditas) misalnya bakat yang diwariskan orang tua kepada anak.

Menurut sejarah pengenalan usaha pengenalan  bakat itu mula-mula  terjadi pada bidang kerja, tetapi kemudian juga dalm bidang pendidikan. Bahkan dewasa ini dalam bidang pendidikanlah usaha yang paling banyak dilakukan.

Sebenarnya setiap bidang studi atau bidang kerja dibutuhkan berfungsinya lebih dari satu bakat saja. Bermacam-macam faktor mungkin dibutuhkan berfungsinya untuk suatu lapangan studi atau kerja tertentu.

Unsur-unsur pembawaan yang berupa potensi-potensi fisik dan mental psikologis itu dalam proses perkembangannya akan berfungsi sebagai faktor dasar atau faktor bahan yang akan mempengaruhi proses perkembangan. Dalam setiap proses perkembangan itu diperlukan bahan dasar sebab tanpa bahan dasar itu maka pertumbuhan fisik atau perkembangan mental anak tidak akan terjadi. Tentunya makin baik potensi kondisi pembawaan sebagai faktor dasar  maka dapat diharapkan akan baik pula perkembangan yang akan terjadi, dan sebaliknya.
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan satu heriditas tertentu. Ini berarti karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan atau pemindahan cairan-cairan  “germina  “ dari  pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkuntgan  pisis, psikologis, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari dari para heriditas dan lingkungan.

3.     Pengertian Belajar serta Pengaruh Genetika Terhadapnya
Menurut Slameto (2003:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.
Menurut Cronbach dalam Djamarah (2002:13) belajar sebagai usaha aktifitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Menurut Djamarah (2002:13) belajar juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan.Tentu saja perubahan yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan yang baru. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah perubahan yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya. .(Muhibbin Syah,hal 63)
Proses belajar anak dapat melalui beragam cara, semua tergantung kepada sifat yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya dan lingkungan pun berperan penting dalam hal ini. namun dalam materi ini, hanya menjelaskan tentang ketergantungan proses belajar dalam pengaruh genetik.

4.    Pengertian lingkungan
Lingkungan sering diartikan orang secara sempit dengan milien atau alam sekitar. Dalam psikologi, lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu. Dengan demikian lingkungan dapat diartikan dengan segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar diri individu yang bersifat mempengaruhi sikap tingkah laku atau perkembangannya.

Lingkungan juga terbagi menjadi tiga, yaitu :
1.    Lingkungan Dalam, meliputi gizi, peredaran darah, seks, suhu, kesehatan, dll
2.    Lingkungan Alam, meliputi iklim, geografis, waktu pagi,siang, dan malam.
3.    Lingkungan Sosial, meliputi keluarga, masyarakat, teman, dan organisasi.

Lingkungan dapat diartikan juga secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sisio-kultural.
1.    Secara fisiologis lingkungan diartikan yaitu meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh manusia.
2.    Secara psikologis lingkungan diartikan yaitu mencakup segenap stimulus (perangsan) yang diterima oleh individu sejak individu itu dilahirkan sampai mati.
3.    Secara sosio-kultural lingkungan diartikan yaitu mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain.

Fungsi lingkungan atau peranan lingkungan ini dalam proses perkembangan dapat dikatakan sebagai faktor ajar, yaitu faktor yang akan mempengaruhi perwujudan suatu potensi secara baik atau tidak baik sebab pengaruh lingkungan dalam hal ini dapat bersifat positif yang berarti pengaruhnya baik dan sangat menunjang perkembangan suatu petensi atau bersifat negatif yaitu pengaruh lingkungan itu tidak baik dan akan menghambat/merusak perkembangan individu.

5.    Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan
Lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan fisik. Sejak induvidu berada dalam konsepsi, lingkungan telah ikut memberi andil bagi proses pertumbuhan/pembuahan. Suhu, makanan, keadaan gizi, vitamin, mineral, kesehatan jasmani, aktivitas dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Klafikasi tingkah laku manusia dapat diadakan, terdiri atas empat macam, yakni :
1.    Insting; aktivitas yang hanya menuruti kodrat dan tidak melalui belajar.
2.    Habits; kebiasaan yang dihasilkan dari latihan atau aktivitas yang berulang-ulang.
3.    Native behavior; (tingkah laku pembawaan, mengikuti mekanisme hereditas).
4.    Acquired behavior; tingkah laku yang didapat sebagai hasil dari belajar.
Ada 2 cara menggunakan lingkungan sebagai sumber pangajaran/belajar.
1.    Membawa peserta didik dalam lingkungan dan masyarakat untuk keperluan pelajaran.( karyawisata, school camping, dan survei).
2.    Membawa sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas pengajaran untuk kepentingan pelajaran (seperti pameran atau koleksi).
Usaha-usaha lain yang dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip lingkungan di antaranya adalah :
  • Memberi pengetahuan tentang lingkungan peserta didik.
  • Mengusahakan agar alat yang digunakan berasal dari lingkungan yang dikumpulkan baik oleh guru maupun peserta didik.
  • Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melaksanakan penyelidikan sesuai dengan kemampuannya melalui bacaan-bacaan dan observasi, kemudian mengekspresikan hasil penemuannya dalam bentuk percakapan, karangan, gambar, pameran, perayaan, dan sebagainya.

Jadi jelaslah bahwa hereditas dan lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, tetapi merupakan dua unsur yang saling melengkapi bagi perkembangan individu dan kedua-duanya sama-sama pentingnya.
Walau setiap setiap sifat dan ciri manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan hereditas tidak selalu sama. Pengaruh hereditas dan lingkungan tidak selalu tetap, tetapi paling tidak tergantung pada tiga variabel:
Pertama,sifat yang ada. Yaitu sifat yang dimiliki oleh individu itu sebelum terpengaruh oleh lingkungan. Sifat yang sudah ada yang melekat pada diri individu itu. Misalnya pemalu, pemaaf, dan lain-lain.
Kedua, sifat lingkungan. Sifat yang dimiliki lingkungan itu. Misalnya lingkungan yang bersifat agamis.
Ketiga,intensitas lingkungan. Keadaan tingkatan atau ukuran suatu daerah dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. Misalnya seberapa besar lingkungan yang baik mengubah atau mempengaruhi sifat perbuatan seseorang menjadi baik.

A.Kesimpulan
    Dari uraian-uraian diatas maka dapat diambil pokok- pokok sebagai berikut:
    Hereditas merupakan pewarisan sifat-sifat atau ciri-ciri dari orang tua kepada anaknya, menurut teori nativis perkembangan seseorang hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan saja, pendapat ini kemudian dibantah oleh teori empiris, menurut mereka lingkunganlah yang membentuk perkembangan seseorang. Kemudian muncullah teori konvergensi yang menggabungkan kedua teori tersebut, teori ini menyebutkan bahwa faktor lingkungan dan faktor keturunan sama-sama berpengaruh dalam perkembangan seseorang.
    Pembawaan merupakan istialah lain dari heriditas yang dapat diartikan sebagai  pewarisan sifat-sifat fisik maupun psikologis melalui sarana genetik. Pembawaan merupakan  seluruh kemungkinan- kemungkinan atau potensi-potensi yang ada pada individu yang selama masa perkembangannya benar-benar  dapat diwujudkan,misalnya  melalui proses pembelajaran
    Sedanghkan lingkungan merupakan hal-hal diluar diri seseorang yang dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan orang tersebut, baik berupa benda, orang lain, keadaan dan peristiwa disekitar yang langsung maupun tidak langsung dan secara sengaja maupun tidak sengaja.
    Jadi, pembawaan dan lingkungan bisa saling melengkapi, misalkan pembawaannya kurang baik, dengan dorongan lingkungan maka seseorang akan dapat berkembang secara maksimal. 

Daftar Pustaka
  • Sabri,M. Alisuf.1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya.
  • Soemanto,Wasty.1990.Psikologi Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.
  • Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta:PT. Raja Grafindo.
  • Rohani, Ahmad.2004. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  • Mustaqim, Abdul Wahid.Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  • http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18213/4/Chapter%20II.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...